Mendidik Anak Tanpa Menjadi “The Killer”

Headline, Sosok2.1K views

R. Muhammad Hasan
Kepala SMPIT Asy – syifa Qolbu

 

 

Apakah kita masih menggunakan cara lama? mendidik anak dengan cara kekerasan?sepertinya kita harus merubah pola dan gaya mendidik kita selama ini yang cenderung offensive dan otoritatif. Anak membutuhkan alasan mengapa kita memerintajh dan melarang sesuatu daripada hanya sekedar berkata “Ayo lakukan itu!, Jangan lakukan itu!; Dan Tidak boleh lakukan itu”, semua larangan memerlukan alasan logis yang dapat diterima oleh akal sehat anak. Jika kita hanya melarang, mengancam atau menghukum anak Ketika melakukan kesalahan, hal ini hanya akan memperparah keadaan. Larangan sebaiknya disertai dengan pemahaman atau wawasan logis dengan segala konsekuensinya.
Mendidik anak tidak dapat dilakukan dalam waktu sekejap, mendidik syarat dengan pembelajaran untuk membentuk manusia seutuhnya baik secara fisik maupun psikis. Mendidik dan mengajar tidak hanya mentrasnfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik tetapi juga bertumpu pada proses pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Keseringan kita bersikap keras dalam mendidik anak (marah, membentak, tidak sabar, kurang perhatian, dsb.) cepat atau lambat akan menginfeksi karakter peserta didik yang tentunya berdampak pada proses kegiatan belajar mengajar jika hal ini telah melekat pada diri dan menjadi rutuinitas, maka kita telah kehilangan jiwa dalam mendidik anak sehingga akan timbul suatu rutinitas pembelajaran yang tak bermakna.
“ The Killer” sebuah ungkpan yang sering menyisakan trauma bagi kehidupan anak di bangku sekolah. Sejak dulu hingga sekarang istilah “killer” belum pernah sirna dari mata peserta didik, sebuah konotasi yang menyeramkan dan cenderung membuat jantung peserta didik berdetak lebih cepat jika berhadapan dengan sosok ini. Sosok seperti ini hanya akan meninggalkan rapor merah bagi kehidupan peserta didik dan menguburkan nama seorang guru dalam-dalam hingga menjadi sosok yang tak ingin diingat dan tak ingin dikenang. Lalu apa yang menyebabkan guru berperilaku “killer”? berdasarkan hasil penelitian setidaknya ada beberapa penyebab kenapa guru menjadi “killer” yakni karena tekanan hidup dan sifat asli guru tersebut.
Lalu bagaimana caranya menghilangkan karakter negative ini? tentu saja melalui Latihan terus menerus dan tak mengenal Lelah. Guru harus membuat komitmen pada dirinya sendiri bahwa ia melakukan ini semua semata-mata demi mendekatkan diri pada Tuhan, dengan begitu ikhlas dan sabar akan tumbuh pada diri seorang guru. Selain itu, guru harus mengajar karena panggilan hatinya yang tulus bukan karena pelarian, karena gagal mencapai tujuan atau tidak ada pilihan lain, ia harus mencintai profesinya dengan sepenuh hati. Guru harus bertindak sebagai orang tua dan teman bagi peserta didiknya yaitu dengan cara memberikan ruang menjadi teman curhat yang bisa dipercaya, yang menumbuhkan oase di padang gurun bagi kehidupan peserta didik sehingga ia tersadar bahwa selain orang tua ia pun menemukan tempat yang layak untuk berteduh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *