Pelaku UKM di Subang ini Mengeluh ke Kang Uu

Subang – Dikunjungi calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 1, Uu Ruzhanul Ulum, para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kampung Kalapa, Desa Sindanglaya, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, mengeluhkan bantuan alat untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Pelaku UKM di desa ini bergerak dibidang budi daya jamur, produksi kasur lantai atau kasur Palembang, dan produksi makanan aneka keripik.

Kedatangan Kang Uu ke desa itu disambut hangat warga dan sejumlah pelaku UKM. Dalam dialog dengan Kang Uu, para pelaku UKM mengeluhkan sulitnya meningkatkan kapasitas produksi.

Sebab mereka selama ini masih memproduksi barangnya secara manual, padahal permintaan pasar terus meningkat.

Abdul Jannah, produsen Kasur lantai mengungkapkan selama ini dia melibatkan sekitar 150 ibu-ibu yang disebar ke 8 kampung  untuk menyulam Kasur. Karena proses menyulam dilakukan secara manual, maka dalam sebulan hanya dihasilkan 3000 lembar kasur.

“Padahal permintaan pasar cukup tinggi, sekitar 5000 lembar Kasur. Tapi tidak dapat dipenuhi karena proses menyulam secara manual hasilnya lambat. Kami mohon ada bantuan mesin sulam yang dapat meningkatkan proses produksi,” kata Abdul, dalam rilis yang diterima bogoronline.com, kemarin.

Masalah serupa diungkapkan, Wawan Ridwan (48), pelaku UKM budi daya jamur tiram. Menurut dia, dalam memproduksi jamur selama ini pengadukan serutan kayu dan bahan baku lain untuk media tanam jamur dilakukan secara manual, sehingga hasilnya kurang maksimal.

“Kami butuh mesin molen, mixer atau sejenisnya untuk proses mengaduk bahan baku, sehingga proses budi daya jamur lebih cepat,” ujar pria yang sudah 10 tahun berbisnis di budidaya jamur tiram ini.

Pasar jamur, menurut dia, terbuka luas. Dia memasarkan jamur  tiram coklat dan putih, hingga ke Tangerang. “Permintaan pasar terus meningkat, tapi kapasitas produksi tidak bisa naik, karena terkendala tidak adanya mesin produksi,” ujar pria yang memiliki 10 karyawan ini.

Sementara itu, Yati Maryati, pengusaha pengananan aneka keripik juga mengungkapkan hal serupa. “Kalau ada mesin penggorengan, maka proses produksi bisa lebih cepat. Kalau permintaan mah terus naik,” kata perempuan yang memiliki 10 orang karyawan ini.

Sebelum ke desa itu, pagi harinya Kang Uu juga mendapat keluhan dari peternak ikan air deras di  Kampung Mayang, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, terkait mahalnya harga bibit dan pakan ikan. Ikan yang diproduksi di sana antara lain ikan mas, nila, dan sebagainya.

“Ketika harga bibit dan pakan ikan mahal, tapi harga jual fluktuatif, kadang tinggi kadang rendah, pas rendah kami rugi,” ucap Dodi, peternak ikan air deras.

Menanggapi hal itu, Kang Uu takjub pada potensi di dua desa  tersebut. Kampung Mayang memiliki tiga potensi ekonomi  sekaligus. Bahkan pelaku UKM-nya melibatkan tenaga kerja warga desa setempat, sehingga mengurangi pengangguran.

Terkait kendala yang dihadapi mereka, Kang Uu memberikan solusi melalui program Rindu, satu desa satu perusahaan. “Di program itu tercakup di dalamnya adalah pelatihan SDM, peningkatan alat produksi, pelatihan marketing digital, bantuan modal, hingga bantuan pemasaran oleh Gubernur,” kata Bupati Tasikmalaya dua periode ini.

Untuk para pelaku UKM yang kekurangan modal, lanjut dia, Rindu punya program kredit Mesra (Mesjid Sejahtera), yakni kredit yang disalurkan melalui masjid dengan skema pinjaman lunak, tanpa agunan, tanpa bunga.

Warga dapat mengaksesnya dengan datang ke masjid lalu minta rekomendasi pinjaman dari Ketua DKM. “Program ini untuk mengentaskan masyarakat dan pelaku UKM dari jerat renternir,” ujar Kang Uu yang berpasangan dengan Cagub Ridwan Kamil.

Selama masa kampanyenya, Kang Uu  sudah datang ke puluhan desa di pelosok Jabar. Dia melihat sendiri kondisi warga dan masalah ekonomi yang dihadapi  mereka.

“Masalah-masalah ini akan saya inventarisir, jika kelak takdir Allah,  Rindu memimpin Jabar, maka ini akan dijadikan bahan untuk dipertimbangkan dalam membuat keputusan,” tukas Kang Uu. (adi/*)

Comments