Ingin Lebih Sukses, Mengapa Ragu ?

Senja mulai tiba, sinar rembulan mulai bersiap menggantikan cahaya sang mentari. Masih terasa aroma khas pasar tradisional yang sangat menyengat sehingga membuat hidung kembang kempis. Padatnya kendaraan umum dan lalu lalang orang berjalan menuju Pasar Kemiri Muka, dengan langkah begitu cepat seakan ingin melewati senja. Sebagian dari mereka berjalah ke arah Stasiun Depok Baru dan ada juga yang berjalan ke arah kavling, Beji.
Kondisi Pasar Kemiri jauh dari kata layak, terletak dibawah flyover Jalan Arif Rahman Hakim. Terlihat dari jalan yang becek dan tanah lumpur seolah-olah melekat pada bagian bawah sandal. Tampak sampah sisa perdagangan yang berserakan di jalan bahkan menumpuk di samping kios penjual.
Namun, tempat ini tetap menjadi pilihan alternatif bagi para pedagang yang ingin sukses dan mencari rezeki halal demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti Mustari, pedagang buah-buahan dengan memanfaatkan mobil pick up sebagai sarana pengangkutan.
Memiliki mobil pick up tidak perlu lagi menyewa tempat seperti toko atau kios, karena Mustari bisa menjadikan bak mobil menjadi tempat untuk menaruh buah naga, jeruk, melon dan aneka buah lainnya. Hanya saja Mustari memberi atap pada bagian bak terbuka tersebut dengan lapisan terpal agar tidak kepanasan atau kehujanan.

Membuat Taktik Promosi
Memiliki harga promosi bisa menarik minat pembeli, itulah taktik dari Mustari tanpa ragu-ragu agar dagangannya laku terjual. Mustari memajang harga promosi yang sangat menggiurkan para pembeli. Ditambah dengan suara lantang Mustari “Yuk dibeli dibeli dibeli buah segar, murah meriah.”
Tetapi, tetap saja walaupun harga yang telah ditentukan oleh Mustari, masih banyak pembeli yang melakukan negosiasi agar nominal uang yang mereka punya tak terlalu banyak berkurang.
Mustari selalu sabar dengan senyum ramah tamah menghadapi beragam sifat pembeli. Ada pembeli yang mengatakan buah jeruk sekarang mahal sekali, untuk pembeli seperti ini Mustari menjawab, “Yaampun, ini asli impor dari mandarin, harga kagak akan pernah bohong, dijamin manis.”
Kesibukan Mustari tidak pernah dijadikan beban dalam berdagang. Mustari juga tidak memasang tampang lelah dan cemberut jika ada pembeli yang menawar harga barang dagangannya. Penghasilan perhari hasil jual buah-buahan sangat mencukupi bagi seorang istri dan anaknya yang saat ini sedang mengenyam pendidikan SMP tingkat I.
Mustari berharap, bahwa yang paling terpenting dari keluarganya ialah bisa menyekolahkan Uswatun Hasanah sampai jenjang Perguruan Tinggi Negeri (PTN) karena pendidikan dan ilmu sangatlah utama dan bermanfaat.(Eni Kurniawan/PNJ)

Comments