by

SELAMAT ZAMAN BARU 2019

Tahun 2019 bukan hanya sekedar pergantian kalender dalam penanggalan masehi. Tahun yang dalam astrologi Tionghoa akan memasuki  shio babi tanah ini, juga menjadi penanda dimulainya zaman baru. Revolusi industri 4.0 yang pada tahun-tahun kemarin menjadi materi forum diskusi diberbagai belahan dunia nampaknya akan semakin nyata pada kehidupan sehari-hari.

Menristekdikti RI, Mohammad Nasir berpandangan,  revolusi industri 4.0 membawa berbagai perubahan bagi kehidupan masyarakat, yang dicerminkan dalam sistem siber, dan kemajuan teknologi informasi. Namun, penggunaan teknologi informasi yang tidak baik, dapat mendistorsi kehidupan masyarakat.

Revolusi industri 4.0 atau ada juga yang menyebut dengan istilah Revolusi digital, secara umum menggambarkan peralihan teknologi jilid ke empat, dimana teknologi internet menjadi infrastruktur utamanya. Tentunya, menjadi sebuah keniscayaan revolusi   berdampak pada berbagai bidang, interaksi sosial, kesempatan dan lapangan kerja, dan bahkan kebudayaan anak manusia.

Perkembangan teknologi internet yang melampaui “ramalan” penciptanya telah merubah tatanan interaksi manusia terhadap manusia, dan manusia terhadap teknologi itu sendiri. Sehingga belakangan muncul istilah “internet of thinks”.

Istilah yang begitu intelek tersebut, pada  praktik realitanya sangat dekat sekali dengan kehidupan bahkan keseharian kita. Mungkin lebih dekat dari hal yang kita kira paling dekat, suami, istri, anak  atau pacar kita misalnya.

Berapa banyak orangtua yang dewasa ini, harus mengantri jadwal psikolog untuk meminta advice dan tips mengatasi anaknya yang kehilangan semangat belajar karena keranjingan game online. Kita juga sering mendengar hubungan sepasang kekasih terganggu karena  cowoknya main game mobile legends terus-terusan, hingga ceweknya mengatakan “mas pilih aku atau ML?”. Juga tidak sedikit suami yang dipusingin istrinya yang lebih sibuk membalas chat group whatsapp di telepon pintarnya, dan demikian sebaliknya. Hal ini menggambarkan betapa dahsyatnya perubahan yang dihadirkan teknologi internet  yang pada akhirnya saling meniadakan.

Dalam interaksi yang lebih luas, teknologi internet juga menggeser cara orang mendapatkan pengetahuan. Muncul istilah “mbah google”maha guru virtual yang dianggap tahu segalanya. Ada ungkapan “googling saja,” sebagai penanda pertanyaan tidak bisa dijawab oleh orang yang ditanya.

Terhadap kemajuan teknologi informasi ini, seorang lulusan sarjana era 80an pernah mengatakan, “andai saja, kemajuan internet sekarang terjadi di zaman saya kuliah, mungkin skripsi dan karya tulis saya lebih baik dari yang saya buat waktu itu,”.

Tetapi, belakangan ia meralat pengandaiannya itu. Ia malah berbalik banyak bersyukur dengan kehidupan pada zamannya. Menurut dia, karena sulitnya akses informasi waktu itu, justru membuatnya rajin silaturahmi ke rumah dosen dan guru. Dan karena kesulitan itu, ia menjadi rajin berkunjung dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, dan bahkan memesan satu-dua buku dari negeri yang jauh diseberang sana. “Saya lebih berjuang dan menghargai ilmu pengetahuan,” demikian ia membanggakan dirinya.

Rasa syukurnya akan masa lalu bukan tanpa sebab. Ia menilai, kemudahan yang dijanjikan teknologi justru meniadakan hal-hal yang sangat penting, antara lain adab kesopanan. Ketiadaan interaksi fisik antara guru dan murid, dalam pandangannya, menjadikan sebagian kita lupa bahwa akhlak lebih tinggi daripada ilmu. Tidak sedikit, “murid” mbah google ini menjelma menjadi sosok kaku yang merasa paling tahu. Karenanya, tidak jarang kita melihat orang yang baru merujuk satu atau dua sumber yang di copy-paste dari laman internet, berani mendebat orang yang sejatinya lebih tahu dari dirinya. Kata-kata kasar, caci maki dan hinaan menjadi buah dari hilangnya adab keilmuan, yang mestinya melekat pada diri sang pencari.

Meskipun kita telah lebih banyak merasakan dampak negatif dari perkembangan teknologi digital, bukan berarti kita harus menimpa kesalahan pada teknologi itu sendiri. Atau kita menyesal hidup di zaman ini, dan berharap kembali ke masa lalu yang sangat jauh.

Tahun 2019, mestinya menjadi tahun penyadaran bagi kita yang hidup di era digital ini. Selain hal negatif yang membuat kita prihatin, revolusi digital pada realitanya berdampak cukup signifikan dalam menunjang segala lini kehidupan manusia. Kita mesti punya alasan untuk membangun optimisme dalam melanjutkan kehidupan. Tentunya dengan terus membekali diri dengan berbagai pengetahuan yang dibutuhkan zaman.

Para ilmuwan meramal ketika manusia dan teknologi dapat disatukan melalui sebuah komunikasi, maka akan terjadi bentuk timbal balik antar keduanya. Manusia semakin dimudahkan dalam mengatasi permasalahan ataupun mencari sesuatu yang diinginkan. Untuk itu dicetuskanlah teknologi yang terkenal dengan istilah Artificial Intelligence(AI) atau kecerdasan buatan.

Kehadiran AI ini, merubah cara-cara konvensional menjadi serba digital. Karenanya, sejumlah bidang pekerjaan manusia tergantikan oleh mesin. Transaksi tol tidak lagi bisa diajak bercanda untuk sekedar menyapa “Mba Xon-ce nya mana?”, juga demikian para pemilik lapak toko di supermarket yang kalah bersaing dengan toko online. Bahkan konon para ahli meramal, pekerjaan jurnalis terancam digantikan mesin dengan istilah “jurnalis robot”. Namun, disisi lain semakin luasnya media sosial, malah justru menguntungkan bagi jurnalis untuk menjadi “solo jurnalis”. Banyak yang meraup keuntungan materi dari mempublikasikan karyanya di media sosial. Pada dasarnya, tidak ada lapangan kerja yang hilang, semuanya hanya bergeser menyesuaikan kehidupan zamannya.

Sementara sebagian kita terpuruk dan menyesali kejamnya zaman, sebagian lain yang jumlahnya semakin banyak hidup asyik di zaman ini. Mereka merasa teknologi digital ini semakin memudahkan komunikasi antar sesama. Jarak tidak lagi menjadi alasan untuk menjalin relasi yang cukup baik dengan rekan dan kolega. Manusia juga semakin dimudahkan dalam melakukan transaksi keuangan. Dengan adanya teknologi fintech, banyak perusahaan telah bertransformasi dari bisnis konvensional menjadi bisnis berbasis teknologi atau biasa dikenal dengan sebutan StartUp.

Di Indonesia, Go-jek, bukalapak dan sejumlah startup lainnya, telah memulai dengan baik. Para artis dadakan yang rajin memproduksi dan memposting Vlog, juga  meraup banyak untung dari teknologi ini.  Lalu kita bagaimana? Selamat Zaman Baru 2019.

 

SAEFUL RAMADHAN

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed