Warga Surya Kencana Menagih Janji Pemkot

Bogor Tengah – bogorOnline.com

Desain proyek pedestrian Jalan Surya Kencana tahap dua hingga saat ini belum masuk ke meja warga terdampak pembangunan. Padahal, warga menyatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah menjanjikan akan memberikan desain trotoar senilai Rp14 miliar tersebut.

“Sampai detik ini, gambar yang dijanjikan untuk disepakati bersama yang kemudian ditandatangani oleh warga dan Pemkot Bogor itu belum kami diterima. Kami sudah komunikasi dengan camat dan camat mengiakan dipersiapkan, tapi sampai saat ini belum ada,” ujar Koordinator Sekretariat Pagoejoeban Kampoeng Tengah (Sepakat), Mardi Lim kepada sejumlah awak media, Kamis sore, 26 September 2019.

Menurut Mardi, sebetulnya hal itu sudah menjadi komitmen agar warga dapat memberikan kontribusi terhadap proyek pedestrian sehingga bisa berjalan lancar dan kondusif.

“Artinya dengan desain itu kita sama-sama tahu, setuju dan mendukung. Tapi sampai detik ini bahan-bahan kajian yang memang harusnya ada di dalam gambar itu belum diterima ditangan kami,” imbuhnya.

Kata dia, kendati desain pedestrian belum diberikan kepada warga. Namun alat berat sudah masuk melakukan aktivitas pekerjaan dari mulai depan Vihara Dhanagun hingga Jalan Bata. Terkait ini, warga sempat mempertanyakan kepada pemerintah. “Ya, (jawaban) pemerintah sudah minta untuk dihentikan,” katanya.

Karena itu juga, ia mengungkapkan menerima aduan dari para pedagang yang mengeluhkan sudah hampir sepekan tak ada aktivitas jual beli lantaran terpasang pagar seng.

“Saya juga mendapat masukan keluah kesah dari 17 pedagang di sana tidak bisa berdagang sudah hampir seminggu karena akses masuk keluar terpagar seng,” katanya.

Ia menceritakan Jalan Bata seperti terekam dalam foto pada 1890 tepatnya sebelah toko Setuju itu ada peninggian jalan yang diperuntukan untuk berjualan dan jalan juga lebar. Kondisi itu, kata dia, sepertinya akan berubah dengan ada proyek tersebut.

“Sekarang berbalik. Katanya 3 meter hanya untuk akses perdagangan atau droping loading, sisanya hampir sekitar 5 meter dibuat untuk pedagang kaki lima kuliner. Kami khawatirkan dengan droping loading dan perlu percepatan waktu karena di sana ada toko-toko bangunan,” ungkapnya.

Pihaknya berharap betul segara ada win win solution diantara warga dengan Pemkot Bogor dengan mengedepankan falsafah silih asah, silih asih, silih asuh.

“Kami berharap desain bisa segera diberikan ke warga. Karena kami sudah tidak sabar menanti. Di sisi lain penundaan ini akan berpengaruh kepada kawan-kawan di Jalan Bata,” ucapnya.

Ia menandaskan, warga juga membutuhkan transparansi terkait jadwal proyek. Sebab, pemilik toko harus mengatur jadwal pengiriman dan kedatangan barang agar tak terganggu oleh pekerjaan proyek terlebih di kawasan itu aktivitas warga sangat tinggi.

Sementara itu, Camat Bogor Tengah, Agustian Syach mengatakan bahwa gambar desain pedestrian sudah selesai dibuat oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan hanya tinggal diberikan kepada warga.

“Sudah selesai tinggal diberikan saja,” ungkapnya.

Agus berencana akan memberikannya pada Jumat besok, 27 September. Sebelumnya, ia belum sempat memberikan karena ada kegiatan pemerintahan yang tak bisa ditinggalkan.

“Insya Allah akan diberikan besok. Warga jangan khawatir, pemkot akan memegang komitmen,” paparnya.

Disinggung mengenai mengapa pembongkaran pedestrian eksisting sudah dimulai, meski desain belum diberikan kepada warga. Ia menjelaskan, bahwa kegiatan itu dimulai lantaran kontraktor sudah dikejar-kejar waktu, mengingat proyek itu harus selesai Desember 2019. “Tapi, kami sudah tegur untuk menghentikan pekerjaan sementara waktu,” tuturnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya menyatakan bahwa antara warga dengan Pemkot Bogor sudah mencapai titik temu penyelesaian terutama menyangkut lebar pedestrian dalam pertemuan pada 20 September.

“Kita sudah mencapai titik temu. Jadi untuk ukuran jalan ditambah 0,5 meter, (trotoar) tidak 3,5 meter. 0,5 meter itu karena kita perlu untuk membuat PJU (Penerangan Jalan Umum),” katanya waktu itu.

Bima melanjutkan, untuk fasilitas parkir kendaraan nanti apakah diterapkan formasi serong atau pararel menunggu hasil simulasi yang dilaksanakan setelah pembangunan selesai. Soal ini, sikap pemerintah akan menyesuaikan diri saja.

“Kalau kita fleksibel, boleh serong atau pararel tergantung simulasi nanti. Untuk konsepnya tetap tidak ada sirip Naga dan celukan. Eksisting (trotoar) ditambah 0,5 meter jadi 3 meter,” imbuhnya. (HRS)