Siswa SDIT Azzahra Tanggap Bencana

 

BOGOR – Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kabupaten Bogor, SDIT Azzahra, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor menggelar simulasi Siaga Bencana Gempa Bumi, kemarin. Kegiatan ini diikuti 132 siswa dari kelas 1-6.

Selama dua hari, para siswa mendapat pemahaman tentang status bencana dan persiapan diri bila terjadi bencana agar tidak panik. Selain itu mereka juga diberi tahu tindakan apa saja yang harus dilakukan sebelum, saat dan setelah terjadi bencana. Selain pemberian materi dari fasilitator KSR, ratusan siswa juga mempraktekkan langsung simulasi evakuasi bencana gempa bumi dari dalam ruang kelas menuju titik kumpul di lapangan sekolah.

Kepala Sekolah SDIT Azzahra Hairudin mengatakan, melalui simulasi ini pihaknya ingin memberikan gambaran bencana secara konkret sesuai dengan tahapan perkembangan berpikir para siswanya. “Kami juga ingin menumbuhkan jiwa keberanian, kepemimpinan serta mental yang kuat dalam diri siswa untuk menghadapi bahaya yang timbul ketika bencana terjadi. Karena kita tidak tahu kapan bencana itu akan datang,” katanya kepada Metropolitan.

Salah satu fasilitator KSR Nancy mengatakan, sebelumnya para siswa sudah diminta menyiapkan tas siaga bencana. Isinya dokumen penting, obat-obatan ringan, air minum, biskuit, pakaian ganti, jaket, peralatan mandi, senter, lilin, korek api, kantong plastik, foto keluarga dan mainan kesukaan. “Sudah saatnya tiap sekilah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) tanggap darurat bencana dan Tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang berperan dengan optimal pada program sekolah aman bencana,” katanya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Kegiatan Indri menambahkan, simulasi tanggap bencana juga diisi dengan games edukatif berupa permainan ular tangga ‘Ayo Siaga Bencana’. Selain siswa, kegiatan ini juga melibatkan seluruh warga sekolah. “Suasana simulasi dibuat senyata mungkin sesuai kenyataan. Berawal dari proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, kemudian tiba-tiba terjadi gempa, lalu segera dilakukan proses evakuasi,” katanya.

Saat proses evakuasi, lanjut dia, ada siswa dari kelas 1 dan 2 yang kaget sampai menangis karena takut seperti kejadian sebenarnya. Namun ada guru yang menenangkan dengan dukungan psikososial bagi para siswa. “Semua siswa antusias mengikuti simulasi ini,” pungkasnya. (*/els)