Tb. Soenmandjaja: Tingkatkan Pemahaman Kebangsaan Kita

Memahami wawasan kebangsaan tentunya melingkupi pemahaman kita tentang Empat Pilar MPR RI yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Wawasan kebangsaan lahir ketika bangsa Indonesia berjuang membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan, seperti penjajahan oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Perjuangan bangsa Indonesia yang waktu itu masih bersifat lokal ternyata tidak membawa hasil, karena belum adanya persatuan dan kesatuan, sedangkan di sisi lain kaum kolonial terus menggunakan politik “devide et impera”. Kendati demikian, catatan sejarah perlawanan para pahlawan itu telah membuktikan kepada kita tentang semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tidak pernah padam dalam usaha mengusir penjajah dari Nusantara. “Untuk itulah, sambung Kolonel Inf. Muhammad Hasan, Danrem 061/Surya Kancana Bogor, yang menjadi pembicara pertama dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, kita sebagai gererasi penerus khususnya mahasiswa harus bisa mewarisi semangat perjuangan para pahlawan kita itu.” Hal itu disampaikannya dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di hadapan para mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Ibn Khaldun Bogor pada (16/11) lalu.

Danrem menyampaikan bahwa sejak kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Pancasila mengalami banyak ancaman. Namun, karena Pancasila mengandung nilai-nilai moral yang luhur yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur agama, maka sampai sekarang ini tetap up to date berisi nilai-nilai yang universal dan fundamental.

Ancaman tersebut antara lain, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948 di Madiun yang dipimpin oleh Muso. Pemberontakan PKI ini berlatar belakang ideologi politik Marxisme, Leninisme yaitu ideologi Komunis yang menjadi dasar perjuangan PKI, sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila dan nilai-nilai agama. Dan yang paling fenomenal adalah peristiwa G-30 S/PKI tahun 1965 di Jakarta, yang menyebabkan gugurnya 7 orang jenderal, prajurit terbaik Angkatan Darat. Yang sekarang kita kenal sebagai Pahlawan Revolusi. “Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada di NKRI, Komunisme boleh jadi sudah dilarang dan tidak ada, namun secara ideologi ia masih ada dan mungkin tidak akan mati”. Demikian ujar lelaki kelahiran 1971 itu menambahkan.

Kolonel Inf. Muhammad Hasan menambahkan, “Dalam perkembangan berikutnya, muncul kesadaran bahwa perjuangan yang bersifat nasional, yakni perjuangan yang berlandaskan persatuan dan kesatuan dari seluruh bangsa Indonesia akan mempunyai kekuatan yang nyata.”

Tb. Soenmandjaja, sebagai pembicara kedua dan juga anggota Komisi III DPR RI, yang juga sebagai anggota MPR menambahkan, “Pada era sekarang ini ancaman terhadap NKRI muncul dalam bentuk yang lain, misalnya proxy war, perang tanpa tentara, tapi pukulannya telak dan mematikan.” “Bisa merusak dan menghancurkan satu bangsa, bahkan bisa mengambil-alihnya tanpa peperangan,” jelas Soenman. Generasi muda kita dirusak dengan candu, minuman keras, dan narkoba misalnya, atau bahkan dalam bentuk penjajahan ekonomi, dengan penguasaan suber-sumber strategis oleh asing. Serbuan tenaga kerja asing yang bertubi-tubi masuk ke Indonesia juga mengancam kedaulatan negara. Impor teknologi, ekspert dan sekaligus para buruh asing yang tidak terkendali pada gilirannya akan menimbulkan ancaman serius bagi kedaulatan bangsa dan negara di mana tenaga kerja lokal banyak yang menganggur, tetapi jutru para buruh asing yang mendapatkan pekerjaan di negeri ini dengan gaji yang tinggi, yang tentunya gaji tersebut akan dibawa ke negaranya. Karenanya, sambung Soenman, “Kita perlu meningkatkan wawasan kebangsaan kita, karena wawasan kebangsaan adalah adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya untuk mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah yang dilandasi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

“Menjadi manusia Indonesia sebagai pembelajar cepat, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman wawasan kebangsaan kita, mempertebal iman dan takwa kepadaTuhan, adalah modal dasar untuk menjaga keutuhan dan kedaulan Negara Republik Indonesia,” pungkas Soenman menyudahi penjelasannya dalam acara Sosialisasi 4 Pilar di hadapan mahasiswa FH UIKA Bogor itu. (HF/Ald)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *