by

Masihkah Sakti PANCASILA Kita?

Yayat Supriyatna

(Penulis Adalah Praktisi Pendidikan Indonesia Tinggal di Kabupaten Bogor)

 

September, bagi Bangsa-Negara Indonesia adalah bulan yang memiliki kenangan pahit. Keutuhan sebuah bangsa-negara diuji oleh peristiwa rencana Kudeta PKI, Pancasila sebagai nilai dan ideology diuji kesekralan dan kesaktiannya dalam menyatukan bangsa oleh ideology baik yang berhaluan kiri (komunis), maupun yang berhaluan kanan (Islam).

Semenjak Indonesia dimerdekaan pada tahun 1945, ujian pertama yang dihadapinya adalah, ketika PKI mencoba mengkudeta pada tanggal 18 September 1948 di Madiun, kemudian DI/TII mendirikan Negara Islam Indonesia pada pada 7 Agustus 1949, Kemudian pada tanggal 15 Februari 1958 PRRI mencoba memisahkan diri dari NKRI, belum merasa puas (dendam) PKI kembali mencoba melakukan ulang kudeta yang mereka beri nama Gerakan 30 September pada tahun 1965.

Wajar, jika bangsa ini trauma atas sejarah yang pernah terjadi. Tidak salah mereka selalu mengingatkan seluruh rakyatnya agar terus berhati – hati atas kemungkinan kemunculannya. Karena bisa jadi mereka (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) membubarkan diri atau dibubarkan secara politik-organisasional, namun pemikiran, ide, gagasan (ideology) sulit untuk terkubur seiring tegelamnya gerakan ini secara politik. Karena ide, gagasan, dan pemikiran tidak mungkin bisa diredam, dihentikan, apalagi dibungkam, ia akan terus mengalir menghiasi dan memberi warna pada dinamika pemikiran manusia Indonesia. Karena, setiap peristiwa yang terjadi dilapangan sejarah dan social, selalu digerakan dan kemunculannya oleh sesuatu yang tak terlihat dan tak teraba, yaitu, pemikiran, ide, dan gagasan seseorang atau sekelompok orang.

Dari data dan fakta sejarah ini kesaktian Pancasila telah melawati masa ujian politik yang berat sampai pada tahun 1965. Kesaktiannya, dapat menjaga keutuhan, persatuan, dan kesatuan bangsa-negara sampai dengan sekarang ini.

Ujian terberat yang akan selalu menghadang dan menguji kesucian dan kesaktiannya adalah, ketika janji – janji suci yang ada dalah butiran silanya mencoba untuk diwujudkan dalam kehidupan social. Apakah butiran sila yang suci dan sakti itu telah sesuai dengan harapan, kurang digarapkan, diluar harapan, atau tidak diharapkan secara social oleh seluruh trakyat Indonesia?

Apakah ketuhanan kita, membuat bangsa ini semakin damai? atau justru dengan membawa nama nama tuhan kita saling berebut takhta dengan cara merusak tatanan kehidupan. Atas nama tuhan kita saling membenci dan memfitnah, atas nama tuhan kita saling mengabaikan, menolak, dan bahkan berusaha untuk saling meniadakan.

Apakah kemanusiaan kita, membuat bangsa ini semakin terhormat dan bermartabat? atau sebaliknya, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang rasis, eklusif, dan egois mementingkan diri sendiri dan kelompok dengan mengabaikan, menolak, dan meniadakan yang lainnya. Bukankah perbedaan (pluralitas) adalah sunatullah dimana dengannya kita disuruh untuk saling mengenali, agar kehidupan bisa serasi, selaras dan seimbang, itulah makna beda dan beragamnya kehidupan.

Apakah sentiment persatuan kita membuat bangsa ini semakin kokoh? Disturst (Ketidakpercayaan) baik secara vertical (rakat terhadap pemimpinya dan sebaliknya) maupun secara horizontal (rakyat dengan sesama rakyat) inilah pembusukan social jika dibiarkan lama, bisa menjadi ledakan social yang hebat.

Apakah permusyawaratan kita membuat bangsa ini menemukan arah yang pasti dan jelas bagi masa depanya? Permusyawaratan kita kini dan disini adalah permusyawaratan oleh kaum oligarki untuk kepentingan koorporasi

Dan apakah keadilan kita membuat bangsa ini sejahtera lahir dan batinnya, hingga tidak ada satu orang atau satu kelompokpun yang tertindas dinegeri ini.

Kesaktian Pancasila telah membuktikan dirinya lewat keterjagaan keutuhannya dari rongrongan dan gangguan ektrim kiri dan ekstrim kanan, namun kesaktianya menjadi lemah ketika dihadapkan pada realitas social yang harus dibangunnya.

Selamat hari Kesaktian Pancasila. Semoga kesaktianmu seperti tongkat Nabi Musa yang bisa menjadi ular besar memangsa para penghianat bangsa ini, dan bisa membelah lautan kehidupan hingga bisa memisahkan dengan jelas mana yang benar dan yang salah, dan mana yang baik dan yang buruk.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed