Ini Dia Penguasa Perempuan Tangguh, Dalam Sejarah

bogorOnline.com

Diambil dari salah satu media online nasional, pada zaman dahulu perempuan sering terpinggirkan dalam sejarah. Selain dilarang untuk ikut andil dalam politik, kegiatan yang dapat dilakukan oleh kaum hawa pun juga terbatas.

Walaupun begitu, ada nama-nama perempuan tangguh yang cukup terkenal akan “kegarangannya” dan peranannya dalam masyarakat.

Mereka berkompetisi di dunia yang kala itu masih didominasi oleh kekuatan pria. Seperti layaknya kaum Adam, para perempuan tangguh itu ikut memperjuangkan hak-hak kaumnya dan tidak segan-segan menggunakan pembunuhan untuk mencapai tujuan.

Selain terkenal dengan kegarangannya, para perempuan itu juga dikagumi rakyatnya karena kebijaksanaan mereka dalam membangun warisan budaya.

Siapa saja perempuan-perempuan tangguh yang berperan aktif dalam sejarah itu? Berikut selengkapnya perempuan terkuat legendaris dalam sejarah.

Dilahirkan pada abad ke-16, Amina merupakan seorang prajurit, komandan militer, dan penguasa Kerajaan Hausa Zazzau, sekarang Zaria, Nigeria.

Perempuan tangguh tersebut merupakan anak tertua dari penguasa kala itu, Raja Bakwa Turunku.

Setelah menduduki takhta kerajaan, Amina memperkuat pasukan militer guna memperluas wilayah kekuasaannya.

Demi menjaga kekuasaan penuh atas pemerintahan kerajaan yang dipimpinnya, sang ratu tidak pernah menikah. Setiap malamnya dia memilih “suami” sementara dari penjaga pribadinya untuk memenuhi kebutuhan seksual.

Saat pagi menjelang, “suami-suami” tersebut akan dibunuh. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga rahasia seksual Amina.

Namun suatu hari, mengetahui nasib yang akan menimpanya, salah satu “suami” sang ratu melarikan diri setelah selesai berhubungan suami istri.

Amina langsung memburu pria tersebut dan menenggelamkannya di sungai hingga tewas.

Zoe Porphyrogenita adalah putri kedua dari penguasa Romawi, Contantine VIII. Setelah sang raja meninggal, Zoe yang dinobatkan menjadi penerus oleh Four Byzatine menduduki takhta kerajaan bersama dengan suaminya, Romanos III Argyros.

Pernikahan Zoe dan Romanos tidak berjalan lancar. Suatu hari sang suami ditemukan tewas tenggelam di dalam bak mandi kamarnya.

Insiden itu diduga kuat ada hubungannya dengan perselingkuhan sang ratu dengan Michael IV. Dugaan tersebut menjadi semakin kuat karena satu hari setelah sang suami tewas, Zoe memutuskan untuk menikahi kekasihnya.

Pernikahan tersebut merupakan sebuah pelanggaran terhadap tradisi kerajaan. Seorang janda, terutama ratu, seharusnya baru bisa menikah lagi setelah satu tahun menjanda.

Setelah Michael IV meninggal, anak angkat mereka Michael V mengambil alih takhta kerajaan.

Michael V menjadi pemimpin tunggal kerajaan dan membuang ibu angkatnya, Zoe.

Namun hal tersebut malah menimbulkan pemberontakan. Zoe memiliki banyak pengikut dan terkenal sebagai sosok yang mempunyai pengaruh besar.

Sang ratu pun akhirnya bekerja sama dengan adiknya, Theodora, dan mengambil alih kekuasaan.

Micharl V akhirnya dibutakan dan dikebiri akibat perbuatan yang pernah dilakukannya kepada sang perempuan penguasa.

Namun Zoe dan adiknya tidak memiliki ambisi yang sama dalam berkuasa. Muak dengan nafsu Theodora, Zoe akhirnya kembali menikah dengan Constantine IX.

Mereka kemudian memerintah kerajaan hingga Zoe wafat pada 1050.

Burnhilda merupakan anak dari raja kejam Visigoth, Athanagild. Setelah dewasa perempuan itu kemudian menikahi penguasa dari Kerajaan Austrasia, Sigebert I.

Saudara perempuan Burnhilda juga menikah dengan kerabat jauh Sigebert. Sayangnya pernikahan tersebut tidak bertahan lama.

Adik Burnhilda dibunuh atas perintah sang suami akibat adanya hasutan dari selingkuhan pria tersebut.

Mengetahui kekejaman di balik kematian sang adik, Burnhilda memutuskan untuk membalaskan dendam.

Dalam kurun waktu setengah abad kemudian, perang berkecamuk di antara keduanya. Sigebert tewas dalam peperangan itu di tangan seorang pembunuh bayaran.

Sementara itu, Burnhilda dijerumuskan ke dalam penjara.

Setelah keluar dari kurungan, Burnhilda kembali berkuasa. Kala itu dia menggunakan nama anaknya yang tewas di usia muda.

Perempuan itu memerintah dari balik layar melalui kepemimpinan cucunya. Namun Burnhilda kembali diasingkan oleh cucu tertuanya.

Sekembalinya perempuan tangguh itu dari pengasingan, dia kembali memegang kekuasaan melalui cicitnya, Sigebert II. Namun masa kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Sigebert II dikhianati dan dibunuh oleh Clothar II dari Neustria.

Closthar pun akhirnya memutuskan untuk membunuh Burnhilda. Perempuan itu tewas mengerikan. Tubuhnya diseret hingga tewas oleh kuda.

Perempuan satu ini merupakan wanita pertama yang memimpin monarki Polandia. Jadwiga atau yang juga dikenal dengan nama Hedwig, merupakan anak bungsu dari Raja Hungaria dan Polandia, Louis the Great.

Setelah kematian sang Raja, takhta jatuh ke tangan kakak tertuanya, Maria, yang merupakan penerus kekuasaan Hungaria.

Namun, bangsawan Polandia khawatir akan pengaruh yang dimiliki oleh suami Maria, serta ikatan yang dimilikinya dengan Kekaisaran Suci Romawi.

Oleh karena itu, mereka membujuk ibu Jadwiga untuk menunjuk putrinya sebagai Ratu Polandia, walaupun kala itu dia berusia 10 tahun.

Setelah dinobatkan menjadi ratu, pada 1384 Jadwiga melakukan perjalanan ke Krokow. Di tempat itu dia kemudian diangkat menjadi ‘Raja’.

Walaupun kala itu perempuan yang juga dipanggil Hedwig tersebut tengah bertunangan dengan William of Habsburg, bangsawan Polandia membujuknya untuk menikahi seorang pria bernama Jogaila.

Calon suaminya itu adalah seorang Grand Duke of Lithuana dan merupakan seorang pasangan politik yang lebih berpengalaman.

Jadwiga memerintah bersama sang suami dengan gagah. Mereka dikenal sebagai salah satu penguasa paling berpengaruh dalam sejarah kekerajaan Polandia.

Sayangnya perempuan itu meninggal pada usia yang sangat muda. Dia meninggal saat berumur 25 tahun setelah melahirkan.

Ratu Seondeok merupakan penguasa ke-27 dari Kerajaan Silla yang merupakan satu dari tiga kerajaan yang ada di Korea Selatan.

Seondok juga merupakan perempuan pertama yang menjadi ratu dalam sistem kerajaan itu.

Konon perempuan itu diangkat menjadi penguasa akibat ayahnya tidak memiliki keturunan laki-laki.

Dengan cepat Seondeok membentuk dirinya menjadi seorang yang cerdas, bijaksana, dan penguasa yang adil.

Keinginan sang ratu untuk melestarikan kebudayaan berujung pada pembuatan peta yang mengakibatkan bersatunya tiga kerajaan.

Seondeok juga merupakan orang yang berada di balik pembangunan menara pengawas tertua di dunia, Cheomseongdae.

Salah satu cerita yang paling terkenal mengenai Ratu Seondeok adalah kisah masa kecilnya.

Kala itu ayah sang ratu menerima hadiah berupa biji tumbuhan liarpeony dan lukisan bunga peonymekar.

Saat ditanya oleh sang ayah maksud dari lukisan tersebut, Seondeok dengan benar menyimpulkan bahwa bunga tersebut tidak memiliki aroma keran tidak ada kupu-kupu yang menghinggapinya.

Seondeok juga konon dikabarkan meramalkan waktu kematiannya dengan tepat.(rul)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.