Rakyat Jogja Menjerit, Harga Daging Tidak Terkendali

Jogjakarta, bogoronline.com- Jelang Idul Fitri yang jatuh pada 5 Juli 2016 besok, kondisi pasar semakin tidak terkendali. Akibatnya, rakyat yang hanya berpenghasilan pas-pasan tanpa gaji ke 13 dan 14 menjerit. Sehingga rakyat menilai pemerintah gagal memberikan kemakmuran kepada rakyatnya.

Akan situasi itu, salahsatu pasar yang dipantau bogoronline.com di wilayah Provinsi Jogjakarta yakni Pasar Tradisional Modern Bantul, harga daging jelang Idul Fitri melonjak tinggi mencapai Rp 140 ribu setiap kilogram. Padahal, harga ketetapan pemerintah hanya Rp 85 ribu.

“Terpaksa kami beli karena dibutuhkan. Biasanya harga sekilo tidak semahal sekarang. Kami rakyat jadi heran, di berita tivi dan koran pemerintah berjanji akan menekan harga daging sapi tapi buktinya tidak ada, tetap saja mahal,” kata salahsatu pengunjung pasar Bantul, Nini kepada bogoronline.com, Selasa (5/7/16).

Menurutnya, sebagai masyarakat bawah, dirinya sangat berharap ada perhatian dari pemerintah tidak hanya daging tapi semua kebutuhan pokok. Namun hal itu tidak dilakukan karena semua kebutuhan melonjak naik. “Kami menjerit dengan harga yang tinggi seperti sekarang ini” lanjutnya.

Ironisnya, kondisi yang rumit ini, Pemkab Bantul dan Pemprov Jogjakarta tutup mata. Bahkan terkesan memanfaatkan kesempatan untuk mengeruk keuntungan. Hal itu terlihat, kendaraan plat merah milik Pemprov Jogjakarta, Dinas Pertanian yang terparkir di pasar Bantul ikut berperan mendistribusikan daging dari RPH Segoroyoso, Plered, ke Pasar Bantul serta Pasar Bantengan, Kabupaten Bantul.

Menurut pegawai pada kendaraan plat merah Nopol AB 8293 UA tersebut, dari RPH harga daging, Rp 108 ribu sekilogram. “Saya hanya mengantar daging dan tidak mengetahui harga. Itu urusan pimpinan di kantor” katanya.(Soeft)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.