Lewat Operet Sekolah Tangguh, Siswa Belajar Cara Menyelamatkan Diri dari Bencana

BOGORONLINE.com – Bagaimana jika belajar menghadapi bencana dilakukan sambil bernyanyi, menari, dan bermain drama? Cara itulah yang dilakukan siswa-siswi dari sembilan sekolah di Kota Bogor melalui pertunjukan operet drama musikal bertajuk Sekolah Tangguh di Auditorium Perpustakaan Kota Bogor, Jumat (30/10/2026).

Melalui pertunjukan tersebut, anak-anak diajak mengenali tanda-tanda terjadinya gempa bumi sekaligus memahami langkah yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.

Operet ini menjadi bagian dari rangkaian program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digagas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor. Kegiatan tersebut sekaligus menandai pengukuhan 20 satuan pendidikan sebagai Sekolah Aman Bencana tahun 2026.

Sutradara operet dari Bunga Bintang Studio, Yayah Uyah, mengatakan pertunjukan Sekolah Tangguh dirancang sebagai sarana edukasi kebencanaan dengan pendekatan yang menyenangkan agar pesan keselamatan lebih mudah dipahami anak-anak.

Alur cerita menggambarkan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga kepala sekolah dalam menghadapi ancaman gempa bumi.

“Alur dibuat supaya penonton mengenal tanda-tanda terjadinya gempa dan tahu hal apa yang harus dilakukan untuk proses penyelamatan,” ungkap Yayah.

Menurutnya, meskipun membawa pesan serius tentang mitigasi bencana, pertunjukan dikemas secara sederhana dengan memadukan lagu, musik, tarian, dan adegan komedi sehingga tidak terkesan kaku.

Penampilan para siswa SD dengan tarian yang menggemaskan dipadukan dengan kemampuan siswa SMP memerankan berbagai karakter dalam suasana sekolah. Cerita juga semakin menarik dengan kehadiran sejumlah tokoh unik, seperti abang ojek online, pedagang cilok, petugas Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga ibu guru.

Pada bagian akhir pertunjukan, petugas BPBD bersama maskot Si Ruta (Rusa Tangguh) hadir sebagai simbol penyelamatan dan kepedulian terhadap keselamatan lingkungan.

Yayah mengaku bangga dengan penampilan para siswa yang mampu membawakan setiap adegan secara maksimal, meskipun waktu persiapan terbilang singkat. Pasalnya, para pemain hanya menjalani tujuh kali pertemuan latihan selama satu bulan hingga hari pementasan.

Sembilan sekolah yang terlibat dalam pertunjukan tersebut yakni SDN Polisi 1, SDN Bubulak 1, SDN Panaragan 2, SDN Ciluar 2, SDN Sindang Barang 3, SDN Kebon Pedes 3, SDN Tanah Sareal 4, SMP Taruna Andigha, dan SMPN 12 Kota Bogor.

“Selain menjadi hiburan edukatif, pementasan operet tersebut merupakan bagian dari upaya BPBD Kota Bogor menanamkan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana sejak usia dini melalui program SPAB,” kata Yayah.

Pada 2026, program tersebut berhasil diterapkan di 20 sekolah, terdiri atas 18 Sekolah Dasar (SD) dan dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jumlah tersebut jauh melampaui target awal Rencana Kerja (Renja) BPBD Kota Bogor yang hanya menetapkan tiga sekolah.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan.

“Kami bersyukur program SPAB di tahun 2026 ini bisa direalisasikan secara masif di 20 sekolah, jauh melampaui target awal Renja. Ini membuktikan tingginya kesadaran serta kolaborasi lintas sektor di Kota Bogor. Melalui pembentukan tim siaga, penyusunan jalur evakuasi, hingga edukasi kreatif lewat operet, kami ingin memastikan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar teori, melainkan keterampilan hidup yang melekat pada anak-anak kita sejak dini,” ujar Dimas.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspemkesra) Setdakot Bogor, Eko Prabowo, mengapresiasi pelaksanaan program SPAB yang melibatkan Dinas Pendidikan, BPBD, para fasilitator, dan seluruh pemangku kepentingan.

Ia menjelaskan, 20 sekolah yang dikukuhkan telah melalui sejumlah tahapan penilaian, mulai dari pengkajian risiko bencana, penyusunan jalur evakuasi, pembentukan tim siaga, penyediaan fasilitas keselamatan seperti APAR dan kotak P3K, hingga pelaksanaan simulasi tanggap darurat.

Menurut Eko, kesiapsiagaan bencana perlu menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah, mengingat Kota Bogor memiliki potensi ancaman bencana seperti cuaca ekstrem, tanah longsor, dan banjir.

“Melalui pengukuhan 20 Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) hari ini, kita ingin meletakkan sebuah fondasi yang kuat. Kita berharap SPAB tidak berhenti sekadar pada seremonial pengukuhan atau dokumen administratif di atas kertas, melainkan menjelma menjadi sebuah Legacy (warisan jangka panjang). SPAB harus hidup dan bertransformasi menjadi budaya sadar bencana yang mengakar di hati setiap warga sekolah dan menular kepada seluruh warga Kota Bogor,” ungkap Eko.

Keberadaan program SPAB diharapkan membuat siswa, guru, dan tenaga kependidikan lebih siap menghadapi situasi darurat. Mereka dibekali pengetahuan mengenai cara menyelamatkan diri, mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul aman, serta memahami langkah yang harus dilakukan sebelum bantuan petugas datang.

BPBD Kota Bogor juga mendorong sekolah agar terus melakukan simulasi evakuasi, merawat fasilitas keselamatan, serta memasukkan materi pengurangan risiko bencana ke dalam kegiatan belajar mengajar maupun ekstrakurikuler.

Dimas melanjutkan, keberlanjutan program akan dikawal melalui monitoring dan evaluasi menggunakan aplikasi inaRISK. Pihak sekolah juga didorong mengalokasikan kebutuhan pemeliharaan sarana prasarana dan edukasi kebencanaan secara berkala melalui Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).

“SPAB tidak boleh berhenti sampai di sini. Kami akan terus mengawal monitoring dan evaluasi melalui aplikasi inaRISK agar seluruh sekolah terdaftar resmi di Kementerian. Kami juga mendorong pihak sekolah agar pemeliharaan sarana prasarana dan edukasi berkala dapat dimasukkan ke dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), demi menjaga rantai ketahanan ini terus berputar,” tegas Dimas.

Melalui pendekatan edukasi yang kreatif seperti operet, diharapkan anak-anak tidak hanya memahami bahaya bencana, tetapi juga mengetahui tindakan yang tepat untuk melindungi diri dan membantu orang-orang di sekitarnya.

Sebab, kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu ditanamkan sejak dini agar tercipta generasi yang lebih tangguh, waspada, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana.

Kenali ancamannya, kurangi risikonya, dan siap untuk selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *