Sebelum Dunia berhenti Bergerak

Headline, Sosok2.3K views

Yayat Supriyatna
(Penulis Adalah Praktisi Pendidikan Indonesia, Tinggal di Kabupaten Bogor)

Dalam sebuah adagium dinyatakan bahwa: “tidak ada yang tetap di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri” Dalam sebuah bait puisinya Muhammad Iqbal menuliskan: “tidak ada tempat buat istirahat, jika tidak ingin tertinggal, tidak ada tempat untuk berhenti, jika tidak ingin didahului, dan tidak ada tempat untuk diam, jika tidak ingin tergilas” Dalam sebuah hadistnya Nabi kita Muhammad SAW pernah menyatakan: “jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita termasuk orang – orang yang rugi, jika hari kemarin lebih baik dari hari ini, maka kita termasuk orang orang yang buruk, jika hari kemarin, hari ini dan hari esok sama buruknya, maka ia termasuk orang – orang terlaknat, dan jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini, maka ia akan tergolong menjadi orang – orang yang beruntung dan dirahmati”

Setiap yang “ada” pasti bertujuan, tujuanlah yang membuat setiap yang ada bergerak dan berubah. Manusia memiliki keinginan, harapan, dan kehendak yang membuatnya termotivasi untuk bergerak, berubah dan beraktivitas. Masalahnya “seperti apa” keingian dan harapan manusia, seperti itulah pergerakan dan perubahan yang telah, sedang dan akan dilakukannya. Apakah keinginan dan harapannya itu memang “seharusnya ada”. Menemukan keinginan dan harapan yang seharusnya dimiliki manusia, sama dengan menemukan eksistensi kesejatiannya. Ketika harapan dan keinginannya bertemu dengan ruang kehidupan, mulailah manusia berdialektika mencari sintesa untuk memastikan bahwa harapan dan keinginannya itu sesuatu yang seharusnya dimiliki.

Harapan dan keinginan atau cita – cita atau disebut juga visi merupakan kekuatan yang tidak nampak namun perubahan besar dimanapun lahir dari sebuah visi yang besar. Besar/kecil, mulia/hina, dan tinggi/rendahnya manusia tergantung dari visi yang dimilikinya. Ketiadaan visi, akan membuat setiap langkah menjadi tidak penting dan tidak berguna, salah memiliki visi, akan membuat setiap langkah yang dilakukan menjadi salah dan tersesat. Visi dengan demikian akan menentukan kualitas pergerakan dan perubahan manusia. Visi seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang Muslim?

Hijrah dalam konteks sejarah Nabi SAW sebagai sebuah pergerakan dan perubahan besar, ia telah menjadi lompatan besar dalam sejarah perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya. Hijrah yang membuat Madinah tegak berdiri menjadi poros peradaban Islam., Hijrah yang membuat Nabi SAW dan para sahabatnya menjadi duta sejarah islam. Hijrah bukan sekedar berubah menjadi baik secara individual, yang tadinya tidak berjenggot menjadi berjenggot, yang tadinya celananya sampai kemata kaki menjadi cingkrang, yang tadinya membuka aurat menjadi berjilbab, yang tadinya jidatnya bersih, menjadi ada hitamnya, dan yang tadinya membaur menjadi eklusif.
Hijrah merupakan salah satu aktivitas amal yang harus terbangun oleh sebuah kesadaran nilai, karena ia merupakan sebuah kewajiban yang dilakukan di atas landasan iman sekaligus sebagai implementasi keimanan. Hijrah juga menjadi suatu tahapan prestasi amal untuk mendapatkan karunia dan rahmat Allah SWT, serta merupakan mekanisme baku untuk meraih kemenangan atau tegakya dienullah (Islam). Karena tanpa hijrah Madinah tidak akan pernah ada dan hadir menjadi poros peradaban Islam. Madinah telah menjadi standar atau parameter bagi umat Islam dalam membangun sebuah masyarakat.

Berkaca pada sejarah Rasulullah Saw, bahwa hijrah yang beliau lakukan beserta kaum muslimin waktu itu, adalah perpindahan tempat yang dilator belakangi oleh suatu kehendak besar, yakni ingin menyelamatkan akidah dari gangguan orang-orang pagan (musyrik) Mekah yang selalu melakukan intimidasi terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Karena itulah perintah hijrah diturunkan kepada Rasulullah Saw agar untuk menjaga konsistensi gerakan kenabiannya serta demi tegaknya Islam sebagai sistem nilai yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di bumi. Mengutip sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah bersabda: “Al-muhajir man hajara ma nahallahu anhu; seorang yang hijrah adalah yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah Swt atau orang yang berusaha menjauhi hal-hal yang dilarang Allah Swt terhadapnya”. Itulah salah satu terminologi hijrah dari sekian banyak terminologi, tentunya kita tidak akan mengungkap terlalu banyak definisi tentang hijrah disini akan tetapi spirit yang kita ambil dari pengertian etimologis dan terminologis di atas adalah spirit perubahannya, karena tanpa adanya spirit perubahan dalam motivasi, proses dan implementasi hijrah, dengan sendirinya pemaknaan hijrah yang esensial menjadi bias adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *