PDI Perjuangan Kota Bogor, Akan Usung Kader Terbaiknya Dalam Pilwalkot Bogor

Ciomas – bogorOnline.com

PDI Perjuangan Kota Bogor menolak mengusung petahana Bima Arya Sugiarto dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Bogor 2018 mendatang. Alasannya, sebagai partai pemenang pemilu 2014 ini lebih pantas kadernya sendiri maju sebagai cawalkot, ketimbang harus menjadi kendaraan tunggangan. Hal tersebut dikatakan mantan Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Rudi Harsa Tanaya yang juga merupakan kader senior di partai berlambang banteng moncong putih ini.

“Akan lebih baik bila PDI Perjuangan Kota Bogor mengusung kader sendiri. Tidak perlu mengusung Bima Arya Sugairto asal PAN. Sebagai partai pemenang pemilu, kita harus percaya diri dan berharga diri,” tukas politisi yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Jabar periode 1999-2014 saat gelar diskusi Jas Merah bertema Hari Ini Ada kerana Hari Kemarin di Gedung Pertemuan RHT, Ciomas, Kabupaten Bogor, baru-baru ini.

Didepan ratusan pengurus dan kader PDI Perjuangan Kota Bogor yang hadir, Rudi mewanti-wanti, partainya tidak perlu bergandengan tangan dengan Bima Arya dan mesin politiknya. Sebab, selama ini, incumbent yang dikabarkan akan kembali maju mencalonkan walikota tersebut selama ini tidak pernah satu visi dengan PDI Perjuangan.

“Saat pilpres lalu, Bima Arya tidak mendukung Jokowi. Selanjutnya, Pilkada DKI Jakarta, Bima mendukung Agus Harimukti Yuhoyono. Hal lain, selama Bima menjabat sebagai walikota, ia juga belum terlihat prestasinya yang berpihak kepada rakyat kecil. Jadi, PDI Perjuangan Kota Bogor tidak perlu bergandengan dengan Bima. Dan, harus punya calon walikota sendiri,” tandasnya yang langsung disambut teriakan setuju dari peserta diskusi yang hadir.

Pada kesempatan yang sama, tiga mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor yang saat itu hadir menjadi pembicara yakni M Sahid, Tb Raflimukti dan Untung Maryono juga menyatakan sikap setuju.

“PDI Perjuangan harus percaya diri dan punya calon sendiri. Kalau maju pilkada dan hanya memposisikan jadi orang nomor dua, apalagi berpasangan bersama Bima Arya, saya tidak setuju. Siapa Bima Arya itu? Kenapa harus berpasangan dengan Bima?,” tegas mantan Wakil Walikota Bogor tersebut.

Keterangan senada juga disampaikan Untung Maryono. Politisi yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Bogor tersebut ikut menekankan, partai tempat bernaungnya akan lebih baik tidak memposisikan jadi mesin pengusung petahana.

“Saya lebih sepakat siapa pun kader asal PDI Perjuangan Kota Bogor yang ingin maju mencalonkan diri, memposisikan sebagai orang nomor satu. Bukan orang nomor dua. Akan sangat ironis jika sebagai partai pemenang, malah berharap menjadi balon wakil walikota. Selain itu, sebagai kader PDI Perjuangan, siapapun pengurus harus bisa menghargai jasa politisi pendahulu. Sebab, mereka lah yang pernah jatuh bangun melewati penderitaan dalam berpolitik,” pungkas Untung sembari ibu jarinya menunjuk Rudi Harsa, M Sahid, dan Tb Raflimukti.

Sebagai informasi, syarat parpol atau partai politik gabungan mengusung pasangan calon kepala daerah dan wakilnya pada pilkada harus memenuhi minimal 20 persen perolehan suara di pemilu legislatif lalu. Pada pileg 2014, PDI Perjuangan Kota Bogor mengantongi 18.75 %, sementara partai asal Bima Arya Sugiarto yakni PAN meraih 5.85 %. Saat gelar Forum Jas Merah, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata tidak hadir. Kabar yang diperoleh, ia tengah menghadiri reuni kampusnya di Bandung.(bunai)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.