BOGORONLINE.com – Festival Merah Putih (FMP) 2026 Kota Bogor mengawali rangkaian kegiatannya dengan program wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan tempat sosial. Program tersebut ditandai dengan penanaman pohon alpukat secara simbolis di Masjid Agung Kota Bogor.
Ketua Panitia FMP 2026 Kota Bogor, Syahril M. Said, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya FMP menghadirkan kegiatan yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Hari ini kita mulai adalah seremonial tanam alpukat di seluruh Kota Bogor. Jadi programnya adalah wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan tempat sosial,” kata Syahril, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, alpukat dipilih karena karakter iklim dan ketinggian wilayah Kota Bogor dinilai sesuai untuk pengembangan tanaman tersebut.
“Kenapa harus kami lakukan alpukat? Karena Kota Bogor dari iklim dan ketinggian lahan sangat ideal dengan jenis tanaman tersebut,” ujarnya.
Syahril menyebut, pemilihan tanaman alpukat juga telah didukung pengalaman penanaman di sejumlah lokasi di Kota Bogor. Bahkan, terdapat pohon alpukat yang telah berusia puluhan tahun dan mampu menghasilkan buah dalam jumlah besar.
“Hal ini sudah kami buktikan di beberapa tempat di Kota Bogor. Umur pohon 67 tahun bisa menghasilkan 500 kilogram,” katanya.
Program wakaf pohon tersebut menjadi salah satu langkah awal FMP pada tahun ke-11 untuk menciptakan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh rumah ibadah dan lingkungan sosial di Kota Bogor.
“Ini adalah awal kerjaan FMP di tahun ke-11 ini untuk membuat suatu monumen di rumah-rumah ibadah se-Kota Bogor,” tutur Syahril.
Ia berharap program serupa dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Namun, jenis tanaman yang dikembangkan nantinya perlu disesuaikan dengan kondisi agroklimat masing-masing daerah.
“Kami berharap daerah-daerah lain mengikuti program yang kami lakukan. Daerah lain belum tentu cocok dengan alpukat, tapi melihat agroklimat daerah masing-masing,” jelasnya.
Syahril menjelaskan, penanaman tidak dilakukan serentak di seluruh rumah ibadah pada hari yang sama. Penanaman perdana dilakukan secara simbolis, sedangkan pelaksanaan berikutnya berlangsung secara bertahap hingga 31 Agustus 2026.
“Hari ini kita tidak tanam serentak. Hari ini kita hanya hantam satu rumah ibadah sebagai seremonial di Masjid Agung Kota Bogor,” katanya.
Rumah ibadah maupun tempat sosial yang berminat mengikuti program tersebut dapat mendaftarkan diri kepada panitia FMP 2026. Tim kemudian akan melakukan survei untuk memastikan lokasi memenuhi persyaratan teknis.
“Kami datangi untuk teknisnya. Apakah tempat tersebut memungkinkan atau tidak. Karena pada saat ini kami tidak sekadar ngasih pohon, tapi kami menanam melihat di sekitar tempat tersebut apakah teknisnya cocok,” ujar Syahril.
Jika kondisi lokasi tidak memungkinkan, panitia akan menyarankan tempat lain yang lebih sesuai.
“Karena kita bukan hanya memberi pohon dan menanam, tapi memperkirakan pohon ini suatu saat akan menghasilkan sesuai yang kita prediksikan,” tambahnya.
Syahril menyebut terdapat lebih dari 900 rumah ibadah di Kota Bogor. Untuk tahap awal, FMP 2026 menargetkan sekitar 30 persen dari jumlah tersebut dapat menjadi lokasi program wakaf pohon alpukat.
“Target kami pada tahun ini mungkin 30 persen,” ungkapnya.
Program tersebut tidak berhenti pada penanaman. Panitia FMP juga berencana melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan pohon secara berkala. Rumah ibadah yang mampu merawat dan mengembangkan tanaman dengan baik akan mendapatkan penghargaan.
“Langkah awal pertama FMP dalam memberdayakan rumah ibadah ini setiap tahun akan kami lakukan dan setiap tahun hal ini akan kami pantau. Siapa yang bagus itu akan kami berikan reward kepada mereka,” katanya.
Syahril menegaskan, hasil dari pohon alpukat yang ditanam di lingkungan rumah ibadah nantinya akan menjadi manfaat bagi rumah ibadah tersebut.
“Setelah kita tanam, misal di rumah ibadah, hasilnya akan disumbangkan ke rumah ibadah tersebut,” jelasnya.
Menurut dia, program ini dirancang bukan sekadar memberikan bantuan berupa bibit atau pohon, tetapi juga mendorong rumah ibadah memiliki sumber pemberdayaan ekonomi dalam jangka panjang.
“Kami hanya memberi informasi, memberi gambaran bahwa alpukat ini akan membangkitkan ekonomi di tempat-tempat yang kita akan tanam. Jadi tidak kami ambil,” tegasnya.
Panitia juga menyatakan siap membantu apabila terdapat kendala dalam perawatan, termasuk kebutuhan pupuk.
“Kalau ada masalah, kalau ada kekurangan pupuk, kami akan suplai,” ujarnya.
Untuk program tahun ini, jenis alpukat yang dipilih adalah alpukat Mickey. Syahril mengatakan varietas tersebut dinilai sesuai dengan karakter wilayah Kota Bogor dan memiliki nilai ekonomi yang cukup baik.
“Untuk tahun ini di Kota Bogor yang paling sesuai adalah jenis alpukat Mickey,” katanya.
Ia menyebut alpukat Mickey berasal dari Depok dan telah dikembangkan selama puluhan tahun. Berdasarkan pengalaman panitia, varietas tersebut memiliki rasa buah serta nilai jual yang menjanjikan.
“Sudah kita melihat seluruh Indonesia ini cocok dengan karakter Indonesia dan rasa buahnya juga paling baik. Rasa buah dan harga itu paling bagus di Indonesia,” ungkapnya.
Syahril mencontohkan harga alpukat di tingkat supermarket yang dapat mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram. Sementara di tingkat petani, ia memperkirakan harga berada di kisaran setengahnya.
Dengan produktivitas yang dapat mencapai ratusan kilogram per pohon, tanaman alpukat dinilai memiliki potensi ekonomi bagi rumah ibadah.
“Artinya satu pohon itu bisa menghasilkan mungkin 200 sampai 300 kilogram. Kita hitung Rp30.000 sekilo, jadi bisa sekitar Rp6 jutaan,” jelasnya.
Dari sisi perawatan, pohon alpukat relatif mudah dikembangkan. Syahril mengatakan pemupukan dapat dilakukan secara berkala, terutama pada lokasi rumah ibadah yang tidak memiliki petugas khusus untuk merawat tanaman setiap hari.
“Cara merawat pohon alpukat setiap bulan ditabur pupuk saja. Tidak usah tiap bulan? Tapi kalau di rumah tangga boleh tiap hari, kalau di tempat ibadah karena tidak ada kami tiap minggu, tiap bulan kami berikan pupuk,” katanya.
Ia menjelaskan, pupuk organik dapat diberikan secara rutin dengan cara ditaburkan di sekitar tanaman tanpa perlu menggali tanah.
“Misalnya ada pupuk organik. Pupuk organik setiap bulan sekali. Jadi ditabur saja, enggak usah digali-gali. Simpel akhirnya,” ujarnya.
Syahril mengatakan pohon alpukat mulai berbuah ketika memasuki usia sekitar dua tahun. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki panitia, satu pohon berusia dua tahun dapat menghasilkan puluhan kilogram buah.
“Jadi mulai berbuah umur dua tahun. Kami punya pengalaman dua tahun dihasilkan sampai 50 kilo,” katanya.
Masyarakat yang ingin melihat contoh tanaman alpukat hasil program tersebut dapat mendatangi Masjid Al Kautsar di kawasan Perumahan Cipaku. Menurut Syahril, lokasi tersebut menjadi salah satu contoh pohon alpukat yang telah berusia dua tahun, sementara contoh lainnya telah berusia enam tahun.
“Silakan lihat. Sudah ada contoh yang dua tahun, sudah ada contoh yang enam tahun,” ungkapnya.
Syahril menegaskan, program wakaf pohon alpukat FMP 2026 merupakan bentuk pemberdayaan yang diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi rumah ibadah.
“Ini adalah hibah kami ke rumah ibadah. Daripada rumah ibadah terus mencari sumbangan, kami hibahkan tongkatnya, kami hibahkan pancingnya supaya rumah ibadah itu bisa memberdayakan dengan baik,” pungkasnya.




