SURABAYA- Kementerian Hukum dan HAM memberi penghargaan kepada Kabupaten Bogor atas upaya membina dan mengembangkan Kabupaten Peduli HAM 2015. Penghargaan diserahkan oleh Menkumham Yasonna Laoly kepada Bupati Bogor, Nurhayanti, dalam peringatan Hari HAM Sedunia ke-68 di Graha Grahadi, Surabaya, Kamis (8/12).
Penghargaan itu diberikan karena Kabupaten Bogor dianggap mampu menjaga kondusifitas, penyediaan air bersih, pengetasan rumah tidak layak huni, prosentase jaringan listrik serta menurunnya angka buta aksara.
Menurut Nurhayanti, kekompakan antara Pemerintah Kabupaten Bogor dan Muspida serta DPRD Kabupaten Bogor dan kepedulian atas HAM merupakan kunci atas keberhasilan Kabupaten Bogor meraih penghargaan itu.
“Kebersamaan merupakan kekuatan kita bersama itulah pokok sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah bisa diimplementasikan di lapangan,” ujarnya.
Nurhayanti pun mengapresiasi seluruh elemen dari mulai tingkat Kabupaten sampai tingkat RT dan RW atas kerjasamanya yang telah di bangun selama ini sehingga Pemerintah Kabupaten Bogor mendapatkan apresiasi dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Kabupaten Bogor juga tidak sendiri ada 19 Kota/Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Barat yang mendapatkan penghargaan serupa.
Kemiskinan & Pengangguran Tinggi
Bidang Kesejahteraan Sosial pada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bogor mencatat, dari 5,4 juta penduduk Bumi Tegar Beriman, penduduk sangat miskin mencapai 392 ribu jika atau 7,2%.
Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial pada Bappeda Kabupaten Bogor, Emy Sriwahyuni mengungkapkan, angka ini menurun sejak tahun 2007 lalu yang mencapai 519 ribu jiwa.
“Dengan realisasi investasi yang terus meningkat. Terutama industri padat karya, cukup signifikan mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran,” kata Emy kepada BogorOnline.com, Selasa (27/9).
Menurutnya angka kemiskinan itu hampir berbanding lurua dengan jumlah penganghuran yang mencapai 7,48% hingg 2015 lalu. “Kalau industri padat karya bertambah, tergantung juga pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),” katanya.
Pengangguran terbuka menurut catatan Bappeda dilihat dari tingkat pendidikannya, justru terjadi pada lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang mencapai 39,58 persen.
Lama Sekolah Masih Rendah
Pendidikan masih menjadi persoalan bagi pemerintah kabupaten Bogor. Data Badan Pusat Statistik menyebut angka rata-rata lama sekolah di daerah yang digadang-gadang jadi Kabupaten termaju di Indonesia ini masih rendah, yakni 8,04 Tahun atau setara kelas 2 SMP. Padahal mulai Tahun ini, Presiden Joko Widodo mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar menjadi 12 Tahun.
Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Ade Ruhandi meminta agar pemerintah melakukan segala upaya untuk meningkatkan angka rata-rata lama sekolah. “dalam RPJMD kan pemerintah menargetkan wajardikas 9 Tahun tercapai sebelum 2018. ini harus ada program yang nyata untuk mewujudkan hal itu,” ujarnya.
Jaro Ade-sapaannya, meminta agar Bupati meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan di Kabupate Bogor. “Bupati harus serius melakukan pengawasan terhadap dinas pendidikan dari mulai kadis sampai guru untuk evaluasi perbaikan di dunia pendidikan agar target kabupaten Bogor termaju bisa tercapai,” katanya.
Bupati Bogor, Nurhayanti belum merespon terkait belum tercapainya wajar dikdas 9 Tahun. Saat memimpin upacara peringatan Hardiknas, ia lebih menekankan pada sejumlah masalah dari reformasi penyelenggaraan pendidikan tinggi kita – deregulasi, penyediaan pendidikan yang fleksibel dan berorientasi pada siswa dan pangsa pasar, perubahan kurikulum, penyediaan dosen, guru besar, dan tenaga kependidikan yang profesional, pendidikan yang mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, model bisnis pendidikan yang baru, orientasi pada keterampilan yang teruji dan berdaya saing, pengembangan bidang ilmu strategis, revitalisasi kelembagaan, kemampuan pendidikan tinggi untuk menghasilkan riset dan inovasi yang kompetitif, dan lain-lain.
“Untuk itu, ayo kita kerja bersama-sama. Mari kita fokuskan kerja kita dalam reformasi pendidikan tinggi dengan cara-cara inovatif untuk menghasilkan beragam inovasi yang berdaya saing dari pendidikan tinggi kita. Sudah banyak ragam inovasi yang kita hasilkan dan kita banggakan,” imbaunya. (Cex)





