Jelang Ngumbah Kujang dan Mapag Ratu, Budayawan Bogor Gelar Ritual Babakti 

Bogor – bogorOnline.com

Lampu Plaza Balaikota Bogor mendadak mati sesaat ritual Babakti dilakukan para budayawan Kota Bogor di Plaza Balaikota Bogor Sabtu (15/07/17) malam. Ritual Babakti ini merupakan tradisi ritual sunda sebagai awal dari tiga kegiatan Bakti Budaya Bogor (Babakti) yang sudah dua tahun ini tidak dilakukan di Hari Jadi Bogor (HJB).

Kegiatan Babakti HJB 535 yang dirancang Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) bersama Karukunan Warga Bogor (KWB) Kota Bogor ini, memang biasa dilakukan dalam rangkaian tahunan Hari Jadi Bogor (HJB). Rangkaian kegiatannya berupa Ngumbah Kujang dan Mapag Ratu Pajajaran yang melibatkan tiga ribu warga dengan berpawai obor.

Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman mengatakan, tiga rangkaian kegiatan ini awalnya tidak masuk agenda HJB. Tetapi beberapa waktu lalu masuk aspirasi dari budayawan yang merasa sedih dan iba yang seharusnya menjadi kegiatan dari bagian HJB tidak masuk ke agenda besar. Namun, dengan terus didorong tiga kegiatan ini bisa diwujudkan melalui rapat-rapat kilat yang akhirnya menunjuk ketua Babakti Tjetjep Thoriq.

“Dari DK3B senang bisa memfasilitasi kegelisahan kebudayaan yang sekarang bisa terwujud setelah menyatukan pandangan dan persepsi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Bakti Budaya Bogor Tjetjep Thoriq mengatakan, pihaknya berusaha mengkoordinasikan kegiatan ini sebagai acara tahunan yang masuk dalam agenda HJB. Usulan ini diberikan sebagai bagian dari upaya pemeliharaan tradisi Sunda di Bogor. selain itu, ia mengklaim Babakti pada dasarnya merupakan kegiatan doa bersama masyarakat sunda sebagai ungkapan syukur atas limpahan rezeki, hasil panen dan kekayaan alam yang dianugerahkan kepada warga Bogor.

“Rasa syukur itu biasanya disertai dengan tumpengan dan petuah yang disampaikan para sesepuh yang intinya berisi nasehat agar menjaga keseimbangan alam dan tetap menjalankan kehidupan bermasyarakat secara harmonis,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Harian DK3B Arifin Himawan menuturkan, kegiatan Babakti perlu dirawat sebagai bentuk tradisi kesundaan yang memiliki nilai positif dan relevan di masa kini. Ungkapan syukur, doa, serta kandungan nasehat agar menjaga keharmonisan alam dan sosial kemasyarakatan. Apalagi kegiatan Babakti diikuti para inohong sunda, struktur pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kota Bogor, para budayawan, seniman, organisasi kemasyarakatan dan warga Bogor pada umumnya.

“Kegiatan Babakti ini berlanjut dengan kegiatan Ngumbah Kujang selama empat hari mulai Senin (17/7) nanti serta Pawai Obor yang merupakan pesta rakyat penyambutan Ratu Pajajaran pada Sabtu (29/7) mendatang,” pungkasnya. (Nai)

Comments