GUNUNGPUTRI-
Maraknya kabar terkait tawuran Pelajar Di Bumi Tegar Beriman saat ini hingga menyebabkan korban jiwa berjatuhan membuat Bakal calon legislatif (Bacaleg) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor Rizki Permana No 7, dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Daerah Pemilihan (Dapil) 2. Merasa tergugah guna memberikan kritik sekaligus solusi bagi kemajuan dunia pendidikan di Kabupaten Bogor.
Rizki mengatakan, wajah Pendidikan yang sedang dilanda perkelahian sesama pelajar saat ini sama saja seperti Pendidikan yang terjajah oleh
Djahiliah Modern, hingga nampak pula kerusakan moral (budi pekerti). Bukan hanya terjadi di kota-kota besar melaikan sudah menjalar sampai desa yang seharusnya, meraka menjadi kaum terpelajar. Ditambah Siswa dan Siswi tak ada lagi batas dalam pergaulan hidupnya, yang sudah mempengaruhi alam pikiran pada kesesatan.
“Benih-benih kekerasan telah menjadi
pergaulan hidup yang modern. Sehingga merusak budi pekerti dan rohaniah, membuat hilang kendali didalam jiwa untuk dapat menahan hawa nafsunya. Itulah yang dikatakan Djahiliah modern menurut Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (H.O.S Cokroaminoto),” tegas Rizki saat dihubungi bogorOnline.com Rabu (19/9/18).
Rizki menambahkan, dengan melihat kondisi diatasi maka dirinyapun coba memberikan beberapa solusi alternative yang mungkin dapat berguana untuk mengurangi tawuran antar pelajar tersebut. Diantaranya para Siswa wajib diajarkan dan memahami bahwa semua permasalahan tidak akan selesai jika penyelesaiannya dengan menggunakan kekerasan. Lakukan komunikasi dan pendekatan secara khusus kepada para pelajar untuk mengajarkan cinta kasih. Pengajaran ilmu beladiri yang mempunyai prinsip penggunaan untuk menyelamatkan orang dan bukan untuk menyakiti orang lain.
Ajarkan ilmu sosial budaya yang sangat bermanfaat untuk pelajar khususnya, agar tidak salah menempatkan diri di lingkungan. Sedangkan bagi para orang tua, mulailah belajar jadi sahabat anak-anaknya. Jangan jadi pPolisi, Hakim atau orang asing dimata anak. Hal ini sangat penting untuk memasuki dunia mereka dan mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan atau rasakan. Sehingga ketika ada masalah dalam kehidupan mereka, orang tua bisa segera ikut menyelesaikan dengan bijak dan dewasa.
Masih Rizki memaparkan, untuk para Polisi dan aparat keamanan, jangan segan dan aneh untuk dekat dengan para pelajar secara profesional, khususnya yang bermasalah-bermasalah. Lebih baik tidak menggunakan acara-acara formal dalam pendekatan ini, melainkan masuk dengan cara santai dan rileks. Upama ketika para pelajar ini cangkrukkan atau kumpul-kumpul, ikutlah kumpul dengan mereka secara kekeluargaan.
“Sehingga mereka akan merasa ada kepedulian dari negara atas masalah mereka,” tambahnya.(rul)





