BOGORONLINE.com, PARUNG PANJANG – Seorang pria mengalami kejang kejang saat mengantri hendak mengambil bantuan langsung tunai (BLT) BBM yang berlokasi di kantor Desa Parung Panjang Kecamatan Parung Panjang, Jumat (16/9).
Dari hasil pemeriksaan di Puskesmas korban bernama Cecep Supriana (50) merupakan warga Perumnas Parung Panjang blok Jambu RT 02/06 Desa Parung Panjang Kecamatan Parung Panjang Kabupaten Bogor, diduga memiliki riwat penyakit Paru-Paru.
“Jadi awalnya warga sedang mengantri pengambilan bantuan langsung tunai di kantor Desa, dan korban sempat sesak nafas sampai kejang yang akhirnya dievakuasi dirujuk puskesmas untuk dilakukan penanganan,”kata Kaur Kesra Desa Parung Panjang Sandi Rukmana.
Sandi menjelaskan usai diperiksa korban meninggal dunia di puskesmas dan bukan sedang mengantri karena memiliki riwayat paru-paru.
“Memang sebelum berobat korban sempat mampir mau mengambil bansos dulu,” jelasnya.
Dia menambahkan untuk mekanisme pembagian seharusnya dibagi karena jumlah keluarga penerima manfaat (KPM) sangat banyak dan desa hanya menjadi fasilitator saja karena teknisnya ada di pos giro.
“Sebelum penyaluran kami sudah informasikan agar penyaluran dibagi karena jumlah KPM sekitar 2300 warga tapi ternyata tidak bisa dan harus dilaksanakan dalam satu hari,” tambahnya.
Senada dikatakan Kapolsek Parung Panjang Suminto membenarkan adanya warga yang meninggal tapi bukan saat mengantri pengambilan bansos.
“Benar ada warga yang meninggal dunia tapi bukan saat mengantri, tapi korbam sempat lemas dan dihantar ke puskesmas serta ditangani tapi selang beberapa menit meninggal dunia dan penyebabnya mempunyai asma,” jelasnya.
Sementara Camat Parungpanjang Icang Aliudin menuturkan benar ada warga Parungpanjang meninggal dunia setelah mengambil BLT BBM.
“Korban sesak napas dan sempat dibawa ke Puskesmas tapi tidak tertolong,” kata Icang.
Icang menjelaskan warga Kecamatan Parungpanjang yang mendapatkan BLT BBM itu sekitar 13 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar di 11 desa.
“Seharunya mekanisme pembagian dibagikan dua gelombang untuk mengantisipasi kejadian serupa agar tidak terulang lagi,” katanya. (Mul)





