WNA Yaman Divonis Delapan Bulan Penjara, Jaksa Ajukan Banding

Cibinong-bogoronline.com-Sidang putusan terhadap terdakwa 4 warga negara asing (WNA) asal Yaman yang telah terbukti melanggar pidana berupa administrasi keimigrasian, hanya diganjar hukuman delapan bulan penjara atau kurang dari 2/3 dari tuntutan Jaksa yang mencapai 3 tahun penjara.

Hal tersebut membuat pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Cibinong mengajukan Banding terhadap putusan tersebut. Kepala Kejari Cibinong, Lumumba Tambunan mengatakan, pihaknya melakukan banding terhadap putusan PN Cibinong yang hanya memberikan hukuman pidana 8 bulan terhadap pelanggar UU Keimigrasian.

“Keempat terdakwa sudah dinyatakan terbukti melanggar UU no 6 tahun 2011 itu kami tuntut pidana 3 tahun, tapi sidang putusan hanya dijatuhkan 8 bulan. Untuk itu, kami telah nyatakan banding atas putusan yang sangat berbanding jauh dengan tuntutan tersebut,” kata Lumumba kepada bogoronline.com, kemarin.

Ia menambahkan, putusan PN Cibinong tersebut belum memenuhi rasa keadilan, atas perbuatan para terdakwa yang melakukan aktivitas tidak sesuai dengan visa yang dimilikinya untuk melancong ke Indonesia ini.

“Empat terdakwa tersebut visanya untuk berwisata, tapi malah bekerja di restoran timur tengah di wilayah Puncak. Selain merugikan negara, aktivitas terdakwa juga menutup lapangan pekerjaan untuk Warga Negara Indonesia (WNI),” tambahnya.

Ia menjelaskan, hanya berjarak maksimal seminggu dari sidang putusan, pihaknya sudah harus mengajukan banding tersebut, dan hal itu sudah dilakukan secara resmi oleh pihaknya. “Kami sudah nyatakan ke PN Cibinong untuk banding. Sebenarnya Kejari dan PN Cibinong sependapat menyatakan para terdakwa bersalah, tetapi soal berat dan ringannya hukuman, kita beda pendapat,” jelasnya.

Sementara itu, Humas PN Cibinong, Bambang Setyawan mengatakan, dalam penetapan sanksi terhadap para pelanggar keimigrasian, pihaknya lebih menekankan untuk sanksi administrasi. “Disamping hukuman pidana 8 bulan, 4 WNA asal Yaman itu akan dideportasi ke negara asal dan tidak boleh kembali ke Indonesia. Jadi bukan pidananya yang kami beratkan,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, pihaknya juga mempertimbangkan keterangan saksi ahli yang dihadirkan dalam persiadangan di perkara WNA ini. “Salah satu keterangan dari saksi ahli yang kita persidangkan menyatakan, berapapun putusannya itu akan mereka (red) terima dan langsung dideportasi,” kata Bambang.

Lebih lanjut Bambang membenarkan adanya upaya banding yang dilakukan Kejari Cibinong atas putusan pidana 8 bulan yang ditelah diketok palu oleh pihaknya. “Memang Kejari Cibinong melakukan upaya banding, dan kita tunggu saja. Kami terima, dan akan melengkapi berkas untuk dikirim ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat,” paparnya

Sebelumnya, kuasa Hukum para terdakwa 4 WNA asal Yaman, Khairudin Bakri mengatakan, tuntutan yang dilayangkan JPU yang mencapai 3 tahun sangat tidak relevan. Sebab, para terdakwa bukanlah pelaku kejahatan atau tindak pidana terorisme. “Ini kah hanya pelanggaran administrasi keimigrasian, bukan pelaku kejahatan atau teroris,” kata Rudi sapaan akrabnya.

Rudi menambahkan, pelanggaran administrasi keimigrasian yang dilakukan para terdakwa terungkap jelas selama dalam masa persidangan itu mutlak adanya keterlibatan dari sponsor yakni PT.Yahala. Namun demikian, PT tersebut tidak dilibatkan selama jalannya persidangan. “Mereka itu hanya jadi korban, sebab dari awal mereka datang ke Indonesia paspor dan visa nya itu ada ditangan sponsor tersebut,” tuturnya. (adi)

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *