by

Tetap Berwisata Sejarah ke Museum Joang 45 di Era Digital

Foto : Istimewa Ruang pemutaran film dokumenter

BOGORONLINE.com, Bangunan Museum Joang 45 mulanya adalah hotel termegah di Batavia milik orang Belanda, L. C. Schomper. Setelah itu, tahun 1942 dikuasai oleh barisan propaganda Jepang, Sendenbu. Pada tahun yang sama, pemuda Indonesia berhasil merebut kembali gedung tersebut. Oleh pemuda Indonesia, gedung ini dijadikan asrama, tempat pendidikan kebangsaan, dan markas komando pemuda Indonesia pusat dan daerah. Sebagai tempat diskusi, gedung ini menjadi saksi lahirnya gagasan-gagasan para pemuda. Salah satunya adalah gagasan penculikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk segera memploklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa penculikan tersebut tergambar melalui diorama yang ditampilkan di museum ini. Tak hanya menampilkan peristiwa itu, terdapat juga diorama perumusan proklamasi, pidato Presiden Soekarno, keikutsertaan para wanita dalam mempertahankan kemerdekaan, dan lainnya. Koleksi lain yang ada di museum ini adalah benda-benda bersejarah para pahlawan, lukisan, foto dokumenter, dan pemutaran film dokumenter.

Foto : Istimewa Diorama peristiwa Rengasdengklok

Dengan mengunjungi museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 19 Agustus 1974 ini, pengunjung mendapatkan kembali pelajaran tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pengunjung bisa mengingat kembali apa yang telah dilakukan para pahlawan dan kontribusi rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya, museum jadi pemacu motivasi perjuangan, kebanggaan dan kecintaan kepada tanah air, serta menjaga persatuan.

“Membuat putra saya lebih memahami arti perjuangan kemerdekaan dan membuatnya bersemangat belajar lebih baik untuk menjadi berguna bagi dirinya sendiri dan bangsa nantinya” ungkap Paulina, Pengunjung Museum Joang 45.

Koleksi lain yang mencuri perhatian karena ditempatkan terpisah dengan koleksi lainnya adalah tiga mobil Bung Karno dan Bung Hatta. Dua di antaranya adalah mobil dinas Bung Karno dan Bung Hatta saat menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. Sementara satu koleksi lagi yaitu mobil keluarga milik Bung Karno. Koleksi mobil yang ada di sini kondisinya sama dengan koleksi yang berada di dalam gedung utama, masih terawat dengan baik. Bahkan, mobil ini masih bisa dijalankan. Namun, saat hari biasa pengunjung hanya bisa melihat mobil-mobil ini dari depan ruangan berkaca saja.

Foto : Istimewa Benda-benda peninggalan tentara

Yunda Meri Olivia, pemandu wisata Museum Joang 45, menjelaskan bahwa Museum Joang 45 juga memiliki acara tahunan bertajuk Napak Tilas. Diselenggarakan setiap tanggal 16 Agustus, acara ini berbentuk karnaval dan perlombaan yel-yel untuk pelajar, baik siswa maupun mahasiswa. Dalam karnaval tersebut, koleksi mobil yang ada di museum dikeluarkan dan berkeliling ke museum naskah proklamasi dan tugu proklamasi. Namun, Ia menjelaskan kembali karena adanya pandemi COVID-19, Napak Tilas tidak digelar di tahun 2020 dan 2021.

“Dan sekarang ga diadain lagi tahun ini (2020) mungkin sampe dua tahun ke depan (2021) karena kan ada COVID juga”  ungkap Yunda.

Di era digital seperti sekarang, di mana apa pun bisa kita temukan di internet termasuk sejarah, apa tetap penting mengunjungi museum? Menurut Damar Adji Pangestu, mahasiswa Ilmu Sejarah UNS, mengunjungi museum tetap menjadi hal yang penting. Ia menjelaskan bahwa museum tidak hanya sekadar sumber informasi sejarah saja tetapi juga merupakan bangunan yang mengandung nilai-nilai luhur dari suatu bangsa maupun suatu peradaban masyarakat.

“Mengunjungi museum adalah salah satu bentuk merawat jati diri bangsanya sendiri, sekaligus menjaga sejarah dirinya sendiri yang terbentuk di antara ingatan kolektif masyarakat di tempat ia tinggal” tambahnya.

Foto : Istimewa

Kata Damar, secanggih apa pun teknologi internet yang bisa menjelaskan secara rinci tentang isi museum, kegiatan mengunjungi museum tetap tidak tergantikan. Lebih lanjut, generasi muda Indonesia perlu belajar bagaimana bangsa-bangsa besar seperti Italia, Inggris, Jerman, Turki, Perancis, dan Amerika memperlakukan situs kesejarahannya dan memfungsikan museumnya.

“Mereka  menilai museum sebagai tempat rekreasi, selain sarat akan ilmu dan pengetahuan, juga bernilai hiburan” jelasnya.

Setelah membaca tulisan ini, ayo susun jadwal untuk pergi ke museum. Museum Joang 45 berada di jalan Menteng Raya No.31, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. Museum ini tak jauh dari Stasiun Gondangdia, cukup sepuluh menit berjalan santai saja. Jika naik busway bisa akses dari halte Kwitang, jalur koridor 3. Museum ini beroperasional dari jam 08.00-16.00.

Harga tiket masuk adalah 5.000 (dewasa), 3.000 (mahasiswa), dan 2.000 (pelajar/anak-anak). Pembayaran hanya dengan kartu JakCard yaitu multipupose card. Harga pertama kartu ini yaitu 30.000 dengan saldo awal 20.000. kartu bisa dibeli di loket masuk museum Joang 45.

Penulis : Anne Anisa

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed