Mengintip Usaha Madu Pak Lebah

BOGORONLINE.com – Usaha peternakan lebah madu menjadi babak baru Eureka Indra Zatnika semejak memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan sembilan tahun lalu. Tahun 2013, Alumni IPB University angkatan 2002 ini awal melakoni beternak lebah sengat apis mellifera.

Dalam perjalanan usahanya, Eureka juga mengembangkan untuk berternak jenis lebah penghasil madu tanpa sengat, yakni trigona laeviceps dan trigaona itama di peternakan Madu Pak Lebah, Desa Sukawening, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

“Mulai usaha budidaya lebah madu itu tahun 2013, tepatnya bulan September. Awalnya lebah apis mellifera 25 kotak. Lalu saya kembangkan lagi hingga saat ini ada ratusan kotak lebah trigona laeviceps dan trigaona itama,” ujarnya.

Bagi Eureka, membudidayakan lebah madu memang bukan merupakan hal baru, sehingga tidak cukup kesulitan saat merintis usahanya. Ia sudah punya bekal ilmu di tempat kerjanya dulu. Bahkan dirinya mengaku sudah sering disengat lebah waktu itu.

“Yang terpenting untuk budidaya apis mellifera, vegetasi pakannya harus bagus. Kemudian teknik pembuatan ratunya, perawatannya dan pengendalian hamanya. Jadi, ada beberapa hal yang harus dipahami dalam berternak lebah yang menyengat,” katanya.

Berbeda dengan apis mellifera, terang dia, untuk lebah trigona baik laeviceps maupun itama tidak terlalu sulit dalam proses pembuatan ratu. Namun yang terpenting untuk lebah jenis ini tempat peternakan terlindung dari sinar matahari dan hujan.

Di peternakan Madu Pak Lebah, kata Eureka, sumber pakan lebah yang sering digunakan, seperti tanaman kapuk randu, rambutan, kelengkeng, sono keling dan karet. Selain itu, lebah juga sering menghisap nektar bunga air mata pengantin dan porana yang tersedia di area peternakan.

Untuk masa panen sendiri, lanjut pria berusia 38 tahun itu, apis mellifera bisa tiga kali dalam sebulan saat musim bunga. Sekali panen dapat menghasilkan 3 kilogram madu setiap kotak atau stup lebah.

Sedangkan madu lebah trigona dapat dipanen sebulan sekali, namun jumlah produksinya tidak banyak. Kata dia, untuk mendapatkan satu liter madu trigona laeviceps sedikitnya harus memeras 25 kotak. Sementara lebah trigona itama per lock dapat memproduksi 250 gram madu.

Ia mengatakan, produk Madu Pak Lebah sudah menjangkau hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Baik itu melalui penjualan langsung, online, pameran dan sejumlah instansi pemerintahan. “Ya, kalau bicara pendapatan ada yah.”

Ia juga mengaku selama masa pendemi Covid-19 cukup kebanjiran pesanan hingga penjualan meningkat signifikan. Penjualan setiap bulan rata-rata bisa mencapai 3.500 botol dari sebelum pendemi dikisaran 1.500 botol.

“Di kita ada kemasan 150 gram, 360 gram, 880 gram dan 5 kilo dengan harga dari kisaran Rp35.000 sampai Rp160.000. Varian yang saat ini tersedia madu kelengkeng, madu rambutan, madu kapuk randu dan madu hutan. Terbarunya madu super paduan madu, royal jelly dan polen,” tandasnya.

Tak hanya menjual madu murni, pemilik Eureka Farm ini menyediakan bibit lebah yang dibudidayakan sendiri. Termasuk ia membuka kerjasama untuk pelatihan dan jasa pembersihan lebah serta wisata edukasi lebah.

Menurut Eureka, sejauh ini peluang usaha peternakan lebah madu masih terbuka lebar. Ia mengambil contoh untuk di wilayah Bogor yang secara kebutuhan madu itu baru terpenuhi 60 persen.

“Peluangnya masih tinggi apalagi kemarin saat pandemi. Suplai madu itu masih kurang 40 persen. Dan Bogor itu dari pemeran-pemeran di setiap kota, nomor dua konsumsi madu terbanyak setelah Jakarta,” pungkasnya. (Hrs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *