Hari Pendidikan Nasional: Sedang dibawa Ke Mana Arah Pendidikan Bangsa Ini?

Headline, Sosok3 views

 

Oleh: Abah Yayat

Dalam bukunya What it Takes: Asia Tenggara, Gita Wirjawan mengungkapkan data bahwa rata-rata IQ masyarakat Indonesia berada pada angka 78,5. Angka tersebut, sebagaimana dikomentari Rocky Gerung, dinilai hanya berada satu tingkat di atas simpanse. Gambaran tersebut menemukan relevansinya melalui hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA tahun ajaran 2025–2026 yang menunjukkan capaian rata-rata sebagai berikut: Bahasa Indonesia 55,38, Matematika 36,10, dan Bahasa Inggris 24,93. Menurut pernyataan Menteri, hasil TKA pada jenjang SMP pun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Di sisi lain, berbagai bentuk penyimpangan sosial berat seperti tawuran, narkoba, pornografi, pergaulan bebas, geng pelajar, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya menunjukkan kondisi yang telah berada pada ambang batas psikologis. Situasi ini mendorong munculnya sikap apatis, skeptis, bahkan frustrasi dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan tersebut.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh meningkatnya jumlah pengangguran di kalangan sarjana yang antreannya terus memanjang. Apabila keadaan ini dibiarkan, maka berpotensi menjadi akumulasi persoalan sosial yang dapat memicu ledakan dan kerusuhan di masa mendatang.

Menjadi sebuah ironi ketika seseorang menempuh pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, namun setelah menyandang gelar sarjana justru mengalami kebingungan mengenai arah pekerjaan atau tidak mampu terserap dalam lapangan kerja formal yang tersedia. Permasalahan ini menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari selama kurang lebih 17 tahun gagal membentuk identitas diri, sehingga individu tidak memahami apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, ilmu menjadi tampak sia-sia, tidak berguna, dan tidak memberikan manfaat. Kondisi ini bukan disebabkan oleh kurangnya waktu dalam proses belajar, karena waktu yang ditempuh justru sangat panjang, melainkan karena ketidakmampuan dalam menggunakan apa yang telah dipelajari. Dengan demikian, muncul pertanyaan apakah ilmu yang diperoleh selama ini sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan, persoalan, dan tantangan zaman.

Dampak yang mungkin terjadi, atau bahkan sedang berlangsung, adalah terjadinya degradasi mental-spiritual. Anak muda sebagai generasi harapan mengalami krisis makna hidup. Apa yang telah dipelajari dalam waktu yang panjang tidak memberikan arti yang memadai, sehingga keberadaannya dipandang menjadi tidak penting dan tidak berguna, terutama ketika berada dalam kondisi pengangguran. Di sisi lain, kebutuhan hidup semakin mendesak untuk dipenuhi, namun hilangnya alas sosial untuk memperolehnya menyebabkan generasi muda menjadi mudah cemas, rapuh, dan kehilangan arah, seakan melangkah tanpa tujuan yang jelas. Ketahanan diri mereka pun mulai mengalami kegoyahan. Apabila keadaan ini dibiarkan terlalu lama, maka kondisi tersebut dapat mengendap dan membusuk, yang pada suatu saat berpotensi berkembang menjadi ledakan kekecewaan, kebencian, dan kemarahan terhadap keadaan, serta dapat melahirkan anarki yang destruktif.

Apabila suatu masalah telah menyentuh berbagai sisi dan dimensi kehidupan, atau dengan kata lain hadir di setiap aspek, maka pendekatan penyelesaiannya tidak lagi dapat dilakukan secara parsial. Masalah tersebut harus didekati secara sistemik. Dalam paradigma sistem, terdapat kerangka penyelesaian masalah sebagai berikut:

 Dalam kerangka sistem harus terdapat falsafah (nilai) yang memberikan tujuan dan arah bagi pendidikan yang diselenggarakan.

 Di bawahnya terdapat input, proses, output, dan outcome sebagai komponen tempat pendidikan berlangsung.

 Selanjutnya, terdapat lingkungan sistem yang memberikan feedback untuk mengoreksi hasil dan dampak dari pendidikan itu sendiri.

Data yang telah disajikan sebelumnya menunjukkan output dari pendidikan yang selama ini diselenggarakan. Hasil yang jauh dari harapan tersebut menjadi bentuk koreksi terhadap sistem pendidikan yang berjalan selama ini. Dengan demikian, pertanyaan mendasarnya adalah apakah persoalan terletak pada bagian atas, yaitu falsafah atau nilai; pada bagian tengah, yaitu input dan proses; atau pada bagian bawah, yaitu lingkungan sistem yang dijadikan standar.

Sejatinya, bagian paling atas merupakan unsur yang menentukan tujuan, jalan, dan arah pendidikan. Melalui bagian inilah identitas sejati setiap murid dibentuk. Dari identitas tersebut, individu memahami apa yang seharusnya dikerjakan. Oleh karena itu, muncul pertanyaan mendasar: jangan-jangan selama ini pendidikan gagal membentuk identitas sejati murid atau mahasiswa, sehingga pada akhirnya mereka mengalami kebingungan atau tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, yang kemudian bermuara pada pengangguran.

Kesalahan fatal berikutnya adalah ketika standar atau kriteria pendidikan dibentuk oleh lingkungan sistem, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun global. Pada level global, dunia hingga saat ini masih berada dalam genggaman kuat sistem kapitalisme. Hampir setiap jengkal tanah di muka bumi berada dalam pengaruh kekuasaannya. Akibatnya, pendidikan pun cenderung mengikuti standar global tersebut. Nilai atau falsafah bangsa yang seharusnya mengendalikan tujuan, jalan, dan arah pendidikan menjadi tergerus, kalah, dan akhirnya mengikuti tujuan, jalan, serta arah yang ditentukan secara global.

Dalam kondisi demikian, diperlukan ruang untuk beristirahat, berhenti, dan diam sejenak guna memeriksa secara seksama arah pendidikan yang sedang ditempuh. Pendidikan harus dikembalikan kepada hakikat sejatinya, yaitu memanusiakan manusia, yakni membentuk manusia sebagaimana Tuhan kehendaki.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *