Kisah Pilu Keluarga Miskin Di Rumpin, Hingga Melahirkan Di Gubuk Reyot Membuat Meteskan Air Mata

RUMPIN – bogorOnline.com

Kisah Pilu keluarga miskin hingga melahirkan di gubuk reyot pasti membuat kedua mata kita ini meteskan air mata. Hal itu ketika melihat kondisi rumah dan keluarga Lilis (33) warga Kp. Ciguha RT 04 RW 01 Desa Rabak Kecamatan Rumpin.

Lebih miris lagi, wanita yang telah memiliki tiga (3) orang anak ini, baru saja melahirkan anak ke empat tanpa mendapatkan pelayanan medis yang semestinya dan dengan kondisi rumah yang tidak berbentuk rumah pada umumnya.

Menurut Keterangan Nurbini Firdaus, seorang relawan kesehatan yang datang ke rumahnya, Lilis tinggal bersama suami dan kedua orang tuanya yaitu Surya (64) dan Asmini (62).

“Saya datang kesana dan melihat langsung kondisi rumah tinggal dan kondisi keluarga mereka. Sungguh sangat memprihatinkan,” ungkap wanita yang akrab disapa Bude ini kepada sejumlah wartawan, Jum’at (15/2/2019).

Bude menambahkan, dari pengakuan Lilis dan ibunya, dijelaskan bahwa proses persalinan berjalan secara normal dengan dibantu maraji (dukun beranak-red) dari kampung tetangga. “Biaya persalinan juga didapat dari hasil bantuan sumbangan para tetangga,” ungkapnya.

Bude menambahkan, rumah keluarga Lilis yang terbuat dari bilik bambu dengan alas tanah, saat ini sudah sangat tidak layak huni. Ruang kecil dan konstruksi bangunan sudah reyot bahkan miring. “Mirisnya lagi, menurut keterangan dari Lilis dan ibunya, rumah yang mereka tempati bukan lahan pribadi tapi milik orang lain.” Pungkasnya.

Awak media ini mencoba melakukan penelusuran, namun rumah tersebut terlihat dalam keadaan sepi dan tidak ada yang bisa dikonfirmasi. Sementara Ikhsan (34) seorang tokoh pemuda Kecamatan Rumpin yang juga tinggal di Desa Rabak menuturkan,

dirinya juga sudah melihat langsung kondisi keluarga Lilis. “Saya datang kesana bersama petugas TKSK Kecamatan Rumpin,” ucapnya.

Terkait RTLH, Ikhsan menuturkan, dari keterangan aparat pemerintah setempat dan warga sekitarĀ  bahwa keluarga Suria (orangtuanya Lilis) sebenarnya pernah diberikan bantuan perbaikan rumah secara swadaya masyarakat. Namun untuk di masukan ke program rutilahu, sambungnya, belum bisa karena tanah yang di tempati keluarga tersebut milik orang lain.

“Keluarga ini memang sangat membutuhkan bantuan untuk pembelian tanah, mendapatkan program rutilahu serta perlu juga ada ahli psikologi, karena ada anggota keluarga yang diduga mengalami gangguan mental,” ujarnya.

Sedangkan Kasi Kesra Kecamatan Rumpin Agus Sopyan dikonfirmasi wartawan melalui telepon selular menjelaskan, bahwa pihak Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa sebenarnya sudah mengajukan program rutilahu kepada keluarga Surya.

“Sejak 2015 sudah kita survei. Bahkan sudah pernah dibantu juga oleh warga dan Pemdes Rabak. Namun, pak Surya selalu marah dan tidak menerima bantuan tersebut,” ungkapnya.

Agus menuturkan, dari informasi warga dan aparatur desa setempat, diduga bapak Surya mengalami depresi berat. “Selain itu, saat ini program rutilahu untuk keluarga pak Surya, terkendala status lahan yang bukan milik mereka.” pungkasnya. (MUL)