Aktivitas Terhambat, Warga Minta Pemdes Sukajaya Segera Selesaikan Masalah

Bogor Raya, Headline1.2K views

BOGORONLINE.com, Tamansari – Permasalahan lahan yang berlokasi di wilayah Desa Sukajaya terus menggelinding bak bola Salju. Hal tersebut terjadi lantaran tidak adanya ketegasan dari Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Sukajaya kepada mereka yang mengaku pemilik lahan tersebt. Bahkan diduga, pihak Pemdes terkesan memihak kepada mereka yang mengaku memiliki lahan tersebut, bukan kepada warga yang menamakan dirinya Kelompok Tani Hutan Wisata (KTHW) Lembaga Masyarakat Desa Hutan Gunung Salak (LMDHGS).

Kejadian dipicu saat Warga RT 005 RW 006 Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor hendak melakukan perapihan akses jalan warga yang rencananya untuk pembuatan lokasi Wisata Edukasi Budaya Sunda Awi Tali Kuta Galuh, pada Jum’at (17/12).

Diduga, orang yang mengaku pemilik lahan menurunkan Sekelompok Preman untuk menghentikan kegiatan yang dilakukan oleh warga dan sampai saat ini, Orang-orang suruhan tersebut pun, masih ada hingga saat ini.

Selain itu, salah seorang yang mengaku pemilik lahan lainnya, pernah melakukan tindakan intimidasi yang disertai penamparan dan melemparkan petasan kepada warga yang pada saat itu sedang beraktivitas.

Merespon kejadian tersebut, Warga langsung melakukan pelaporan kepada pihak terkait, dalam hal ini Pemerintah Desa dan pihak Kepolisian Sektor Tamansari. Kepala Desa Sukajaya Hayatuzein saat ditemui warga pada Senin (26/12) menyampaikan, akan segera menyelesaikan masalah, dengan berkordinasi dengan Pihak Kecamatan Tamansari lalu merapihkan akses jalan warga yang sekarang ditutup oleh salah seorang yang mengaku pemilik lahan, sehingga Warga maupun masyarakat umum yang hendak beraktivitas (Jalan pagi menikmati suasana alam, Bersepeda dan Motorcross) disana tidak bisa melewati jalan, karena terhalang Pintu Besi setinggi 2 meter.

“Saya minta waktu dua hari untuk menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya.

Selang dua hari usai warga melakukan pelaporan, warga kembali mendatangi kantor Desa Sukajaya, untuk mempertanyakan hasil dari dua hari waktu yang diminta pak Kades untuk segera menyelesaikan masalah yang terjadi. Namun sangat disayangkan, pada saat ditemui, Kades tersebut hanya menemui warga sebentar, lalu meminta izin hendak ke Toilet, setelah itu, tidak ada kabar kembali dan akhirnya, warga yang hadir di Kantor Desa, ditemui oleh Sekretaris Desa, Fajrin.

Fajrin mengatakan, secara Kronologi, pak Kades menjelaskan ke saya, ujar beliau, itu sudah ditangani oleh Muspika Tamansari, maka dari itu, Pak Kades belum bisa menentukan. Jadi kalau nanti ada apa-apa harus konfirmasi dulu.

“Waktu itu saat kita pertama kali bertemu bersama, Pak Kades bilang mau Konsultasi ke pihak Kecamatan, dan itu sudah dijalankan, itu bentuknya Konsultasi saja, bukan rapat. Kebetulan pak Kades konsultasi nya waktu Survei ke Kali Mati, ada Kapolsek juga. Kapolsek menyebut, itu sudah ditangani Muspika dan jika terjadi sesuatu nanti, harap Konfirmasi terlebih dahulu, bukan berarti kepala Desa tidak bertanggung jawab dengan adanya kerugian oleh orang luar kepada masyarakat dan jika nanti ada sesuatu terkait perizinan dan lain-lain, harap konfirmasi dan konsultasi kembali ke Muspika,” kata Fajrin menjelaskan, Kamis (30/12/2021) siang di Kantor Desa Sukajaya.

Ditempat yang sama, Ketua KTHW dan LMDHGS Mardhi Hidayatul Fauzan menegaskan, Kepala Desa maupun Muspika Tamansari sudah mengetahui kegiatan yang dilakukan KTHW dan warga, hanya saja yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa Pak Kades ber statment di Media, bahwa Cut and Fill ditempat saya tidak berizin dan kenapa kegiatan warga yang benar-benar asli warga Sukajaya saja yang dihentikan, sedangkan orang dari pihak yang mengaku pemilik lahan di diamkan saja oleh Pemerintah.

“Saya datang kesini hari ini minta kejelasan dan keadilan. Ini pak Kades nya malah pergi entah kemana. Padahal sebelumnya sudah bertemu, tapi hanya sebentar, lalu pak Kades minta izin sebentar hendak ke kamar kecil. Setelah beberapa lama kami menunggu, dia tidak datang kembali, malah dilanjutkan oleh pak Sekdes, kalo seperti itu kan, masalah jadi mentah kembali, saya harus menjelaskan kembali dari awal dan saya sudah dirugikan baik waktu maupun materi,” ungkap Mardhi.

Fajrin menambahkan, untuk musyawarah setelah ini saya akan kesana, tapi kalau saya harus menjamin orang mereka tidak ada berada disana, saya tidak bisa, karena mereka bukan orang suruhan saya. Tapi saya akan coba melakukan komunikasi dengan pihak yang menyuruhnya juga.

“Intinya, kita juga akan melakukan penegasan kepada mereka melalui Kecamatan ataupun Polsek Tamansari. Ketika kita sudah sampaikan, kembali lagi ke mereka, mudah-mudahan mereka juga dapat memahaminya,” ujarnya.

Mardhi melanjutkan, lahan ini sudah di REDIS pada tahun 2020 lalu dan sudah diketahui Gugus Tugas Reformasi Agraria (GTRA)

“Lahan ini sudah di REDIS pada tahun 2020 lalu, bahkan saya menjadi salah seorang yang diberikan Surat Tugas Oleh Kades. Surat tugas ini pun resmi, karena dibubuhi tandatangan dan Cap Basah Desah Sukajaya. Saya lahir disini, saya juga besar disini, saya juga jadi heran, kenapa bisa ada orang luar yang mengaku-ngaku memiliki lahan disini, padahal sejak dahulu orang tua saya yang menggarap nya, dilanjutkan oleh saya, saya tidak pernah merasa memperjualbelikan lahan tersebut,” kata Mardhi menutup. (RB)

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *