Dari Pemujaan ke Pengadilan: Nasib Guru di Era Modern

beranda, Headline189 views

 

Oleh: A. Rahman

Minggu ini dunia pendidikan kembali dihebohkan oleh kasus perseteruan antara kepala sekolah dan murid yang merokok di kelas. Kasus ini menimbulkan pro dan kontra publik karena sebagian masyarakat menilai tindakan kepala sekolah sudah “benar” demi menyelamatkan institusi sekolah dari kerusakan moral. Sedangkan bagi masyarakat yang kontra, tindakan kepala sekolah terlalu berlebihan, karena bagaimanapun tidak boleh ada tindak kekerasan di dunia pendidikan.

Perdebatan publik terkait perilaku guru kini menjadi sesuatu yang lumrah dan mudah viral. Dulu, guru dipandang sebagai sumber cahaya pengetahuan. Kini, satu video viral bisa membawanya ke ruang sidang. Dulu guru dipandang sebagai figur sakral, karena melalui merekalah ilmu pengetahuan disalurkan. Selain itu guru juga berperan sebagai orang tua kedua di sekolah, yang membimbing, menanamkan moral, dan mewariskan budaya. Maka penghormatan kepada guru merupakan syarat mutlak. Tapi kini profesi guru seperti profesi lainnya di negeri ini. Setiap guru kini mudah untuk dikritik, entah secara langsung maupun melalui media sosial. Bahkan tak jarang kini perilaku guru saat mendidik di sekolah bisa menggiringnya sebagai pesakitan ke meja hijau.

Pertanyaannya: Apa sebenarnya yang berubah? Bagaimana kita memahami ini secara sosiologis?

Fenomena yang kita temui saat ini dapat dibedah melalui tiga teori sosiologi, yaitu habitus, peran sosial, dan modernisasi. Menurut Bourdieu, masyarakat saat ini telah mengalami pergeseran habitus. Dulu habitus masyarakat menilai guru sebagai otoritas moral dan sumber ilmu pengetahuan. Dulu guru merupakan sosok pemberi petunjuk dan terkadang memberikan keputusan terkait benar dan salah. Kini habitus masyarakat telah bergeser menjadi lebih kritis, egaliter, dan berorientasi pada hak individu. Dengan perubahan ini, maka peran guru sangat mungkin untuk mendapat kritik.

Menurut Parsons, dalam teori peran sosial menjelaskan bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki ekspektasi. Ketika peran guru berubah dari “pemegang otoritas” menjadi “penyedia layanan pendidikan”, maka setiap tindakan guru yang tidak sesuai ekspektasi akan mendatangkan kritik baginya. Komersialisasi pendidikan membuat akses pada pendidikan menjadi mahal, sehingga masyarakat perlu berbagai usaha untuk memperolehnya. Masyarakat yang telah membeli layanan pendidikan akan merasa berhak untuk mengkritik produk yang telah mereka beli tersebut.

Sedangkan menurut Weber, dalam teori modernisasi menjelaskan bahwa masyarakat modern cenderung lebih rasional dan birokratis. Masyarakat modern memandang guru sebagai sosok manusia pada umumnya, yang tidak lagi memiliki embel-embel “kesaktian”, “karomah”, “berkah” atau sejenisnya. Maka dalam pandangan masyarakat modern, guru adalah individu yang setara dengan individu lainnya. Guru juga tak lebih merupakan bagian dari sistem, yang ketika sistem itu tidak bekerja dengan baik maka ia bisa dikritik dan dievaluasi.

Berdasarkan pada teori-teori tersebut, kita bisa melihat bahwa ada perubahan paradigma terhadap cara masyarakat modern memandang guru. Masalah ini bukan terkait degradasi moral semata, tapi juga merupakan cerminan dari dinamika sosial yang kompleks. Bagi guru, tantangannya sekarang adalah bagaimana untuk tetap dihormati bukan karena posisi sakral, tapi karena kompetensi, integritas dan relevansi sosial. Sedangkan masyarakat perlu mendukung profesi guru sebagai mitra pendidikan, bukan hanya sebagai pelayan dari harapan ideal anak-anak.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *