by

Saksi Meringankan Terdakwa Pemalsu Surat Ditolak Hakim PN Cikarang

BOGORONLINE.com, CIKARANG – Kasus Pemalsuan surat tanah oleh Kades Tamanrahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Abdul Wahid dan rekannya masih tahap pemeriksaan saksi. Empat terdakwa yang duduk di kursi pesakitan, diancam pidana kurungan enam tahun penjara sebagaimana pasal 263 KUHP.

Untuk meringankan hukuman terdakwa, Abdul Wahid, Irfan Firmansyah, Sukri dan Rifai, pengacara Taufik Hidayat menghadirkan empat saksi A De Charge atau saksi meringankan. Dengan harapan, kesaksiannya dapat dijadikan dasar dalam putusan nanti.

Empat Saksi itu Ananta Johan, Iyan Cakra Binekas, S.P, Cucum Suryani, S.K.M dan Roy Kamaludin. Namun, saksi yang diajukan, tiga diantaranya ditolak majelis hakim Chandra Ramadhani, S.H, M.H (Ketua), Agus Sutrisno, S.H, (Hakim I ) dan Albert Dwi Putra Sianipar, S.H (Hakim II). Dua saksi, Ananta (sidang sebelumnya) dan Iyan Cakra ditolak lantaran keduanya berada dalam ruang sidang saat dilakukan pemeriksaan saksi lainnya.

Iyan Cakra ditolak memberikan kesaksian oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Danang karena dikenali wajahnya. Sehingga dalam pemeriksaan diakui oleh Saksi Iyan kalau dirinya pada beberapa sidang sebelumnya hadir dalam ruang sidang dan mendengar langsung pemeriksaan saksi oleh hakim.

Sementara satu saksi, Cucum Suryani ditolak karena yang bersangkutan adalah anak terdakwa Abdul Wahid. Penolakan tiga saksi meringankan dilakukan hakim, sesuai ketentuan dalam KUHAP.

“Saudara saksi, silahkan menunggu diluar ruang sidang. Sesuai aturan persidangan, saksi tidak diterima kesaksiannya dengan alasan diatas,” kata Chandra Ramadhani saat memeriksa saksi, Kamis .(20/5).

Kasus yang diregister PN Cikarang Nomor 285/Pid.B/2020/PN Ckr terdakwa Abdul Wahid dan rekan serta 286/Pid.B/2020/PN Ckr terdakwa Irfan Firmansyah dan rekan disidangkan bersamaan.

Satu saksi yang tersisa Roy Kamaludin, dalam kesaksian di depan majelus hakim membeberkan adanya dana sebesar Rp 600 juta mengalir ke saksi pelapor, Gunawan alias Kiwil.

Menurut Roy, perjanjian damai dengan Kiwil, yang memunculkan uang, karena ada permintaan dari Kiwil sebagai pihak kedua. Teknis penyerahan, dua kali, Rp 410 juta dan sisanya Rp 190 juta. Tempat penyerahan di rumah keluarga terdakwa Abdul Wahid, Rusnadi.

“Pemberian uang sebagaimana tertera dalam kwitansi adalah bentuk terima kasih. Pada saat itu, saya masih menantu pak kades makanya ikut terlibat menyelesaikan. Sekarang saya sudah bercerai dengan anak pak kades,” tutur Roy.

Lanjut dia, terdakwa Wahid dan rekan bermasalah dengan hukum karena pemalsuan surat atas lahan pemakaman keluarga Kiwil di Kampung Serang. “Penyerahan pertama diterima Kiwil yang kedua diterima Ananta,” lanjut Roy.

Sementara, pengacara terdakwa Taufik Hidayat mengakui kesalahan atas perbuatan kliennya, telah melakukan tindak pidana sebagaimana yang disangkakan penyidik. Karena itu, pihaknya akan profesional dalam menyelesaikan kasus tersebut.

“Walau tiga saksi ditolak majelis hakim, saksi Roy cukup memberikan keterangan yang sebenarnya. Itu adalah saksi kunci. Dalam melakukan pembelaan, kami tidak akan menggunakan kacamata kuda. Artinya, kalau memang klien kami salah akan kami katakan salah. Dengan keterangan saksi, kami akan berupaya agar klien kami dihukum seringan-ringannya,” tandasnya. (soeft)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *