Ikon Baru Helaran di Bogor, Festival Tunggul Kawung 2017

bogorOnline.com
Ikon helaran khas Kota Bogor kembali digagas. Selain Hari Jadi Bogor (HJB) dan Pesta Rakyat CGM (Cap Go Meh) yang telah lebih dulu muncul hingga tingkat nasional dan internasional, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) juga mencetuskan program yang dinamakan Festival Tunggul Kawung (FTK) Ethnic Drum Festival 2017. Agenda budaya ini dimaksudkan untuk memasyarakatkan sebutan Tunggul Kawung dalam bentuk kompetisi alat musik tabuh (membranphone) yang sumber bunyinya berasal dari getaran membran, kulit atau selaput.
Festival Tunggul Kawung akan berlangsung pada Sabtu, 30 Desember 2017 mendatang di Gedung Kemuning Gading, Kota Bogor. Sebanyak 9 sanggar akan berkompetisi mulai pukul 14.00 WIB dengan menghadirkan kreasi alat musik tabuhnya yang terbaik yaitu Sanggar Citra Budaya, Gandes Pamantes, Sanggar Melati, Gelar Gunara, Andika, Ligar Mandiri, ART, Dewi Sri dan Braja Jaya Ning Ulun (Sumedang). Sanggar-sanggar itu akan mengolah secara kreatif unsur bunyi khas dari alat musik tabuh atau tepuk yang dikreasikan dengan gerak atau kareografi yang atraktif. Sementara Sanggar Etnik Daya Sora (EDAS) akan menjadi pembuka dalam festival ini. Garapan EDAS yang akan menjadi pembuka ini merupakan salah satu eksplorasi karya Ade Suarsa yang memang secara pararel mengambil judul “Tunggul Kawung”.
Di event ini, berbagai alat musik seperti gendang, rebana, beduk atau alat musik buatan lainnya yang bersifat membranphone akan menjadi instrumen utama. Peserta semaksimal mungkin dituntut untuk menciptakan bunyi yang harmoni, dinamika irama dan komposisi kreatif, mengingat instrumen musik yang dimainkan oleh peserta ini dilakukan secara berkelompok. Bentuk kompetisi inilah yang menjadi ciri khas dari Festival Tunggul Kawung.
Ketua Umum DK3B, Usmar Hariman menyebutkan, festival ini menjadi menarik mengingat jenis alat musik tabuh cukup banyak, sehingga mampu memunculkan nilai kreativitas dan mengangkat kembali sebutan Tunggul Kawung.
“Sebagai simbol yang menjadi latar pembentukan nama Bogor, pohon aren (kawung) mengandung kesejatian sebagai penopang kehidupan masyarakat, meskipun sudah menjadi tunggul. Karenanya, Tunggul Kawung sebagai nama dan sebutan lain dari Bogor, perlu dikuatkan,” ujar Usmar, Selasa (26/12/17).
Tak hanya itu, festival ini juga dimaksudkan untuk mempromosikan Kota Bogor secara nasional dan menjadi event penutup akhir tahun yang mengandung bentuk edukatif sekaligus rekreatif. Semangat sinergi inilah yang akhirnya didorong oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor yang mengusungnya dalam salah satu program helaran.
“Ini merupakan bentuk kegiatan seni budaya yang khas dan menarik, sehingga ke depan diharapkan memperkaya berbagai bentuk helaran yang sudah ada di Kota Bogor,” tanggap Shahlan Rasyidi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor.
Ketua Panitia Festival Tunggul Kawung, Jimmy Carter mengungkapkan, di masa mendatang event ini akan bersiap menjadi event nasional.
“Setiap daerah di nusantara memiliki alat musik tabuh tersendiri yang khas, baik itu bentuk, bahan, bunyi maupun cara memainkannya. Disebut khas karena suara yang dihasilkan, irama hingga kebiasaan atau tata cara memainkannya memiliki pola dan aturan tersendiri. Ke depan kita dorong menjadi event nasional dan mungkin saja menjadi daya tarik dunia sekaligus bisa jadi kebanggaan bagi Kota Bogor,” papar Jimmy.
Konsep festival yang pertama kali digelar ini disebut-sebut sebagai event perkusi paling menarik di Kota Bogor. Masyarakat bisa menyaksikan dan menikmati penampilan dan sajian musik kreatif para peserta yang berkompetisi, tanpa harus berbayar. (Nai)

Comments