bogorOnline.com
Dilansir dari salah satu media online nasional, mengapa Sukarno dan Hatta begitu nyaman dipanggil Bung? Mengapa mereka tidak mau dipanggil Pak, Tuan, atau sederet panggilan yang menunjukkan kebesaran? Jawabannya karena mereka menjunjung kesetaraan.
Pernah suatu ketika Bung Karno datang ke Rusia dan berpidato di hadapan rakyat Leningrad. Bung Karno kemudian meminta kepada protokoler agar dipanggil Bung saja, jangan Paduka Yang Mulia.
Sapaan Bung sebenarnya berasal dari bahasa Bengkulu, yang artinya kakak. Fatmawati, istri Sukarno, juga memanggil suaminya dengan sapaan Bung. Fatmawati berasal dari Bengkulu.
Sapaan “Bung” dalam bahasa Melayu Ambon mempunyai arti “Tinggi”. Sama seperti “Mas” dalam bahasa Jawa, “Kang” dalam bahasa Sunda, atau “Cak” dalam bahasa Madura.
Sapaan tersebut juga amat popular dalam ciri kebudayaan Ambon pada tahun 1940 hingga 1950-an.Kata “Bung” kerap menjadi sebutan panggilan bagi seseorang.
Panggilan “Bung” juga ditemukan di Tanah Melayu, khususnya di negeri Pahang, dengan arti yang sama. Jika “Bang” lebih merupakan sebutan kekerabatan terhadap kakak, atau sebutan umum untuk menuakan seseorang, maka “Bung” justru berkesan menghapus jenjang itu.
Dalam “Bung” terkandung sikap egalitarian, tanpa menanggalkan rasa hormat di antara penggunanya.
Sapaan Bung juga sering digunakan dalam dunia pergerakan, terutama saat revolusi. Chairil Anwar, misalnya, banyak menggunakan sapaan Bung dalam puisi-puisinya yang ditujukan untuk Sukarno.
“Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji,” begitulah nukilan puisi Persetujuan dengan Bung Karno yang ditulis Chairil pada tahun 1948 ketika Revolusi masih membara.(rul)





