by

Pageblug dan Kearifan Lokal

 

Oleh : Kurniawan Nata Dipura
Editor : Saeful Ramadhan

Sebagai generasi penerus bangsa sudah selayaknya kita mengingat kembali warisan leluhur kita dulu. Seringkali kita menjumpai bahkan lumrah orang tua zaman dulu berumur panjang bahkan ada yang lebih dari seratus tahun. Akan tetapi sebuah pengetahuan dan ilmu yang perlu digali agar anak cucu kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang hebat dulu, sekarang dan besok.

Ihwal pertama yang perlu kita preteli satu persatu adalah budaya cuci tangan. Secara sempit saya akan coba menjelaskan budaya menjaga kebersihan dari luar rumah masyarakat jawa yang kini keberadaannya tidak tahu kemana. Jauh Sebelum covid-19 merembeh di seluruh dunia, masyarakat jawa memiliki budaya dan atau tradisi menyediakan padasan berisi air di depan rumah. Biasanya wadah air yang terbuat dari tanah liat ini diletakkan di luar pagar, sebelum masuk pekarangan rumah. Secara awam padasan berarti gentong atau tempayan berisi air yang terbuat dari tanah liat.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), padasan artinya tempayan yang diberi lubang pancuran untuk keluarnya air, biasanya juga digunakan untuk berwudhu. Di masa lalu padasan difungsikan untuk membersihkan diri, seperti mencuci tangan, kaki, dan membasuh muka. Zaman dulu hampir semua masyarakat perdesaan menyediakan padasan di depan rumahnya. Selain gentong atau tempayan yang diberi lubang, terkadang ada padasan yang dilengkapi dengan gayung berbahan tempurung kelapa atau batok. Gayung tadisional itu dalam bahasa Jawa biasa disebut siwur. Tak jarang padasan diletakkan di pinggir jalan, dengan maksud agar siapa pun yang membutuhkan air bisa mengambilnya sesuai keperluan. Seperti pejalan kaki dan orang-orang yang lewat bisa memanfaatkan air di dalam padasan itu. Nenek moyang kita yang sebagian besar sebagai petani, ketika hendak ke sawah atau menjelang siang pulang ke rumah, selalu mencuci muka dan anggota badan dulu dengan padasan.

Hal itu sebenarnya mengajarkan agar kita selalu menjaga kebersihan ketika hendak bekerja dan sebelum masuk rumah. Di masa kini, sebagai generasi penerus, -yang mungkin tidak mengenal padasan- sepertinya bisa menerapkan nilai-nilai edukatif warisan budaya nusantara itu. Yaitu saling berbagi dengan ikhlas kepada siapa saja yang membutuhkan, dengan menyediakan padasan di depan rumah masing-masing.

Masih berkutat pada nusantara poin kedua yang saya uraikan yakni ritual tolak bala di nusantara. Dalam histori catatan sejarah, jauh sebelum dunia informasi membanjiri bumi, masyarakat nusantara sudah mengenal mitigasi (yakni serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampaun menghadapi ancaman bencana) dengan melangsungkan ritus-ritus tradisi. Apapun jenis virus itu, asalkan berpotensi menjangkiti orang dengan jumlah banyak, maka dengan seketika disebut pageblug. Selain melakukan pengobatan semampunya, masyarakat nusantara menggelar ritual “tolak-bala” atau menolak segala jenis pageblug dengan ritus yang dipandang sakral dan wigati. Ritual itu berwujud ruwatan, dapat berbentuk pertunjukan wayang, tarian, upacara adat, larung sesaji dan laku doa bersama.

Dalam pertunjukan wayang kulit misalnya, seringkali hadir dengan ikhtiar “bersih desa”, yakni membersihkan desa dari segala macam penyakit. Ruwatan Sukerta menghadirkan wayang kulit dengan mengambil lakon-lakon khusus yang berisikan kekalahan makhluk jahat-raksasa (Bhatara Kala) oleh kebaikan. Demikian pula dengan tari Seblang di Banyuwangi, atau larung sesaji di masyarakat pesisir pantai. Apabila dibaca lebih jauh, upaya yang mereka lakukan lebih dari sekadar urusan pemenuhan kelangsungan tradisi, tetapi lebih kompleks dari itu.

Peninggalan nenek moyang yang terakhir saya ulas adalah Jamu. Jamu merupakan minuman berkhasiat dari Indonesia sebagai minuman kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jamu disajikan dengan berbagai jenis, mengingat di Indonesia memiliki tanaman herbal berjumlah cukup banyak. Setiap daerah mempunyai jenis Jamu yang berbeda, menyesuaikan dengan tanaman herbal yng tumbuh di daerahnya. Mengolah Jamu tidak terlalu rumit, kebanyakan hanya mengambil sari dari perasan tumbuhan herbal. Ada juga dengan ditumbuk. Seringkali berbahan dasar kunyit, temulawak, lengkuas, jahe, kencur, dan kayu manis. Khusus gula jawa, gula batu, dan jeruk nipis biasanya digunakan sebagai penambah rasa segar dan rasa manis.

Uniknya, dalam pembuatan jamu juga disesuaikan takaran tiap bahan, suhu, lama menumbuk atau merebus, dan lainnya. Jika tidak diperhatikan dengan baik, akan kehilangan khasiat dari bahan-bahannya bahkan bisa membahayakan tubuh. Begitu juga dengan perkembangannya, tradisi minum Jamu mengalami pasang surut sesuai zamannya. Secara garis besar terbagi dari zaman pra-sejarah saat pengolahan hasil hutan marak berkembang, zaman penjajahan jepang, zaman awal kemerdekaan Indonesia, hingga saat ini..

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed