PMII Minta Walikota Tuntaskan Enam Skala Prioritas, Aksi Ujuk Rasa Berakhir Ricuh

Bogor – bogorOnline.com
Puluhan mahasiswa yang tergabung kedalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bogor, melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Balaikota. Mereka menuntut kepada Walikota Bogor Bima Arya untuk segera menuntaskan program enam skala prioritas, menghidupkan kembali budaya Sunda di Kota Bogor dan memperhatikan seluruh cagar budaya yang ada di Kota Bogor.
“Walikota Bima Arya lebih mementingkan pembangunan taman taman dibandingkan soal sejarah Kota Bogor. Banyak sejarah cagar budaya di Kota Bogor yang tidak diperhatikan, karena Walikota nya sibuk terus dengan kegiatan kegiatan seremonial dan pencitraan,” ungkap Tomy kordinator aksi.
Dia menjelaskan, selama tiga tahun memimpin Kota Bogor, Walikota Bima Arya hanya mampu melaksanakan beberapa persen saja dari program enam skala prioritas. Kebanyakan Bima Arya hanya melakukan pencitraan dan melakukan pembangunan seremonial hanya untuk kepentingan pencitraan belaka. Seperti pembangunan taman taman yang menghabiskan uang milyaran rupiah, tetapi Walikota lupa bahwa banyak sejarah budaya yang tidak terperhatikan.
“Selain lupa akan simbol budaya, Walikota juga lupa akan ajaran Raja Pajajaran terdahulu (Siliwangi) yang seharusnya mencontoh sikap Siliwangi. Bima Arya malah melenceng jauh dari sikap Siliwangi atau Pajajaran Sunda, seperti silih  asah, silih asih, silih asuh, panceg dina galur rahayat makmur. Kita minta agar Bima Arya bertanggung jawab atas kinerjanya selama ini yang tidak menghasilkan apa apa,” tegasnya.
Bima Arya juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan PKL di Kota Bogor. Masalah penggusuran PKL berkedok relokasi, belum ada yang selesai, bahkan yang ada menimbulkan kasus permasalahan di hukum, seperti pembelian lahan di Warung Jambu untuk relokasi PKL, program itupun bermuara di hukum bahkan Walikota Bima Arya ikut terlibat dalam kasus tersebut. Para mahasiswa juga menyoroti banyaknya pembangunan tidak jelas tataruangnya tanpa memperhatikan amdal, pembangunan Tol BORR Seksi 2 yang tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya, kemiskinan yang masih menyelimuti Kota Bogor sekitar 49.522  rumah tangga atau 120 ribu jiwa hidup dalam kemiskinan dan baru 7.135 yang tersentuh program pemerintah.
“Bima Arya harus memberikan penjelasan yang kongkrit kepada masyarakat, karena kinerjanya selama 3 tahun memimpin Kota Bogor belum menghasilkan apa apa,” tandasnya.
Aksi demo yang dilakukan mahasiswa akhirnya bentrok dengan sejumlah aparat kepolisian. Mahasiswa yang membakar ban bekas di Jalan Juanda, langsung dipadamkan oleh aparat kepolisian, sehingga bentrokan tidak terelakan. Beruntung saat bentrokan terjadi berkumandang Adzan Ashar, sehingga kedua belah pihak mampu meredam emosinya sehingga bentrokan tidak meluas. Setelah menyampaikan seluruh aspirasinya, mahasiswa akhirnya membubarkan diri. (Nai)

Comments