Bogoronline.com – Hampir dua tahun lebih, sejak awal pandemi Covid-19 pendidikan di Indonesia ditutup untuk pembelajaran tatap muka (PTM) yang sekarang menjadi pembelajaran online (daring) baik itu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai Perguruan Tinggi.
Pendidikan dimasa pandemi ini membuat semua orang menjadi kesulitan untuk menjalankan belajar dan mengajar secara online (Daring) mulai dari Murid, Guru dan Orang Tua. Pembelajaran ini bagi sebagian orang dianggap kurang efektif dibanding Pembelajaran Tatap Muka.
Guru SMP, Dede Nuryana mengatakan, kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran online ini salah satunya fasilitas yang kurang memadai seperti lemahnya sinyal.
“karena sekolah kita berada di kampung berbeda dengan yang di kota, untuk fasilitas pun juga kurang memadai entah itu dari sinyal, faktor siswa nya yang tidak memiliki HP, dan tidak memiliki kuota. Jadi itu beberapa faktor yang menghambat pada saat melakukan program pembelajaran”, ujarnya, Selasa (27/7).
Selain itu, kata dia, faktor keluarga terkhusus orang tua yang sebagian menjadi acuh tak acuh kepada anaknya. Padahal, lanjutnya, peran orang tua sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran siswa.
“Karena kan siswa belajar di rumah otomatis kehidupan sehari-hari nya di rumah, jadi emang yang memantau si siswa itu keluarga. Beda lagi kalau misalkan pas normal gitu kan siswa disekolah otomatis itu tanggung jawab lingkungan sekolah,” Dede Nuryana.
Sementara itu, salah satu pelajar SMP, Ryan mengaku kesulitan dalam keinginan dorongan mengikuti pembelajaran. “Berbeda dengan sistem pembelajaran tatap muka atau langsung, keinginan lebih besar karena ada semangat bertemu dan bertanya langsung kepada guru jika tidak ada yang dipahami,” jelasnya.
Dia juga menyebut, kesulitan lain seperti keterbatasan kuota internet dan jaringan yang kadang kurang baik saat pembelajaran daring yang membuat pembelajaran menjadi tidak efektif.
“Kadang saya mengikuti pembelajaran kayak hanya menjadi formalitas untuk mengisi daftar hadir tetapi,“ujarnya
Keresahan yang serupa juga dirasakan oleh orangtua murid, Marsah. Dia mengatakan, pandemi ini membuat anaknya tidak fokus bahkan tidak memahami apa-apa saat belajar.
“Pembelajaran saat ini membuat saya menjadi peran penting untuk anak, tapi disisi lain terkadang anak juga lebih bisa dibilangin sama guru nya dibanding sama orang tua padahal kan saya yang pantau dia di rumah,” ujarnya.
Selain itu, dia menyebut, meski sekolah daring ini untuk mengurangi penyebaran covid-19 di sektor pendidikan, namun di lapangan anak-anak masih tetap berkumpul dengan teman-temannya.
“Terkadang juga meskipun sekolah ditutup karna tidak boleh kerumunan tetap saja anak dirumah banyak main dan nongkrong sama teman-teman nya,” pungkasnya. (RJ/BO)





