Ditengah Pandemi Covid 19, Pelajar ABK di Parungpanjang Adaptasi Belajar Tatap Maya

Headline1.1K views

BOGORONLINE.com, PARUNGPANJANG – Di tengah kewaspadaan Covid 19, Sekolah Luar Biasa (SLB) Ayah Bunda di Jalan Anggur Raya Perumnas ll Parungpanjang Kecamatan Parungpanjang Kabupaten Bogor, anak berkebutuhan khusus (ABK) harus adaptasi belajar tatap maya dengan media dalam jaringan (daring).

Sejak diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dewan guru dan pihak sekolah berupaya supaya siswa kesayanganya bisa bersekolah dengan sistem daring alias online. Pihak sekolah juga menerapkan sistem luring bagi siswanya tersebut.

“kita mengikuti peraturan dari pemerintah, anjuran pembelajaran tidak tatap muka atau belajar tatap maya, tapi tatap maya tidak bisa dilakukan di sekolah Bunda Ayah, ” ungkap Titin Sulistiawati Kepala Sekolah, Minggu 16/08/2020.

Titin mengatakan, sebanyak 80 persen siswanya berasal dari wilayah Kecamatan Parungpanjang. Namun, ada juga siswa dari luar Parungpanjang, karena wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Tangerang.

“Pembelajaran tatap maya ini tidak semua siswa bisa mengikuti kerena orang tua siswa ada yang tidak memiliki handphone, atau punya handphone tidak ada aplikasi whatsap dan ada yang tidak bisa menggunakan ini menjadi keterbasan kita, ” ucapnya.

Oleh karena itu, kata Titin, pihaknya mengambil jalan untuk memudahkan semua dengan sistem luring, memudahkan kita memberikan materi dan memudah mereka memberikan materi kepada anak-anaknya.

“Luring ini biasanya mereka datang ke sekolah dengan anak-anaknya, bercerita tentang anak-anaknya lalu kita memberikan pengarahan kepada mereka sehingga ada kemudahan-kemudahan memberikan materi kepada anak mereka, ” jelasnya.

Salah satu orang tua siswa Wati mengutarakan, pembelajaran dengan sistem daring ini tidak epektif bagi anak-anak. Karena mereka lebih menginginkan belajar bersama guru-gurunya.

Menurutnya, belajar dirumah terkadang mereka suka bosan dan suka marah, mereka (siswa) anak saya lebih aktif tidak terfokus dengan layar handphon dan mereka senang belajar tatap muka.

“Anak itu lebih ingin bertemu dengan guru-gurunya, kata anak saya mamah cape, anak-anak itu lebih aktif, kalau belajar dengan aplikasi tidak maksimal, “katanya.

Namun Nining Apriliani orang tua siswa juga mengatakan, dirinya mengikuti aturan pemerintah dengan belajar di rumah, dan dirinya setiap hari memberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung.

“Kalau ada tugas dari sekolah, saya sambil main, dan walaupun sambil main tapi juga bisa mengerjakan Alhamdulilah, secara akademik anak sudah mulai bagus tapi emosinya terkadang tidak terkontrol, ” ucap Nining.

Ia juga berharap anak berkebutuhan khusus bisa menjadi anak yang membanggakan, berguna dan bisa di terima di masyarakat pada umumnya.

“Setelah menjalani terapi dengan rutin, dan sering mengitu pembelajaran di sekolah SLB, anak saya sudah banyak peningkatan yang baik, yang tadinya bagian lehernya lemas dan jalannya juga lemas tapi sekarang sudah membaik Alhamdulilah, ” pungkasnya. (Mul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *