SOENMANDJAJA CERAHKAN MAJELIS TAKLIM DAN PARA GURU AL NUR

Cibinong – bogoronline.com – Salah satu tugas anggota MPR, berdasarkan ketentuan pasal 5 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014, adalah memasyarakatkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Untuk tugas tersebut, Soenmandjaja yang juga anggota Badan Kehormatan DPR RI dan salah seorang pimpinan Badan Pengkajian dan Ketatanegaraan MPR RI kembali menggelar acara Sosialisasi 4 Pilar di Aula Yayasan Al Nur Cibinong pada Kamis (13/07) yang lalu. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Ibu Hj Ida Farida, politikus PKS DPRD Kabupaten Bogor dari Dapil Cibinong. Dalam sambutannya Ida mengatakan mendapatkan kehormatan bahwa yayasannya dikunjungi oleh anggota MPR RI, untuk memberikan sosialisasi sekaligus pencerahan kepada para guru Al Nur dan ibu-ibu majelis taklim terkait wawasan kebangsaan dan kenegaraan. Karenanya kata Ida, secara khusus ia berterima kasih kepada Soenmadjaja yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk acara sosialisasi di yayasan yang ia pimpin.

Acara yang sedianya dimulai pada pkl 09.00 tersebut telah dibanjiri oleh ratusan ibu-ibu majelis taklim dan para guru dari Yayasan dan perguruan Al Nur Cibinong sejak pagi pukul 08.00.

Soenmandjaja kembali mengingatkan kepada para peserta, yang sebagian besarnya adalah kaum ibu, untuk senantiasa terus belajar dan memahami Pancasila dan sejarah lahirnya. Ini penting untuk diketahui oleh seluruh bangsa Indonesia, agar tidak buta sejarah dan agar menjadi warga negara yang siap mempertahankan dan mengamalkan Pancasila, sebagai ideologi bangsa.

Pancasila itu, walau di antara kita mungkin ada yang tidak hafal, yang penting adalah bukan menghafalnya, tapi bagaimana Pancasila itu bisa kita realisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. “Karena semua sila-sila tersebut tak ada satupun yang bertentangan dengan ajaran agama apapun, termasuk agama Islam. Semua sila-sila itu sejalan dengan ajaran agama,” Ujar Soenman yang sudah duduk di DPR sejak tahun 1998 tersebut. Mari bersama-sama kita jaga dan kita pertahankan Pancasila di bumi Indonesia ini dari pihak-pihak yang secara sengaja ingin merongrong Pancasila. “Pancasila adalah harga mati,” Ujar Soenman dengan semangat.

Pancasila, sambung Soenman, dengan segala latar sejarahnya merupakan hasil pemikiran dan renungan yang mendalam dari para Bapak Bangsa Negeri ini. Mereka berfikir tentang masa depan Bangsa Indonesia. Mereka, para pendiri negeri ini, para pahlawan bangsa, berfikir keras di atas landasan apakah kelak bangsa ini akan didirikan.

Indonesia terdiri dari berbagai agama, keyakinan, kepercayaan, adat istiadat, dan kebudayaan. “Karena keanekaragaman itulah diperlukan sebuah platform of nation yang bisa mengayomi keseluruhan bangsa ini,” ujar pria yang punya hobi makan soto Bogor itu. Soekarno dengan gagasan dan ide cemerlangnya tampil di hadapan Rapat Besar BPUPKI Tahun 1945 kala itu, mencoba memperkenalkan dan meyakinkan kepada bangsa Indonesia bahwa Pancasila sanggup menjadi pemersatu Bangsa Indonesia yang berbhinneka Tunggal Ika ini. Tak seorang diri, gagasan Soekarno juga diamini oleh Prof M Yamin dan Supomo. Mereka tidak jauh berbeda pemikirannya dengan Bung Karno kala itu, meski sering berseberangan.

Karena pentingnya Pancasila bagi bangsa Indonesia, MPR pada masa Orba memandang perlu mengeluarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Panca Karsa), walau pada masa reformasi produk hukum tersebut telah dicabut dengan Ketetapan MPR No. XVIII/MPR/1998. Dengan demikian berarti Pancasila dan urutan sila-silanya itu hanya bisa kita jumpai dalam Inpres No.12 Tahun 1968.

Sebagai Dasar Negara, dan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi bangsa, menurut Soenman, “Seharusnya Pancasila dan urutan sila-silanya itu dimasukkan ke dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945, bukan hanya ada di Inpres, agar antara Pancasila dan sila-silanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Tidak terpisah-pisah. Bisa bertemu dalam satu kesatuan,” pungkas Soenman sebelum menutup pembahasannya. (Har)

Comments