by

Dunia yang di Klik

Yayat Supriatna

(Penulis Adalah Praktisi Pendidikan Indonesia Tinggal di Kabupaten Bogor)

AlvinToffler seorang futurolog asal Amerika, yang dikenal sebagai penulis dengan karya karyanya mengenai revolui digital, revolusi komunikasi, dll. Pernah menulis dalam buah bukunya, bahwa menurutnya: revolusi sain dan tekhnologi telah melahirkan tiga revolusi besar yaitu, revolusi informasi, revolusi social dan revolusi psikologi.

Arus deras informasi bagaikan banjir besar yang telah berhasil merobohkan dinding / tembok besar sebuah bangsa-negara, mengoyak ngoyak nilai – nilai agama dan budaya masyarakat, mendobrak benteng terakhir yaitu keluarga, dimana kini keluarga telah hanyut tenggelam dalam genangannya.

Tekhnologi, bagaikan pedang bermata dua, satu sisi bisa memberi manfaat yang besar bagi efektifitas dan episiensi kehidupan manusia, dan diujung pedang satunya bisa melukai manusia dengan dampak buruk yang ditimbulkannya.

Melalui tekhnologi (interner dan smartphone), kita kini dan disini, mau atau terpaksa, sadar ataupun tidak sadar telah menjadi mahluk global, dimana batas – batas itu semakin menipis, samar dan bahkan menghilang. Apapun yang terjadi dimuka bumi dengan hanya satu sentuhan (klik) kita bisa mengetahuinya, meresponnya lewat persepsi kita, dan menyebarkannya. Banjir informasi yang kita alami kini jika kita tidak bisa berenang dan berselancar diatasnya, maka resiko yang akan kita alami adalah hanyut dalam arusnya, terseret dan terbawa pada kepentingan sipembuat arus.

Secara social, arus deras informasi ini telah mengikis habis solidaritas social dan menyeret manusia bersikap individualis. Individualisme itu pun terasa ditengah tengah keluarga, perkumpulan keluarga menjadi beku dan mati, karena setiap anggota keluarga asyik dengan smartphonenya. Smartphone telah membajak saluran komunikasi yang dulunya pernah dekat, akrab, dan hangat, kini menjadi jauh, asing, dan gersang.

Secara psikologis, arus deras informasi yang saluranya melalui smartphone / internet telah melumpuhkan kesadaran manusia, melalui banjir informasi, manusia disuguhkan dengan berbagai pilihan yang sebanarnya ia sendiri tidak membutuhkannya (hyper realitas). Inilah dunia imagology, dimana pilihan pilihan manusia digerakan oleh hasrat, citra atau naluri liar yang berupa kepentingannya. Manusia kehilangan nilai yang membentuk norma dan yang menjadi bingkai moral dalam menentukan pilihan – pilihan hidupnya.

Dapat dimaklumi mengapa demikian? kerena dari jumlah penduduk Indonesia yang kurang-kebih 250.000.000 orang, hanya 0,01% yang suka membaca. Padahal kecerdasan yang lahir dari budaya baca merupakan daya tampung yang bisa mengklasifikasi dan mengklarifikasi informasi yang diterimanya. Dengan demikian, medsos kini diisi oleh informasi yang dikeluarkan oleh orang – orang bodoh dan yang membaca pun sama bodohnya, maka ujaran kebencian, keluh kesah, gossip, fitnah, caci maki, informasi yang tidak penting, informasi yang tak beradab, dan hoax menjadi sulit dihindari. Daya baca yang rendah akan menggoyahkan daya tamping dalam menerima informasi, goyahnya daya tampung akan menggoyahkan sikap, pendirian, dan pandangan seseorang.

Anthony Giddens sosiolog asal Inggris pernah memberikan sebuah metafora atas problem kehidupan manusia modern sebagai “juggernout” dunia menurut Giddens bagaikan sebuah truk besar dengan muatan yang banyak yang remnya blong. Dapat kita bayangkan, bagaimana laju truk tersebut. Itulah dunia kini menurut Giddens. Diantara indicator yang ditulis Giddens adalah, kehidupan yang dijalani manusia kini sudah mengabaikan nilai – nilai tradisi / budaya / agama dalam menentukan pilihan – pilihan hidupnya (detradisionalisasi)

Tanggung jawab yang paling berat dari fenomena revolusi informasi ini adalah para pemuka agama dan pendidik, mereka bertugas, berjibaku, tiada henti dan tiada lelah terus mencusi piring dari pesta orang orang bodoh dalam memeriahkan panggung medsos.

Untuk mengendalikan kehidupan yang seperti “Juggernout” dimaksud, paling tidak ada beberapa hal penting yang harus ditanamkan dan menjadi pegangan pada para pengguna medsos, pertama, penanaman nilai – nilai yang bisa dijadikan landasan norma dan bingkai moral manusia dalam memilah dan memilih informasi, kedua, mencerdaskan para pengguna medsos melalui penyebaran ilmu pengetahuan, hingga mereka bisa mengklasifikasi dan mengklarifikasi baik / buruk dan penting / tidak penting informasi yang harus disampaikan dan diterima, ketiga, kebijakan pemerintah sebagai regulator yang memiliki kuasa untuk membuat dan membatasi penggunaan medsos, keempat, peran keluarga yang memiliki kuasa untuk mendisiplinkan penggunaan medsos buat anggota keluarganya, dan kelima, peran lembaga pendidikan dalam menumbuhkan budaya baca melalui Gerakan Literasi Sekolah guna menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan peserta didik, hingga peserta didik bisa menggunakan medsos lebih baik, bermanfaat, dan berguna.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed