Menguji Intelektualitas Calon Pemimpin

Headline, Sosok228 views

Intelektualitas atau kecerdasan merupakan mutu kecendekiaan, kepandaian atau kepintaran seseorang yang ditujukan untuk menyatakan kebenaran yang bermaslahat bagi banyak orang atau masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kecendekiaan, kepandaian, kebenaran, dan kemaslahatan menjadi intisari atau saripati intelektualitas (wikipedia)
Karena pemimpin itu berfungsi mempengaruhi, mengarahkan dan mengendalikan yang dipimpinnya. Maka, seorang pemimpin itu layaknya seperti seseorang yang menaiki pohon atau dinding yang tinggi untuk melihat segala sesuatu diseberang realitasnya untuk kemudian turun menunjukan dan memberi tahu kepada yang dipimpinya tentang tujuan yang hendak diraihnya dan tentang apa saja yang berada disekitarnya. Dengan demikian, seorang pemimpin itu harus memiliki ide, gagasan dan pemikiran yang tinggi dan besar. Sebuah ide, pemikiran dan gagasan yang melahirkan tujuan, jalan dan arah sebagai bentuk pertangggungjawaban intelektual tentang “mau dibawa kemana rakyat yang dipimpinnya?”
Dari mana ide, pemikiran dan gagasan itu harus lahir? Ada yang lahir melalui fenomenologi kehidupan. Ide ini hanya bisa menjawab kebutuhan, masalah dan tantangan kini dan disini untuk jangka waktu yang terbatas. Ada pula ide, gagasan dan pemikiran yang turun dari langit. Sebuah gagasan yang luas bukan hanya menjangkau kebutuhan. masalah dan tantangan kekinian dan kedisinian namun sebuah ide, gagasan dan pemikiran yang bisa menjawab kebutuhan, masalah dan tantangan kemasadatangan yang jauh mendepan.
Calon pemimpin sering kali dijebak oleh kebutuhan pragmatis masyarakat, hingga ide, gagasan dan pemikirannya hanya untuk menjawab kebutuhan, masalah dan tantangan kini dan disini yang dihadapi masyarakat. Celakanya, calon pemimpin yang ada tidak memiliki apa apa kecuali apa yang ada dikantongnya. Calon pimpinan yang tanpa ide, pemikiran, dan gagasan yang tinggi, besar, luas dan kuat tidak layak untuk dijadikan nakhoda, jika tidak ingin bangsa-negara ini tenggelam kedalam jurang kehinaan dan kesengsaraan
Ide, pemikiran dan gagasan yang membentuk visi itu tidak hanya melangit dan menyemesta, namun bagaimana ia menubuh dengan dirinya sendiri. Internalisasi dan kristalisasi visi itu hanya akan terbentuk melalui pengalaman yang dilaluinya selama ini. Pengalaman itulah yang kemudian akan memberi tahu pada kita apakah visi itu dimiliki olehnya atau ia hanya dikenakan untuk menutupi kelamahan dan kekurangan dirinya.

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *