Reshuffle Jokowi, Kembalinya Neoliberalisme

bogorOnline.com
Disadur dari salah satu media online nasional, Konsep Nawa Cita atau sembilan agenda utama Joko Widodo-Jusuf Kalla tergerus dan bakal lenyap digantikan neoliberalisme dengan barisan para menteri Darmin Nasution (Centurygate), Sri Mulyani (Centurygate), dan Bambang Brodjonegoro, yang kesemuanya ‘abdi dalem’ neoliberalisme sekaligus penunggang bebas (free raiders) di Kabinet Kerja.

Para analis politik menilai merekalah para oportunis politik akibat Jokowi sendiri yang meninggalkan Trisakti dan Nawa Cita PDI Perjuangan.

“Inilah kembalinya neoliberalisme di istana Jokowi,” kata Direktur Freedom Foundation sekaligus dan alumnus Fisip-UI, Darmawan Sinayangsah, Jakarta.

Para analis menilai Jokowi tidak efektif selama ada pihak-pihak berpaham neoliberalisme dalam menjalankan roda pemerintahan setelah reshuffle. Neoliberalisme jelas menggilas Nawa Cita dan Trisakti.

“Mau jadi apa Kabinet Kerja yang neoliberal, namun berslogan Nawa Cita dan Trisakti ini?” kata analis politik Ray Rangkuti.

Salah satu program Nawa Cita yang mengagendakan Indonesia mandiri dan berdaulat di sektor ekonomi dan politik dianggap bertentangan dengan paham neoliberal.

Tokoh-tokoh yang berpandangan neoliberalisme disusupkan di pos kementerian yang penting. Kondisi ini berlangsung sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Ray menuturkan, pendukung neoliberalisme dapat diketahui dari pola kerjanya. Ada beberapa cara yang dilakukan pendukung neoliberalisme dalam menjalankan agendanya. Yang pertama, pendukung neoliberalisme sering mengambil keputusan diam-diam, yang dianggap merugikan negara. Kedua, proses pengambilan kebijakan yang tidak diketahui publik.

“Dalam hal ini, tiga kasus yang mencolok, Freeport, kereta cepat, dan proyek energy 35 Ribu MW,” ujarnya.(rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *