Walikota, Ngumbah Kujang Wujud Perhatian Cinta dan rasa Sayang Warga Bogor 

Bogor – bogorOnline.com
Dalam memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-535, sepertinya ada yang kurang, jika belum dilakukan dengan pengumbahan Tugu Kujang, pasalnya, tahun-tahun sebelumnya, helaran HJB selalu di isi dengan kegiatan tersebut.
Organisasi Daya Mahasiswa Sunda (Damas), bersama dengan, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), komunitas Kerukunan Warga Bogor, serta Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor serta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melakukan tradisi rutin tahunan tersebut, “Ngumbah Kujang”. Tradisi ini berlangsung selama empat hari di mulai dari tanggal 17-20 Juli 2017 di monumen Tugu Kujang, Jalan Padjadjaran, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
Ketua Pelaksana, Rendi Mulyadi, mengatakan, pelaksanaan tradisi ngumbah kujang ini sudah berjalan sejak tahun 1998 dan sebagai rasa cinta warga Bogor dalam merawat dan menjaga kebersihan Tugu Kujang yang memang menjadi salah satu ikon di Kota Bogor.
“Pelaksanaan ngumbah kujang ini diawali dengan mengecat terlebih dahulu semua bagian Tugu Kujang, kemudian dibersihkan. Khusus untuk simbol kujangnya, dibersihkan menggunakan air dari tujuh mata air yang ada di Bogor, salah satunya air dari cikahirupan yang berada di dalam Kebun Raya. Untuk pengerjaannya sendiri, kita melibatkan dinas keamanan seperti Satpol PP, BPBD dan juga Kopasus Batalion 14 yang nanti akan hadir untuk membantu pengerjaannya, seperti pengecatan dan pembersihan Tugu Kujang, dengan total keseluruhan sekitar 100 orang,” ungkap Rendi kepada wartawan, Senin (17/7/17).
Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, tradisi ngumbah kujang atau ngumbah Tugu Kujang ini terdapat tiga pesan diantaranya, perhatian, cinta, sayang warga Bogor terhadap apa yang ditinggalkan oleh para pendahulu sebelumnya, tradisi ini juga sebuah usaha dalam menjaga dan merawat secara fisik maupun nilai-nilainya (nonfisik).
“Adanya bebersih atau pembersihan Tugu Kujang ini artinya kita ingin bahwa semua yang ada di Kota Bogor kita bersihkan secara fisik maupun nonfisik seperti membersihkan hati kita semua, dalam artian semua pemangku kebijakan yang ada di Kota Bogor maupun stakeholder kita bersama-sama dengan hati yang bersih membangun Kota Bogor. Mudah-mudahan dengan simbolisasi ini kedepan kita tambah guyub, tambah rukun, tambah bersih hatinya dalam menjaga dan melestarikan apa yang sudah ada, baik secara fisik maupun nonfisik. Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga,” kata Bima dalam sambutannya.
Masih ditempat yang sama, Budayawan Bogor, Eman Sulaeman, mengatakan, Tugu Kujang ini didirikannya sejak tahun 1982 oleh sesepuh terdahulu dan dijadikan salah satu simbol atau ikon Kota Bogor.
“Selain menjadi simbol atau ikon Kota Bogor, Tugu Kujang ini melambangkan sebuah etika seperti, etika bertutur kata, karena dahulunya warga Bogor ini berasal dari petani,” tandasnya. (Nai)

Comments