BOGORONLINE.com – IPB University menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, termasuk pelecehan seksual. Komitmen itu diwujudkan melalui pelibatan mahasiswa dalam proses penanganan dugaan kasus guna memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menegaskan kampus tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan seksual dalam kondisi apa pun.
“Kami tidak mentoleransi dan menormalisasi segala bentuk kekerasan seksual dalam kondisi apapun. IPB University berkomitmen penuh untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kasus secara sistematis, memastikan setiap proses berjalan transparan, akuntabel, dan partisipatif dengan melibatkan unsur mahasiswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kampus berpihak kepada korban dengan memastikan perlindungan, pemulihan, serta pemenuhan hak-haknya.
“Kami berdiri bersama korban—melindungi, memulihkan, dan memastikan hak-haknya terpenuhi tanpa kompromi. Kampus harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi seluruh sivitas akademika,” katanya.
Selain penegakan aturan, IPB University juga mengedepankan pendekatan dialogis bersama mahasiswa sebagai bagian dari penyelesaian kasus yang menyeluruh dan berkeadilan.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, dialog antara pimpinan IPB University dan mahasiswa digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Jumat (17/4/2026). Ratusan mahasiswa menghadiri kegiatan tersebut. Pihak kampus menyebut forum serupa sebelumnya juga telah dilakukan dalam berbagai kesempatan.
Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr Alfian Helmi, mengatakan keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam penanganan kasus.
“Sebagai institusi pendidikan, IPB University menyadari pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam proses penanganan kasus, baik sebagai pihak yang terdampak maupun sebagai bagian dari komunitas kampus. Pelibatan partisipasi mahasiswa ini merupakan bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas,” jelasnya.
Menurut dia, komunikasi dan koordinasi dilakukan bersama organisasi serta perwakilan mahasiswa agar proses berjalan terbuka, adil, dan menjaga kepercayaan publik terhadap institusi.
Ia menjelaskan, dialog tersebut bertujuan membangun transparansi dalam penanganan kasus, memberi ruang aman bagi mahasiswa menyampaikan pandangan, memperkuat kepercayaan antara mahasiswa dan kampus, serta menghimpun masukan untuk penyempurnaan kebijakan ke depan.
“IPB University juga memastikan bahwa setiap laporan ditangani secara profesional, berlandaskan prinsip kerahasiaan, perlindungan korban, serta keadilan bagi semua pihak. Unit dan mekanisme yang telah dibentuk di lingkungan kampus terus diperkuat guna menjamin respons yang cepat, tepat, dan sensitif terhadap korban,” katanya.
Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB University, Muhammad Abdan Rofi, mengapresiasi langkah kampus yang membuka ruang dialog langsung dengan mahasiswa.
“Dari saya sangat bersyukur, kami dapat difasilitasi untuk bertemu langsung dengan para pemangku kebijakan, termasuk pimpinan rektorat yang memiliki kewenangan penuh. Dalam pertemuan ini, tidak hanya dibahas aspek teknis, tetapi juga hingga pada penyusunan regulasi,” ujarnya.
Menurut Abdan, sejumlah poin tuntutan mahasiswa mulai dari regulasi, aturan hukum, prosedur, hingga teknis pelaksanaan telah disepakati bersama pimpinan rektorat.
Ia berharap kolaborasi antara mahasiswa dan institusi terus diperkuat untuk menciptakan ruang kampus yang aman dan inklusif.
“Harapannya hasil dari audiensi terbuka ini, kita sama-sama bisa menjadi co-creator, untuk bisa mewujudkan ruang yang aman ini, bukan hanya diwujudkan dari institusi saja, tapi juga ada keterlibatan mahasiswa,” tambahnya.





