Ketika cahaya (spiritualisme) dalam jiwa sudah redup dan bahkan padam, ketika akal-pikiran tidak bisa lagi diandalkan untuk memahami keadaan. Kita hanya bisa diam dan menggerutu. Dengan cara apalagi kita memahami keadaan? Ketika cahaya itu padam dan akal-pikiran buntu, maka yang akan keluar merengil kemudian membesar dan menggurita adalah naluri yang licik, culas, dan serakah kemudian mencengkam realitas.
Realitas kini dan disini akhirnya diisi oleh meraka yang tuna-spiritual dan tuna akal-pikiran yang membuat orang – orang waras mengalami gangguan jiwa, mereka tidak memiliki kemampuan lagi untuk berfikir dan merasa. Nyali untuk menolak dan meniadakan para bedebah hilang dibawa arus keputusasaan. Apatis, skeptis dan bahkan prustasi kini menggelayut-rayud mengurangi energi dan melemahkan vitalitas untuk masuk mengisi rahim realitas yang sudah mengalami monopouse.
Hanya kekuatan adikodrati yang bisa merubah keadaan seperti ini. Berhenti dan diam untuk kemudian menepi kepinggir sejarah menjadi pilihan yang sulit dihindari. Inilah hiperrealitas. sebuah keadaan yang tidak bisa ditolak, karena sudah tidak bisa lagi dijelaskan oleh siapapun dan dengan cara serta alat apapun namun kita harus mengunyah dan menelan racun kehidupan yang akan meruntuhkan moral, mencabik – cabik nilai, menodai etika yang akhirnya melumpuhkan keasadaran.





