Belajar Kepada Sejarah

 

Sebagai salah satu kabupaten/kota bersejarah di Indonesia, Bogor tidak terlepas dari perkembangan interaksi arus sejarah Nusantara dan dunia. Penetapan tanggal 3 Juni sebagai sejarah awal berdirinya Kabupaten/Kota Bogor tidak terlepas pula dari kesajarahan Pajajaran. Hal ini diilhami dari tanggal pelantikan Raja Pajajaran yang terkenal, yaitu Sri Baduga Maharaja yang dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 1482 selama sembilan hari yang disebut dengan upacara “Kedabhakti”.

 

Upacara Kedabhakti itu seperti apa, hingga kini tim redaksi belum menemukan informasi yang jelas. Mungkinkah itu berkaitan dengan wadabhakti, dari kata weda dan bhakti? Kalau itu demikian, maka weda merupakan ajaran atau tuntunan suci, baik itu berkaitan dengan persoalan Ketuhanan maupun kemasyarakatan. Sehingga Upacara Wedabhakti merupakan prosesi sakral, yang di antaranya melakukan kebersihan lingkungan, mandi, puasa, sedekah, melalukan sembahyang/do’a, dan sumpah jabatan. Hal-hal demikian dan lainnya perlu dipelajari dan ditranformasikan dalam realitas kita. Sebab bagi kita, orang awam, belajar sejarah adalah mengambil hikmahnya sejarah dengan pendekatan-pendekatan yang bersifat eklektik atau berdasarkan kaidah fikiyah “memelihara tradisi yang baik dan mengambil tradisi yang paling baik”, yang tentunya berbeda dengan kaum sejarahwan.

 

Barangkali sejarahwan melihat fakta dan histeografi sejarah bukan semata sebagai objek, proses, dan metode sejarah dalam bentuk dan dinamikanya dengan interpretasi-interpretasi yang rumit, melainkan pula sejarah dalam konteksnya sebagai ilmu itu sendiri, filsafat, gagasan, nilai-nilai autensitas – faktisitas, dan pemaknaan dalam konteksnya, “baik kesementaraan maupun universal”,  realitas sejarah dan realitas bersejarah, serta kekinian dan kedisinian. Semua itu mengarahkan kepada kita akan kesadaran sejarah bahwa kita berakar pada kesejarahan. Kita sadar bahwa manusia, baik dalam bentuknya sebagai individu maupun kolektif memiliki kesejarahannya masing-masing. Setiap suku dan bangsa memiliki sejarahnya yang bermanifestasi ke dalam nilai-nilai budaya/tradisi, yang hal itu harus dipandang sebagai kekuatan.

 

Seperti kata Soedjatmoko, bahwa nilai-nilai tradisi tidak boleh digeser apalagi dihancurkan, melainkan harus menjadi tenaga. Pembangunan berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom, karena berakar pada dinamika masyarakat sendiri dan bergerak atas kekuatan sendiri. Pembangunan haruslah dilihat dalam kedudukannya sebagai suatu sarana untuk menyelamatkan dan memperkukuh otonomi suatu masyarakat dan bukannya mematikan atau menghancurkannya. Begitu pula, modernisasi tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan tradisi. Modernisasi yang didorong oleh kekuatan atau dari luar akan menyebabkan ketergantungan, pada hal yang diperlukan adalah kesinambungan budaya.

 

Maka dari itu, tugas sejarahwan salah satunya adalah membangunkan kesadaran kesejarahan bangsa agar kita dalam, perilaku, sikap, pandangan tida menjadi manusia, suku, dan bangsa yang ahistoris, tercerabut dari akar budaya. Dan semoga Hari Jadi Kabupaten/Kota Bogor yang ke 534 Tahun menjadi momentum untuk (belajar kepada sejarah) merefleksikan kembali kesejarahan kita. Selamat Hari Jadi Bogor ke 534 Tahun!

 

 

 

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.