by

Ekonomi Tumbuh Melambat, Indonesia Belum Krisis

JAKARTA- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, meski ekonomi Indonesia tumbuh hanya lima persen dan melambat dari tahun-tahun sebelumnya, tak serta merta membuat Indonesia dalam krisis ekonomi.

“Kalau dikatakan krisis, jauh sekali. Tidak ada tanda-tanda ke arah sana,” kata Ekonom BCA, David Sumual dilansir detikFinance, Jumat (26/8).

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini tengah mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi tumbuh lima persen. Namun angka ini masih lebih baik dari negara lain yang mencatatkan pertumbuhan yang minim bahkan hingga minus.

Inflasi di Indonesia juga cukup terkendali. Konsumsi masyarakat juga masih aman. Terlebih, angka defisit terhadap APBN juga masih dalam batas aman di bawah tiga persen.

Dalam negara yang mengalami krisis, kata David, tentu tidak mungkin bisa mencapai pertumbuhan ekonomi lima persen.

Biasanya, kata dia, negara bisa disebut krisis ekonomi saat harga-harga melambung tinggi, angka inflasi mencapai di atas ratusan persen, dan defisit terhadap APBN juga di atas puluhan persen. Sebut saja Venezuela dan Brasil.

Saat ini, di Indonesia yang terjadi hanyalah perlambatan ekonomi bukan krisis ekonomi.

“Kayak di Venezuela defisit APBN di atas 10 persen, inflasi di atas ratusan persen, Brasil juga demikian. Kita defisit APBN di bawah tiga persen, ekonomi tumbuh lima persen, inflasi sekitar persen, jadi yang terjadi bukan krisis, yang terjadi perlambatan.

Kalau dikatakan krisis nggak ada, fundamental kita kuat, malah ada pembalikan ke arah membaik,” terang dia.

Lebih jauh David menjelaskan, Indonesia memang pernah mengalami krisis ekonomi di tahun 1998 dan 2008. Tahun 2009 dan 2014, perekonomian juga sulit.

Sektor komoditas seperti pertambangan dan perkebunan yang dulu sempat jadi primadona mulai tumbang. Namun, perlahan ekonomi Indonesia mulai pulih. 

Saat ini, kata David, Indonesia tidak bisa lagi menggantungkan diri kepada sektor komoditas. Indonesia harus mencari sumber pertumbuhan lain untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Sektor yang menyerap tenaga kerja lebih banyak atau padat karya bisa menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“2009-2014 properti, komoditas, perkebunan booming, sekarang masih lambat jadi perlu digantikan seperti sektor jasa, infrastruktur, manufaktur, kini mulai meningkat. Sektor-sektor jasa, pariwisata, berpotensi tumbuh,” ucap dia.

Perlahan tapi pasti, David menyebutkan, ekonomi Indonesia mulai pulih. Saat ini, Indonesia bisa kembali tumbuh di angka lima persen. Ibaratnya, kata David, cuaca ekonomi Indonesia mulai cerah dari sebelumnya mendung dan gelap.

“Sekarang cuacanya cerah dari sedikit mendung, gelap. Ibaratnya ini, silver lining after the rain,” ujar David. (cex/detik)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed