Warga Keluhkan Empat Titik Proyek “Siluman” di Jalan Raya Narogong Bogor: Pengecoran Asal-Asalan Dan Membahayakan

bogorOnline.com-KLAPANUNGGAL
Pelaksanaan proyek rehabilitasi jalan di koridor utama Jalan Raya Narogong, Provinsi Jawa Barat, yang melintasi wilayah Kabupaten Bogor, memicu polemik dan protes keras dari masyarakat. Proyek pembangunan infrastruktur jalan yang tersebar di empat titik strategis tersebut dituding sebagai “proyek siluman” karena dikerjakan secara asal-asalan tanpa mengindahkan asas transparansi publik.

​Berdasarkan hasil investigasi dan penelusuran lapangan oleh tim bogorOnline.com, aktivitas pengerjaan jalan yang menuai sorotan tajam ini membentang di empat wilayah desa dan kecamatan yang menjadi urat nadi logistik di Kabupaten Bogor, meliputi:

​Desa Gunung Putri (Kecamatan Gunung Putri)

​Desa Nambo (Kecamatan Klapanunggal)

​Desa Dayeuh (Kecamatan Cileungsi)

​Desa Cileungsi (Kecamatan Cileungsi)

​Kondisi di keempat titik tersebut menunjukkan pola yang sama: pengerjaan fisik yang terkesan dipaksakan, berantakan, dan minim pengawasan dari dinas terkait.

Tanpa Papan Proyek, Tabrak Aturan Keterbukaan Informasi

​Sorotan utama yang membuat warga meradang adalah tidak adanya papan informasi kegiatan di seluruh lokasi pengerjaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) serta regulasi mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah, setiap proyek yang didanai oleh uang rakyat wajib memajang papan nama informasi secara jelas.

​Namun, di sepanjang Jalan Raya Narogong yang sedang diperbaiki tersebut, tidak ditemukan satu pun papan informasi yang memuat detail krusial, seperti:

​Identitas Jelas: Instansi atau dinas kedinasan Provinsi Jawa Barat yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.

​Legalitas dan Anggaran: Nama paket pekerjaan, nomor kontrak, serta nilai nominal anggaran yang digunakan.

​Spesifikasi: Jumlah volume pengerjaan jalan yang harus diselesaikan.

​Target Waktu: Batas waktu dan durasi masa pelaksanaan proyek.

​Pelaksana Lapangan: Nama perusahaan penyedia jasa (kontraktor pelaksana) serta badan konsultan pengawas yang bertanggung jawab atas mutu proyek.

​Ketiadaan informasi ini memicu dugaan kuat di kalangan masyarakat bahwa proyek ini sengaja disembunyikan dari pengawasan publik guna menghindari koreksi atas kualitas kerja yang buruk.

Pengecoran Terbengkalai dan Mengancam Keselamatan Pengendara

​Dampak dari pengerjaan yang dinilai asal-asalan ini langsung dirasakan oleh para pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua. Jalur Narogong yang dikenal sebagai jalur padat truk-truk bertonase besar kini menjadi semakin rawan kecelakaan akibat sisa pemeliharaan jalan yang ditinggalkan begitu saja.

​Gunawan, salah seorang pengendara sepeda motor yang setiap hari melintasi jalur tersebut, meluapkan kekesalannya saat ditemui oleh wartawan di lokasi proyek. Ia mengkritik keras kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pihak kontraktor yang dinilai tidak bertanggung jawab.

​”Gimana ini pekerjaan jalan oleh Jabar, tidak terbuka dan ngasal. Pengecoran terlihat belum selesai, ada celah dan patahan menganga pada bagian tengah jalan, namun sudah ditinggal begitu saja tanpa ada tanda pengaman,” ujar Gunawan dengan nada kesal saat melintas Kamis (04/06/06)

​Gunawan menambahkan, celah di bagian tengah hasil pengecoran yang belum rampung tersebut sangat berbahaya, terutama pada malam hari atau saat hujan turun, karena dapat membuat ban motor terselip dan memicu kecelakaan fatal.

Tuntutan Evaluasi Total

​Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi maupun klarifikasi dari pihak UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan I Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat, selaku instansi yang berwenang atas jalur provinsi tersebut. Pihak kontraktor pelaksana pun seolah “kucing-kucingan” dan tidak dapat ditemui di lokasi.

​Warga dan para pengguna jalan mendesak Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat dan dinas terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Masyarakat menuntut adanya evaluasi total terhadap kontraktor yang mengerjakan empat titik jalan tersebut, serta meminta agar transparansi proyek ditegakkan demi keselamatan warga Kabupaten Bogor.(rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *