Kota Bogor – bogoronline.com
Dikarnakan jadwal kegiatan yang cukup padat, Presiden RI Ke-7, Ir Joko Widbodo, batal melaksanakan Shalat Khusuf atau Solat Gerhana di Mesjid Agung Al – Mi’raj Kota Bogor. Presiden melaksanakan Shalat Khusuf di masjid baitussalam Istana Kepresidenan Bogor. Presiden Berjamaah bersama dengan anggota paspampres dan para karyawan istana Bogor. Dengan di imami oleh ustad Wawan Anwarudin, Pada pukul 07.15 hingga 07.55 WIB. Selanjutnya menuju ke wisma diyah bayurini. Meskipun Presiden berhalangan hadir, Solat Khusuf di Mesjid Agung Al-Mi’raj tetap dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Walikota Bogor Bima Arya berbaur bersama ribuan warga Kota Bogor melaksanakan ibadah Shalat sunat tersebut. Bertindak selaku imam sekaligus khatib solat khusuf adalah KH.DR. Badrudin Subky M.HI.
Sebelum melaksanakan Shalat gerhana matahari, Bima Arya menyampaikan sambutan dihadapan para jamaah. “Saat ini secara bersama-sama kita diberi anugerah untuk menyaksikan salah satu fenomena Alam gerhana matahari total yang terakhir terjadi sekitar 33 tahun silam. “Kita harus meyakini dan mensikapi fenomena gerhana ini dengan penuh rasa syukur. Fenomena ini tidak lain dan tidak bukan karena kekuatan dan kebesaran Allah SWT. Jadi janganlah fenomena ini dijadikan kemusyrikan dengan mengkait-kaitkan dengan hal-hal yang mistis,” pesan Bima, Pada Rabu (9/3/16).
Melalui kesempatan ini, Bima mengajak warga Kota Bogor untuk selalu bersama-sama berikhtiar dan berdoa. “Mari kita sambung silaturahmi dan perkuat ukhuwah kita. Semoga Shalat yang belum tentu kita jalani seumur hidup sekali ini menjadi keberkahan dan kemasylahatan bagi kita semua,” ajaknya.Sementara Imam Badrudin, dalam khutbahnya dihadapan jamaah yang berjumlah kurang lebih 3000 orang, menyampaikan, gerhana matahari adalah sunnatullah yang memberi hikmah dan renungan bagi seluruh manusia. Terkait mitos yang mengatakan adanya gerhana matahari karena adanya seseorang yang meninggal, Badrudin memberikan pemahaman kepada semua jamaah.
“Saat jaman Rasulullah pernah terjadi gerhana ketika Ibrahim, putra Rasulullah meninggal. Hal ini dibantah Rasulullah, yang mengatakan matahari dan bulan adalah kebesaran Allah. Bukan karena meninggalnya seseorang. Jika ada gerhana hendaklah kalian Shalat dan berdoa kepada Allah SWT. Melalui solat khusuf sebagai tanda syukur atas keberkahan umur dalam menyaksikan kebesaran Allah SWT. Hal ini pun harus menjadi renungan kita semua sebagai hambanya,” pungkasnya.(bunai)





