by

OVERTAKING COVID

Oleh : Kurniawan Nata Dipura

Editor : Saeful Ramadhan

Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya. Masa senantiasa silih berganti, berkembang sesuai takdirnya. Tak akan mungkin manusia mampu mempertahankan kondisi stagnan, karena waktu dan kondisi senantiasa berkembang.

Bila kita menganalisa dunia dari sisi geopolitik, negara itu ibarat organisme hidup. Organisme itu bisa terlahir, hidup, berkembang, menyusut bahkan bisa pula “terkena virus” dan berikutnya bisa pula layu ataupun mati.

Berbicara tentang organisme, tentunya harus ada seperangkat tata sistem yang mengendalikannya. Adapun salah satu organ vital dari negara itu salah satunya adalah sistem ekonomi.

Di era sekarang ini, sistem ekonomi yang berlaku jamak dan diterapkan oleh hampir seluruh negara adalah sistem ekonomi neoliberalisme yang berbasis atas perjanjian Bretton Woods.

Banyak analis geopolitik telah memprediksi bahwa sistem ekonomi neoliberalisme ini sedang dihantui oleh resesi global. Bahkan Bank Dunia telah memproyeksikan bila pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2020 telah dititik Nadhir, yakni sebesar 2,7%.

Artinya jika pertumbuhan Ekonomi dibawah 3%, bisa menyebabkan resesi dunia. Resesi Dunia bisa memicu konflik, dan konflik bisa memicu Perang. Artinya tanpa adanya serangan virus, resesi global hanyalah menunggu waktunya sendiri. Dan tiba-tiba saja hari ini virus ini mulai menyerang tepat di jantung ekonomi peradaban ini.

Terlepas dari persoalan apakah virus ini buatan laboratorium biologi ataukah virus alami. Namun bila kita jeli mengamati, virus ini telah bertransformasi menjadi virus “alami” yang mengancam ekonomi dunia. Sebab penyebaran virus ini telah menjalar ke semua Negara. Dan membawa dampak ekonomi yang luar biasa bagi perekonomian global.

Akibat yang ditimbulkan oleh serangan virus Covid-19 ini ibaratnya sebagaimana bekerjanya virus komputer. Bedanya bila virus komputer menyerang sistem kerja jaringan komputer. Namun bila virus Covid-19 ini menyerang simpul-simpul vital seluruh negara.

Hampir semua kepala negara hari ini dipusingkan dengan masalah pilihan, apakah harus mengutamakan rakyat ataukah mengutamakan ekonomi. Masing-masing memiliki konsekwensi sendiri-sendiri.

If you want to make everyone happy, don’t be a leader – sell ice cream” kata Steve Job.

Karena saking luar biasanya kecepatan gerak virus ini, maka nyaris tak ada opsi bagi kepala negara untuk memilih kebijakan yang mengarah pada pencitraan belaka.

Semua Kepala negara diuji untuk memilih menyelamatkan ekonomi negaranya ataukah akan menyelamatkan masyarakatnya.

Jika mementingkan ekonomi maka konsekuensinya masyarakat akan terkena dampak besar, dan ekonominya terancam. Namun bila memilih mementingkan menyelamatkan ekonomi maka semuanya bisa hancur berantakan.

Dilain sisi, belum pernah ada di dunia ini yang mampu menghentikan gerak laju ekonomi seperti penutupan penerbangan dari seluruh negara, penutupan jalur transportasi sebagai urat nadi perekonomian, belum lagi dampak lain seperti kebijakan pengetatan impor dan ekspor barang selain virus ini.

Bila berkaca dari akibat dari serangan virus ini terhadap sistem ekonomi, maka kurang adil bila kita hanya melihatnya dari kacamata kuda yang tak pernah meluaskan pandangan dari sisi pemilik alam ini.

Telah banyak pelajaran bagaimana Islam memberi contoh tentang runtuhnya peradaban-peradaban besar dimasa lalu yang runtuh hanya karena sesuatu yang kecil. Raja Namrud yang memiliki kekuasaan besar runtuh hanya karena serangan nyamuk. Raja Abroha yang memiliki ambisi besar menjadi negara hegemoni menandingi hegemoni Mekah kala itu harus mati karena serangan burung. Dan masih banyak kisah lain dalam Islam.

Kembali ke soal Virus Covid-19, apakah ini sebuah awalan ataukah ini sebuah akhir dari semuanya? Kita hanya bisa menyaksikan apa yang akan terjadi kedepan. Namun pastinya kita menyaksikan hari ini bahwa virus Corona ini telah menyalib semua usaha hegemoni (baca: kesombongan) manusia tepat di tengah tikungan tajam.

Dalam sebuah tulisannya di Foreign Affaris, Campbell and Doshi, membuat perbandingan eksplisit dengan penurunan peran Inggris di Dunia Internasional. “Operasi Inggris yang gagal pada tahun 1956 untuk merebut Terusan Suez, menelanjangi kekuasaan Inggris dan menandai berakhirnya pemerintahan Britania Raya sebagai kekuatan global.

Sejarah seringkali memberi kita pelajaran, kerap kali wabah itu muncul menandai sebuah perubahan zaman. Dan tentunya tak ada yang sia-sia atas setiap ciptaan Allah dimuka bumi ini, walaupun sekecil debu tak terlihat mata.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed