BOGORONLINE.com – Kondisi tubuh yang menurun menjelang akhir bulan Ramadhan kerap menjadi kendala bagi umat Islam dalam meningkatkan ibadah, terutama di sepuluh malam terakhir. Namun, sejumlah ulama menyebut bahwa sakit di masa tersebut justru dapat menjadi pertanda kebaikan dan kesempatan meraih pahala.
Menjelang berakhirnya Ramadhan, umat Islam umumnya meningkatkan intensitas ibadah untuk meraih keutamaan malam-malam terakhir, termasuk peluang mendapatkan Lailatul Qadar. Di tengah semangat tersebut, tidak sedikit yang justru mengalami gangguan kesehatan.
Ulama almarhum Syekh Ali Jaber pernah menyampaikan bahwa sakit di bulan suci, khususnya pada fase akhir Ramadhan, mengandung hikmah besar bagi seorang muslim. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut dapat menjadi jalan dikabulkannya doa dan diampuninya dosa.
“Orang yang sakit di bulan Ramadhan memiliki peluang besar untuk mendapatkan pengabulan doa dan penghapusan dosa,” ujarnya.
Menurutnya, saat seseorang sakit, fokus untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah cenderung meningkat. Hal ini dinilai sebagai momentum spiritual yang dapat menghadirkan ketenangan batin sekaligus memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
Selain itu, terdapat tiga keutamaan bagi orang yang sakit di akhir Ramadhan. Pertama, doa lebih mudah dikabulkan. Kedua, dosa-dosa diampuni. Ketiga, pahala amal tetap mengalir meski ibadah tidak dilakukan secara maksimal.
Hal tersebut sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Al-Hakim:
“Setiap kali orang mukmin tertimpa suatu rasa sakit, pasti dengannya Allah mencatat baginya satu pahala, menghapus satu dosa, dan meninggikan satu derajat.”
Pandangan serupa juga disampaikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam karyanya Uddat ash-Shabirin. Ia menjelaskan bahwa kesabaran dalam menghadapi sakit merupakan amal saleh yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Tidak hanya itu, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa penyakit yang menimpa seorang muslim dapat menggugurkan dosa-dosanya, “bagaikan daun-daun yang jatuh dari pohon.”
Meski memiliki nilai spiritual, menjaga kesehatan tetap menjadi hal penting agar ibadah dapat dilakukan secara optimal. Beberapa langkah sederhana yang dianjurkan antara lain menjaga pola makan saat sahur dan berbuka, memperbanyak konsumsi air putih, serta menghindari makanan berlemak dan berlebihan.
Selain itu, istirahat yang cukup juga diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh. Kualitas tidur yang baik membantu sistem imun bekerja lebih efektif, terutama di tengah aktivitas ibadah yang padat.
Dalam kondisi sakit, ibadah tetap dapat dilakukan sesuai kemampuan, seperti berdoa, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an dengan cara yang ringan.
Dengan demikian, sakit di akhir Ramadhan tidak semata menjadi hambatan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai ujian yang sarat hikmah. Selain sebagai pengingat untuk menjaga kesehatan, kondisi tersebut juga membuka peluang meraih ampunan dan pahala di momen paling istimewa dalam bulan suci.





