Pendidikan dan Persoalannya

Persoalan dunia pendidikan kita semakin kompleks, bahkan bagai lingkaran yang tidak ada ujung pangkalnya. Berbagai pendekatan untuk menguraikan tidak pernah benar-benar menyentuh persoalannya yang paling dasar, sehingga  upaya mengatasi persoalan atau perbaikanpun selalu tidak sesuai dengan harapan, bahkan seringkali menciptakan masalah baru.

 

Memang sangat pahit belakangan ini karena pendidikan kita ditempatkan dalam posisi urutan bawah di kawasan ASIA Tenggara oleh UNESCO, begitu pula  PISA menempatkan Pendidikan Indonesia pada posisi yang tidak menyenangkan, bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengatakan bahwa pendidikan Indonesia dalam kondisi gawat. Meskipun begitu, usaha untuk perbaikan dan memajukan tidak boleh surut apalagi menyerah, bahkan keadaan ini harus menjadi tantangan, atau merasa suatu tantangan besar, terutama bagi para ahli dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan.

 

Kiranya kondisi pendidikan yang demikian bukan sesuatu yang serta merta terjadi dalam sepuluh atau dua puluh tahun belakangan ini, melainkan terjadi melalui atau sebagai proses panjang, bahkan dapat dipastikan benang merahnya terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. sehingga perlu dilihat dalam konteks sejarah. Melihat sejarah memang bukan pula sesuatu yang mudah, sebab dalam konteks pendidikan, selain bagaimana membangun objektivitasnya namun juga memaknainya secara benar sehingga dapat memberikan dasar dan arah ke depan secara benar pula. Terlebih lagi dalam situasi yang kian hari, problem bangsa atau apa yang sering disebut sebagai krisis multidimensi yang melanda di hari ini, yang tentu saja telah menimbulkan keraguan bahkan gugatan terhadap berbagai disiplin keilmuwan yang selama ini kita pelajari. Maka itu, kajian sejarah mau tidak mau harus mampu menggugah kesadaran sublimatif kita.

 

Sering kita mendengar bahwa di negeri ini banyak warisan yang dapat dikaji, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Juga banyak peninggalan yang mengandung pelajaran, baik berupa nilai maupun tradisi, baik dari zaman Hindu maupun masa Islam. Kita pun memiliki banyak tokoh legendaris, KH. Hasyim Asy’ari misalnya, bagaimana dalam situasi dimusuhi oleh pemerintah Hindia Belanda, bahkan konon pesantrennya selalu diganggu, namun masih  sanggup menyelenggarakan pendidikan yang baik dan melahirkan ulama-ulama. Juga KH Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, KH Mas Abdurrahman (Matla’ul Anwar yang kini menginjak usia seabad), dan tentu saja mendalami kembali pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menjadi kata kunci pendidikan Indonesia setelah Indonesia merdeka.

 

Itulah barangkali tugas berat sejarahwan kependidikan untuk memberikan keyakinan kepada anak bangsa bahwa kita adalah bangsa yang sebenarnya memiliki akar dan tradisi sebagai bersumber dunia kita, meski hari ini terasa suatu arkais bahkan purba.

 

 

 

 

 

 

 

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.