Kang Uu: Ingin Pesantren Maju, Bangun Ekonominya

Pangandaran – Memasuki hari ketiga Ramadhan, Kang Uu terus menjalin silahturahmi ke warga dan kalangan santri di pondok pesantren.

Salah satunya berkunjung ke Ponpes Mambaul Huda, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (19/05/2018)

Pendiri Ponpes Mambaul Huda, KH. Ahmad Suhendi, mengatakan, sejumlah pesantren di Jawa Barat terkendala modal untuk mengembangkan pesantrennya menjadi lembaga pendidikan modern.

Dia berharap, Kang Uu sebagai cawagub bersama Ridwan Kamil cagubnya kelak dapat memperhatikan pendidikan pesantren.

“Kami ingin pemerintah pengembangan pesantren melalui pemberdayaan pesantren melalui penciptaan unit-unit usaha seperti pertanian, peternakan, dan perikanan, agar lulusannya mempunyai keahlian bekal hidupnya ketika dia selesai belajar di pesantren,” kata Ketua MUI Kecamatan Padaherang, Pangandaran ini.

Menanggapi hal itu, Kang Uu, sapaan akrab Bupati Tasikmalaya 2 periode ini menyatakan, pesantren lahir dan besar dibawah kepemimpinan pendirinya.

Kalau pemimpin meninggal, maka tak jarang pesantrennya juga hilang. Hal itu terjadi karena pesantren tersebut hanya menggantungkan operasional pesantrennya pada sumbangan santrinya.

Masalah karisma dan ketokohan pendiri pesantren yang meninggal, menurut Kang Uu, juga kadang menjadi kendala ketika generasi penerusnya tidak disiapkan.

Dampaknya pesantren akan ditinggalkan karena banyak orang tidak percaya memondokkan santrinya di pesantren itu.

“Padahal, masalah pergantian kepemimpinan di pesantren itu harus ada waktu, harus disiapkan regenerasi kepemimpinan sejak dini,” ujarnya.

Beruntung, kata Kang Uu, kakeknya, KH. Choer Affandi, sebelum meninggal dia sudah menyiapkan manajemen pesantren.

Caranya dengan menunjuk anak-anaknya untuk mengurus pesantren. Ada yang ditunjuk menjadi pimpinan, mengurus bidang Pendidikan, bidang keuangan, dan bidang manajemen dan sebagainya.

“Ada dua hal yang harus diperhatikan terkait estafet kepemimpinan di pesantren yakni, manjemen kepesantrenan yang baku dan membangun ekonomi yang tangguh,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, Pesantren Miftahul Huda, meski pendirinya sudah wafat pada 1994 silam, tapi sampai sekarang santrinya lebih dari 5000 orang, pembangunannya masih berjalan, dan ekonominya dibuat tangguh.

Ekonominya dibangun melalui lembaga ekonomi, dibangun minimarket, menerima barang-barang wakaf, usaha radio, percetakan, hingga angkutan.

Terkait pesantren yang tidak punya modal, menurut Kang Uu, pemerintah harus hadir selamatkan pesantren tersebut.

Sebab pesantren adalah tempat benteng moral dibangun, aqidah dan keimanan ditegakan. “Kalau ini dibiarkan mau bangaimana nasib moral bangsa kita, kalau pesantrennya banyak yang mati?” kata Kang Uu.

Menurut Kang Uu, jika Rindu terpilih, Perda pertama yang akan dibuat adalah Perda Pesantren. Perda itu harus memastikan pendidikan pesantren dibantu oleh dana bantuan pesantrean, guru ngaji dan kiainya disejahterakan, dan dibangun unit-unit usaha untuk mengembangkan pesantrennya.

“Kepada para kiai, ulama dan santri, jangan ragu kepada Rindu karena Rindu pasti turut serta mendorong pengembangan pesantren menjadi lebih baik dan modern melalui Perda Pesantren,” pungkasnya. (adi/*)

Comments