Curhat Pedagang Eks Taman Topi: Sepi Pembeli, Omzet Anjlok

Kota Bogor – bogorOnline.com

Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) eks Taman Topi mengaku omzet penjualannya kian anjlok pasca direlokasi ke Jalan Nyi Raja Permas oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Pasalnya, sejak dipindah pada 6 Agustus 2019 lalu, hingga kini sepi pembeli.

“Parah jualan di sini (Jalan Nyi Raja Permas). Nggak ada yang beli, sepi kayak kuburan. Dari tanggal 6 Agustus sampai sekarang dagangan sandal saya saja lakunya tiga pasang, bahkan pedagang lain ada yang nihil,” kata Ketua Paguyuban PKL Taman Topi, Umar Sanusi kepada wartawan, Selasa 27 Agustus 2019.

Pria yang akrab disapa Uci ini menambahkan, jika kondisi yang dirasakan para pedagang tidak ada perubahan pasar sepi terus, maka mereka akan kembali ke tempat semula. “Ya, kalau terus-terusan begini dan tak ada solusi, kami lebih baik jualan di tempat semula,” ujarnya.

Sebelum direlokasi ke Nyi Raja Permas, kata dia, pedagang bisa menjual enam hingga 10 pasang sepatu atau sandal. Lain hal dengan saat ini omzet penjualan turun drastis. “Kalau sekarang ini anjlok banget, pedagang sekarat. Bayangin dari hari pertama relokasi sampai sekarang baru laku tiga pasang,” keluhnya.

Dikatakan, bahwa sejauh ini pedagang masih berupaya untuk bertahan berjualan di tempat relokasi sampai pemerintah memberikan solusi terbaik untuk meramaikan tempat jualan mereka.

Pihaknya juga telah meminta Dinas Koperasi dan UMKM untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat atau mengadakan bazaar murah di Nyi Raja Permas. “Tuntutan kami begitu. Mudah-mudahan saja ramai,” jelasnya.

Terpisah, Anggota DPRD Kota Bogor dari Fraksi Gerindra, Mahpudi Ismail mengatakan, merelokasi PKL bukanlah hal yang sederhana lantaran pemerintah juga harus memikirkan nasib pedagang pasca direlokasi, yang notabenenya merupakan warga Kota Bogor.

“Pemerintah mindahin PKL kemana saja juga bisa, walau ke Gunung Salak sekalipun. Tapi yang jadi masalah bukan bisa atau tak bisa. Namun, pasca relokasi bagaimana kesejahteraan pedagang, laku atau tidak dagangannya. Itu juga menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Mahpudi menilai munculnya keluhan pedagang tak lain lantaran tidak matangnya kajian relokasi PKL Taman Topi, seperti halnya dialami juga oleh pedagang malam Suryakancana. “Harusnya dikaji juga soal akses ke tempat relokasi, mudah terjangkau tidak dari jalur utama. Kemudian sarana prasarana harus disiapkan dengan baik,” imbuhnya.

Mahpudi menyatakan, Pemkot Bogor bisa melihat Jogjakarta yang pemerintahnya melakasanakan berbagai event di tempat relokasi PKL untuk menarik warga dan mensosialisasikan tempat berjualan baru. Atau, sambungnya, pemerintah dapat melakukan penataan dan memberlakukan sistem zonasi di area tersebut.

“Jalan Malioboro yang sudah mendunia saja, tetap ada PKL. Tapi mereka ditata, harusnya hal itu juga bisa ditiru oleh pemkot,” paparnya.

Ia menandaskan jika di tempat relokasi kondisinya masih seperti itu terus-terusan sepi tanpa ada solusi, tentu akan mengganggu perekonomian PKL. (HRS)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *