Waspada! TBC di Sekitar Kita

bogorOnline.com

WASPADA jika Anda sering batuk atau menderita batuk lebih dari dua minggu. Apalagi jika disertai dengan berat badan menurun, berkeringat pada malam hari, merasa lemah, lesu dan kurang nafsu makan. Anda perlu waspada, karena hal itu merupakan tanda-tanda dan gejala penyakit tuberkulosis (TBC).

”Memang tidak setiap batuk pasti TBC. Tetapi jika kondisinya seperti itu, maka sebaiknya segera periksakan diri ke puskesmas,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kota Bogor, drg. Lindawati, MKM.

Linda menjelaskan, pasien kemudian diimbau meminta kepada petugas laboratorium untuk memeriksa dahak dari batuk yang dialami. Selain rontgen, pemeriksaan dahak merupakan langkah awal untuk bisa memastikan, apakah seseorang terkena TBC atau tidak.

”Apabila pada masyarakat yang memiliki tanda dan gejala sakit TBC, segera datang ke fasilitas kesehatan. 25 Puskesmas dan 10 RS di Kota Bogor sudah melaksanakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy),” jelasnya.

Strategi DOTS terdiri dari lima komponen yaitu komitmen politis, penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya, pengobatan yang standard, sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif, sistem monitoring pencatatan dan pelaporan.

”Ada 10 rumah sakit yang sudah menerapkan strategi DOTS yaitu RSUD Kota Bogor, RS Marzoeki Mahdi, RS Salak, RS PMI, RS Medika Dramaga, RS Hermina, RS BMC, RS AZRA, RS Melania dan RS Islam. Pengobatan TBC di Puskesmas diberikan secara gratis,” bebernya.

Menurut Linda, pengobatan harus dijalani penderita dengan sangat disiplin. Mengikuti ketentuan pengobatan yang sudah ditetapkan selama 6 bulan berturut-turut dan tidak boleh terputus.

”Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOSS TB),” ujarnya.

Apabila ada penderita TBC yang putus pengobatan, maka Puskesmas berkoordinasi dengan kader akan melakukan pelacakan (pelacakan TB mangkir). Selain berobat secara disiplin, penderita diharapkan selalu menggunakan masker. Setidaknya menutup mulut pada saat batuk atau bersin. Hal itu perlu dilakukan agar penderita tidak menularkan kuman TBC kepada orang-orang di sekitarnya.

”Kuman tersebut dapat menular dengan sangat mudah dari penderita ke orang lain, karena kuman tersebut menebar lewat udara. Terutama pada udara yang lembab. Satu penderita TBC yang tidak di obati, berpotensi menulari 10-15 orang terdekat (kontak erat atau kontak serumah),” ujarnya.

Kalau penderita tidak bersikap disiplin dalam melakukan pengobatan, akibatnya bisa fatal. Penderita bukannya membaik, malah sebaliknya bisa lebih parah. Selain akan menularkan kepada orang lain terutama keluarga yang tinggal satu rumah, kuman juga akan semakin kebal.

”Kalau sudah begitu status penderita meningkat dan masuk kategori MDR,” lanjutnya.

Ketika penderita sudah masuk ke dalam kategori MDR, pengobatan yang harus dijalani menjadi 2 tahun berturut-turut tanpa terputus.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Survailans (P3MS) Kota Bogor, Menurut dr. Sari Chandrawati, M.Kes, menambahkan bahwa penderita kategori MDR di Kota Bogor cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

”Sampai dengan tahun 2017 lalu, kami telah menemukan sekitar 136 penderita TB kategori MDR di Kota Bogor,” ungkapnya.

Realitas memprihatinkan inilah yang mendorong Dinas Kesehatan Kota Bogor tergerak untuk lebih intensif melakukan berbagai upaya pencegahan TBC. (Advetorial)