by

Yalisa, Dirikan Sekolah Arus Deras, Ajak Warga Peduli Sungai

Rumpin – bogoronline.com – Sungai Cisadane yang berhulu di kaki Gunung Salak, saat ini kondisinya makin memperhatinkan, meski tak separah Sungai Citarum. Namun jika tak ada tindakan dan upaya pencegahan, sungai yang bermuara di Laut Jawa ini, nasibnya akan sama dengan Citarum, penuh sampah dan limbah kimia.

“Cisadane telah memberikan banyak kehidupan bagi warga yang tinggal di sepanjang alirannya, makanya kondisinya harus dijaga, agar sungai ini tetap lestari,” kata Eka Yuliansyah, ketua Yayasan Lintas Sungai Abadi (Yalisa) ditemui usai melakukan penamanan pohon di DAS Cisadane, Kecamatan Rumpin, Jum’at (25/03).

Eka mengungkapkan, Sungai Citarum yang menjadi sungai terpanjang di Jawa Barat, sekarang ini airnya  tak dapat dimanfaatkan, jangan untuk bahan baku air minum, untuk mandi saja tidak bisa. “Kondisi Sungai Cisadane, sedikit lebih baik dibandingkan Citarum dan Ciliwung, kendati dibagian hilirnya sudah banyak pencemaran, yang ditandai dengan keruhnya warna air, akibat limbah galian C yang dibuang ke sungai ini,” ujarnya.

Eka mengatakan, menjaga Sungai Cisadane, harus melibatkan semua pihak, mulai dari warga yang tinggal di bantaran hingga para pengambil kebijakan. “Peran pemerintah di sini sangat penting, kita minta mereka tak mengizinkan pendirian pabrik di pinggir atau DAS, tak hanya di Cisadena saja, tapi juga dianak-anak sungainya,” pintanya.

Eka lebih lanjut mengungkapkan, Sungai Cisadane, sejak ratusan tahun silam menjadi urat nadi perekonomian Kerajaan Pajajaran, yang menjadi penguasa Tanah Pasundan ini, bila dijaga kelestarian akan mendatangkan uang, tanpa harus merusak lingkungan.

“Arus Sungai Cisadane dibagian hulu sangat kuat, sehingga cocok untuk olah raga arung jeram, yang sekarang ini banyak digemari wisatawan yang hobi petualangan. Nah ini bisa mendatangkan pendapatan bagi warga sekitar dan Pemerintah Kabupaten Bogor, dari sektor pajak wisata,” katanya.

Yalisa, kata Eka, mencoba berbuat dengan mendirikan sekolah arus deras. “Kita akan mengajarkan atau mengedukasi warga, untuk lebih arif dan bijak melihat sungai, salah satunya dengan tidak membuang sampah rumah tangganya kesungai, serta mendidik anak-anak remaja yang hobi petualangan sungai,” ujarnya.

Hendrik, ketua Yalisa cabang Kecamatan Rumpin menambahkan, langkah awal yang akan dilakukannya, untuk menjadikan Sungai Cisadane, sebagai obyek wisata alam adalah melakukan ekspedisi atau penyusuran sungai.

“Kami ingin mengetahui sekaligus mempetakan tingkat kerusakan ekosistem di Sungai Cisadane, termasuk mendata jumlah perusahaan tambang yang beroperasi di DAS Cisadane,” katanya.

Hendrik mengatakan, perusahaan tambang yang mengeksploitasi pasir dan batuan di DAS Cisadena merupakan penyebab utama, rusaknya kondisi ekosistem di sungai ini. “Yang dijual Cisadena itu seharusnya buka pasir dan batunya, tapi potensi wisatanya,” tegasnya. (zah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed